29 Mei 2020

Berita Golkar - Adanya pandemi covid-19 mengubah tatanan masyarakat yang saat ini, beraktivitas kembali dalam masa pandemi mengharuskan beraktivitas dengan menerapkan beberapa persyaratan protokol kesehatan (New Normal).

Tidak terkecuali di dunia politik akan sama perubahan pola komunikasi akan terjadi dalam masa pandemi dan masa pasca pandemi nantinya, dalam hal ini bagaimana pesan politik disampaikan dalam dimensi yang lebih banyak secara virtual atau tidak langsung.

Ini sebenarnya menegaskan tentang bagaimana komunikasi massa dalam kaitan mengunakan media baik lelktonik dan media online serta medsos.

Baca Juga: Gde Sumarjaya Linggih Optimis Golkar Menang di Pilkada Bangli dan Karangasem

Sesuai dengan perkembangan teknologi komunikasi politik saat lebih efektif dalam menyampaikan pesan buat publik di era sekarang dengan media internet, dengan mengunakan media elektronik dan media online atau dengan mengunakan akun akun media sosial dari masing- masing elit politik.

Yang kita sebut dalam komunikasi adalah komunikator, penyampai pesan dalam hal ini penyampai pesan politik, selaku komunikatornya tokoh partai politik, presiden serta  pejabat publik lainya.

Sebelum adanya pandemi semua intensitas  menyampaikan komunikasi politik terhadap publik mengunakan media elektronik, cetak, media online dan media terbaru/media sosial sudah seperti hal biasa dilakukan.

Baca Juga: Melki Laka Lena Salurkan Bantuan Makanan Tambahan Untuk Bumil dan Balita di Lembata

 

Dalam masa pandemi saat intensitas komunikasi lebih meningkat lagi melalui internet secara virtual dengan mengunakan beberapa aplikasi vidieo conference dan pesan politik mengunakan media yang disebutkan diatas tersebut.

Sebagaimana kita ketahuai dalam komunikasi politik instrumen yang terpenting adalah adanya aktor selaku komunikator, adanya pesan/ kebijakan atau materi yang akan disampaikan kepada publik melalui media.

Contoh nyata di Amerika yang mengunakan media sosial dalam kampanyenya adalah presiden Donald Trump mengunakan twitter dalam menyampaikan pesan pesan politiknya.

Baca Juga: Profil Tantowi Yahya, Politisi Penyanyi Yang Jabat Dubes RI Untuk Selandia Baru

Dalam artikelnya Douglas Kellner yang berjudul Donald Trump dan Politik Tontonan, bahwa Trump telah menjadi master tontonan yang bisa memanfaatkan media tontonan menjadi alat untuk membincangkanya, terlepas dari peryataannya kontroversi tetapi Trump berhasil menguasaain informasi dan paradigma publik AS waktu itu.

Di Indonesia Presiden Jokowi pun mengunakan akun media sosial seperti instagram dalam menyampaikan pesan-pesan politiknya dan Jokowi pun mengunakan media selaku instrumen untuk menyampaikan pesan-pesan politiknya baik di massa kampaye perode pertama.

Dan dalam pemilihan periode kedua, dan banyak tokoh tokoh lain yang mengunakan media sosial selaku media menyampaikan pesan politik kepada publik selain media elektronik televisi.

Baca Juga: Salut Perjuangannya, Dedi Mulyadi Borong Masker Yang Dijual Penyandang Disabilitas

Kedepan akan makin banyak lagi aktor politik mengunakkan media selaku instrumen dalam komunikasi politik dengan memanfaatkan media sosial dan media online dalam menyampaikan pesan politiknya dalam investasi elektoral.

Pertanyaanya apakah efektif dalam komunikasi politik untuk menyampaikan pesan politik melalui media massa, tanpa bertemu langsung dengan publik, dalam konsep metode lasswell dalam komunikasi massa, tentu penyampaian komunikasi tentu efektif bagaimanapun pendekatan ini bisa terukur, dimana dalam komunikasi dalam metode laswell ada instruen yang utuh.

Adanya komunikator, pesan atau materi yang disampaikan, media sebagai alat untuk menyampaikan pesan, ada audiens atau publik dan  ada efek timbal balik dari pesan yang dismapikan apakah direspon atau ditolak penerimaan pesan tersebut ini kerangka evaluasi dalam komunikasi.

Baca Juga: Sebastian Salang Yakin Gagasan Besar Jokowi di Balik Kartu Prakerja

Pada intinya bahwa komunikasi politik mengunakan komunikasi massa tentu efektif merubah pola prilaku norma-norma yang terjadi dipublik, bagaimanapun dalam dunia saat ini informasi massa menjadi asupan tiap hari untuk melihat  dan memetakan apa yang disampaikan oleh pemimpin terhadap masyarakatnya,tidak bisa dibendung arus informasi akan deras terhadap publik.

Informasi apa saja saat ini bisa masuk langsung kepublik tanpa filter lagi, dengan menjamurnya aplikasi  dan menjamurnya media online yang memberitakan segala macam informasi, baik yang objektif dan informasi yang teroganisir dalam kepentingan tertentu termasuk informasi politik.

Kedepan melihat perkembangan pandemi yang tidak kurung selesai, efektifitas dalam menyampaikan pesan politik dan untuk brending politik akan lebih banyak lagi mengunakan media-media tontonan ini dengan begitu banyak aplikasi-aplikasi yang bisa digunakan oleh aktor politik untuk investasi politik kedepan.

Baca Juga: Farabi Arafiq Siap Berduet Dengan Imam Budi Hartono di Pilkada Depok 2020

Dalam mengahadapi pilkada tahun ini tentu media tontonan ini menjadi faktor utama dalam mengkampayekan sosok figur calon kepala daerah, dimana pertemuan langsung tatap muka degan pemilih dibatsi dan efektifitas sosialisasi diri lebih dominan mengunakan media-media tontonan ini ( media elektonik, media online, media cetak dan media sosial).

Siapa yang lebih kreatif dan bisa mengunakan media-media ini dengan baik mereka yang akan mendapat efek baik dari proses sosisalisasi diri, di perlukan kreativitas konten yang menyentuh kebutuhan pemilih, dan siapa calon yang bisa memetakan lebih awal calon pemilihan sebelum melakukan sosialisasi dialah yang mendapat respon electoral yang bagus.

Deni Yusup, Mahasiswa Pogram Doktor Ilmu Komunikasi {www.indonesiana.id}

fokus berita : #Deni Yusup


Kategori Berita Golkar Lainnya