03 Mei 2020

Puteri Komarudin Minta Momentum Penguatan Rupiah Harus Terus Dijaga

Berita Golkar - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau tampak menguat sepanjang pekan ini. Melihat perkembangan ini, Anggota Komisi XI DPR Puteri Anetta Komarudin meminta agar momentum penguatan kurs rupiah terus dijaga hingga bergerak ke arah fundamentalnya.

Sebelumnya, kurs rupiah mengalami tekanan seiring merebaknya pandemi covid-19 yang memicu kepanikan investor, sehingga mendorong capital outflows dan pengetatan dolar AS (USD) di pasar global. Selama ini, pergerakan nilai rupiah cenderung undervalue.

"Padahal pada kuartal pertama, defisit transaksi perdagangan masih lebih rendah dibandingkan perkiraan yaitu 1,5 persen dari 2,5 hingga 3 persen terhadap PDB. Namun, saat ini kurs rupiah terus menguat ke arah fundamental value yang disebabkan perbedaan yield yang cukup tinggi baik dalam maupun luar negeri, sehingga memicu inflows,” ujar Puteri dikutip dpr.go.id, Sabtu, 2 Mei 2020.

Baca Juga: Puteri Komarudin Ingatkan Pemerintah Hati-Hati Tarik Pajak Ekonomi Digital

Puteri menilai penguatan kurs rupiah tidak terlepas dari peran pemerintah maupun otoritas terkait seperti Bank Indonesia (BI), OJK, dan LPS dalam merumuskan operasi moneter dan fiskal.

Selama periode Januari hingga April, BI telah melakukan kebijakan quantitative easing (QE) atau pelonggaran makroprudensial dengan injeksi likuiditas perbankan sebesar Rp386 triliun. Selain itu, BI juga akan kembali melakukan QE sebesar Rp117,8 triliun pada awal bulan ini.

Perlu diperhatikan, kebijakan QE berbeda dengan mencetak uang. QE merupakan kaidah kebijakan moneter yang dilakukan apabila kondisi likuiditas perbankan berkurang, sehingga diperlukan penambahan likuiditas. Penambahan dilakukan melalui penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), term repo perbankan, serta pembelian SBN di pasar sekunder.

Baca Juga: Misbakhun Heran BI Masih Pakai Protokol Pasar Untuk Hadapi Krisis Ekonomi Saat Pandemi Corona

Sementara, istilah mencetak uang adalah ketika bank sentral menambah uang yang beredar namun tidak dapat diserap. Misalnya ketika bank sentral mengedarkan uang dengan membeli surat utang pemerintah yang tidak tradable dan suku bunganya mendekati nol persen, sehingga dapat menimbulkan inflasi yang signifikan.

“Saya mengapresiasi intervensi BI melalui kebijakan QE dengan total mencapai Rp503,8 triliun untuk mengurangi ketatnya USD di pasar, sehingga dapat membantu stabilisasi nilai tukar rupiah. Namun, operasi moneter ini juga harus didukung dengan kebijakan fiskal oleh pemerintah, maupun kebijakan sektor keuangan dari OJK dan LPS."

"Untuk itu, masing-masing entitas harus memiliki kesepahaman yang sama atas kebijakan pelonggaran tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan terus memperkuat bauran kebijakan dalam rangka stabilisasi nilai tukar dan pemulihan ekonomi,” ujarnya.

Baca Juga: Hadapi Virus Corona, Dyah Roro Esti Dorong Pengembangan Alkes Produksi Dalam Negeri

Beberapa hari lalu, pemerintah telah mengumumkan paket stimulus fiskal untuk perlindungan dan pemulihan ekonomi bagi sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terdampak covid-19. Kebijakan tersebut di antaranya terdiri atas insentif pajak, relaksasi dan restrukturisasi kredit, hingga perluasan pembiayaan modal kerja.

“Jika intervensi BI adalah dengan mendukung likuiditas perbankan, maka peran pemerintah adalah melalui pelonggaran aspek fiskal yang bertujuan untuk menggerakkan sektor riil. Stimulus fiskal ini diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi investor untuk mulai berinvestasi ke pasar domestik sehingga kembali memicu capital inflows,” ucap Politikus Golkar itu.

Mengutip Bloomberg, Sabtu, 2 Mei 2020, nilai tukar rupiah pada awal pekan ini atau pada Senin, 27 April, terpantau berada di posisi Rp15.385. Sedangkan pada hari berikutnya atau pada Selasa, 28 April 2020, terlihat tertekan ke level Rp15.445 per USD.

Baca Juga: Nyaman Bersama Golkar, Risman Pasigai Sebut Dukungan Untuk Danny Pomanto Tak Bergeser

Meski demikian, pada Rabu, 29 April, nilai tukar rupiah sukses menggilas mata uang Paman Sam dan berada di level Rp15.295 per USD. Kemudian pada Kamis, 30 April, nilai tukar rupiah kembali berhasil meredam keperkasaan dolar AS dan berada di level Rp14.882 per USD. Sedangkan pada Jumat, perdagangan diliburkan karena May Day.

Di sisi lain, kurs dolar Amerika Serikat menguat tipis pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), di tengah kekhawatiran baru atas ketidakpastian yang timbul dari pandemi covid-19. Meski demikian, sejumlah pihak di dunia terus berupaya menemukan obat atau vaksin guna mengatasi virus mematikan tersebut. {www.medcom.id}

fokus berita : #Puteri Komarudin