10 Mei 2020

Berita Golkar - Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan tantangan kepada Duta Besar RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya. Refly Harun meminta kepada Tantowi Yahya untuk memilih dari tiga pilihan tokoh, yakni Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto, Presiden Jokowi dan mantan Dirut TVRI Helmy Yahya yang juga merupakan saudara kandungnya.

Dilansir TribunWow.com dalam tayangan Youtube Refly Harun, Sabtu (9/5/2020), tanpa berpikir panjang, Tantowi menjatuhkan pilihan kepada Presiden Jokowi. Menurutnya, pemilihannya kepada Jokowi bukan karena berkaitan dengan diplomatik.

Bukan karena dirinya sekarang berada di sisi pemerintahan sebagai Duta Besar. Tantowi mulanya menjelaskan bahwa jabatannya sebagai duta besar bukan murni bagian dari pemerintah, tetapi cabang yang berada di luar negeri. "Jujur ya, saya pilih Presiden Jokowi, bukan karena diplomat," ujar Tantowi.

Baca Juga: Oka Mahendra Jati Kusuma Pimpin Golkar Probolinggo Bagikan Ribuan APD Untuk Tenaga Medis

"Saya adalah cabang dari pemerintahan, jadi saya itu adalah petugas yang diberikan amanah untuk menjalankan pemerintahan Indonesia di luar negeri. Karena politik luar negeri yang saya jalankan adalah manifestasi dari politik dalam negeri," sambungnya.

Menurut Tantowi, apa yang dilakukan di luar negeri tugasnya tidak berbeda dengan Presiden Jokowi, yakni memberi manfaat untuk rakyat. "Jadi persis sama dengan Presiden Jokowi, apapun yang dia lakukan dan dia pikirkan harus bermanfaatkan sebanyak-banyaknya untuk rakyat Indonesia," kata Tantowi.

Sementara itu, Tantowi menjelaskan alasan kenapa dirinya tidak lantas memilih Airlangga Hartarto yang notabene merupakan ketua umumnya di Partai Golkar. Dirinya menjelaskan bahwa semua kader partai yang mengabdi untuk negara maka tidak selamanya terikat dengan partai pengusungnya. Meski begitu, semua orang, bahkan Presiden juga sudah tentu tau dari mana asal partainya.

Baca Juga: Trifena M Tinal Minta Pro Kontra Substansi RUU Cipta Kerja Dibahas Dengan Kepala Dingin

"Kenapa saya tidak memilih Pak Airlangga Hartarto yang notabene merupakan ketua umum partai saya, sederhana jawabannya, siapapun dia kader partai politik manapun ketika dia sudah mengabdi kepada negara lewat struktur pemerintahan," ujarnya.

"Maka dia itu istilahnya sudah dihibahkan oleh partai politik, sudah diwakafkan partai politiknya kepada pemerintah. Namun demikian, rakyat apalagi presiden tahu dari mana saya berasal dan itu akan termanyfestasi dari saya bersikap dari saya memandang segala sesuatu akan kelihatan warna partainya," imbuhnya.

Lebih lanjut, Tantowi juga mempunyai alasan tersendiri mengapa dirinya tidak memilih saudara kandungnya, Helmy Yahya. Menurutnya, dalam urusan pekerjaanya saat ini, mantan anggota DPR itu mengaku di luar pekerjaannya.

Baca Juga: Bamsoet Ingatkan Menhub Budi Karya Sumadi Jangan Bikin Kebijakan Yang Membingungkan 

"Karena ideologi partai itu inhepren ke setiap kadernya, kalau Helmy, dia saudara saya, tetapi dalam konteks pekerjaan ini enggak ada hubungannya sama saya," pungkasnya.

Refly Harun Sindir Pemerintah dan Buzzer

Sebelumnya, pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun memberikan sindiran kepada pemerintahan, termasuk kepada para buzzernya. Dilansir TribunWow.com, Refly Harun menilai pemerintah saat ini sibuk menyiapkan buzzer untuk melindungi dari kritik yang diberikan oleh publik.

Menurut Refly Harun, kondisi seperti itu justru membahayakan sistem negara yang bersifat demokrasi. Hal ini disampakannya dalam tayangan Youtube pribadi Refly Harun, Minggu (10/5/2020). "Tapi yang paling berbahaya adalah kritik kita dibungkam, baik melalui aparatur negara, agen-agen resmi maupun melalui perantara buzzer. Jadi peran para buzzer dan fans klub," imbuhnya.

Baca Juga: 4 Nama Ini Muncul Jadi Kandidat Ketua Golkar Kota Bekasi

Bahkan kejadian yang berhubungan dengan buzzer pernah dirasakan sendiri oleh Refly Harun. Menurut Refly Harun serangan dari buzzer tersebut terjadi setelah menuliskan cuitan di akun Twitter pribadinya. Cuitan tersebut dinilai buzzer sebagai kritik kepada pemerintah.

Dalam cuitan dirinya hanya membenarkan bahwa tugas dari para intelek adalah mengkritik pemerintah. Dan sebaliknya, jika mereka mengkritik orang yang memberikan kritik maka dia bukanlah intelektual melainkan hanyalah buzzer.

"Saya pernah nge-tweet baru-baru ini, padahal tweet-nya biasa aja 'Seorang intelektual itu adalah orang yang mengkritik pemerintah. Kalau dia mengkritik pengkritik pemerintah namanya buzzer atau fans klub'. Wah rupanya diserang habis-habisan saya sama para buzzer dan fans klub," imbuhnya.

Baca Juga: Tuti Ruhani Bagikan 7000 Masker Produksi Penjahit Lokal Untuk 9 Desa di Kecamatan Purwakarta

Lebih lanjut, Refly Harun mengaku kaget lantaran buzzer ternyata ada orang yang cerdas, yang seharusnya justru memberikan kritik kepada pemerintah. Kritik dari buzzer tersebut tidak hanya membahas soal bunyi kritik yang ditulis, namun sampai mengulas sisi kehidupan pribadi Refly Harun.

"Dan celakanya buzzer dan fans klub itu bukan orang biasa, orang intelek juga. Bahkan membuat artikel panjang tentang saya dan saya tidak balas, saya biarkan saja. Menggugat soal sekolah lah, soal apalah, macam-macam dan lain sebagainya," sambungnya.

Dirinya pun mengaku sempat ingin membalas argumen dari buzzer intelek tersebut. Namun, ia berpikir tidak ada gunanya meladeni buzzer, selain itu juga ditakutkan justru menciptakan masalah baru. "Ini yang sebenarnya memperihatinkan, saya mau bikin tweet yang baru sebenarnya. Tapi akhirnya saya tidak bikin daripada menimbulkan polemik yang enggak karu-karuan," kata Refly Harun.

Baca Juga: Ace Hasan Minta Rizal Ramli Tak Asal Bicara Tentang Golkar dan Kartu Prakerja

Refly Harun akhirnya mengungkapkan bunyi cuitan yang akan dituliskan namun tidak jadi tersebut. Dirinya memposisikan jika sedang menjadi penguasa, maka akan membiarkan semua orang bebas untuk memberikan kritik kepadanya.

Ia mengaku tidak akan meminta buzzer untuk melindungi ataupun membalaskan kritik tersebut kepada orang yang memberikan kritik. Menurutnya, keberadaan buzzer merupakan kumpulan orang yang kurang kerjaan.

"Yaitu adalah 'Kalau saya jadi penguasa, saya akan biarkan orang mengkritik saya. Tapi saya tidak akan biarkan orang yang megatasnamakan diri saya membalas kritik atau membungkam kritik kepada para pengkritik," jelas Refly.

"'Kalau saya jadi penguasa saya tidak akan menggunakan peran para buzzer dan fans klub'. Karena buzzer dan fans klub itu kan orang kurang kerjaan," pungkasnya. {wow.tribunnews.com}

fokus berita : #Tantowi Yahya #Refly Harun


Kategori Berita Golkar Lainnya