08 Juni 2020

Zulfikar Arse Sadikin Sebut Sistem Tertutup Lebih Kompatibel Dengan Keputusan MK Terkait Pemilu

Berita Golkar - Anggota Komisi II DPR RI Fraksi Golkar Zulfikar Arse Sadikin menjelaskan alasan partainya mengusulkan Pemilu dengan sistem tertutup atau pemilih hanya coblos lambang partai tertentu. Menurutnya, hal tersebut lebih kompatibel dengan keputusan Mahkamah Konstitusi terkait penyelenggaraan Pemilu secara serentak.

“Lebih mudah bagi pemilih karena surat suara cuma satu, surat suara paslon Pilpres lalu di bawahnya partai yang dukung. Jumlah paslon berapa, tergantung jumlah partai yang dukung berapa lalu orang itu sekali liat itu ya nyoblos paslon lalu nyoblos partai. Biasanya kan Presiden nyoblos partainya sama,” kata Zulfikar saat dihubungi, Senin (8/6).

Baca Juga: Di Peringkat Tiga, Indikator Sebut Elektabilitas Partai Golkar Turun Jadi 6,4 Persen

1. Sistem Pemilu tertutup meminimalisir terjadi cross cutting suara

Dengan sistem tertutup ini, Golkar juga menilai calon kepala daerah yang diusung akan mendapatkan efek ekor jas yang signifikan. Karena menurut Zulfikar, salah satu yang ingin dicapai dalam keserentakan Pemilu adalah pemenang eksekutif sama dengan pemenang legislatif.

“Sehingga eksekutif dapat dukungan legislatif itu didapat dari pengaruh efek ekor jas. Kalau saya pilih A maka saya pilih partai yang usung A. Itu akan lebih signifikan dampaknya karena milih partai, kalau pilih orang terbuka maka akan terjadi cross cutting,” ujarnya.

“Misalnya bisa jadi saya lebih kenal dengan caleg di partai B padahal partai B gak dukung capres yang saya kehendaki. Bisa terjadi ‘cross cuting’ kalau terbuka gitu. Kalau tertutup, insyaallah pemilih itu makin diarahkan nyoblos presiden dan nyoblos partai yang usung presiden tersebut,” sambung Zulfikar.

Baca Juga: Silaturahmi Politik Balon Bupati Bandung, Deding Ishak Disambut Hangat Pengurus PDIP Jawa Barat

2. Jika Pemilu terbuka, Golkar minta terbuka penuh

Pemilu tertutup juga dinilai lebin efisien karena tidak dengan surat suara yang berlembar-lembar yang berpengaruh pada biaya. Mengenai tiga opsi yang berkembang dalam pembahasan RUU Pemilu, Golkar meminta jika Pemilu terbuka maka diselenggarakan terbuka penuh.

“Golkar punya tiga opsi. Kalau mau terbuka ya terbuka penuh, pemberian suara hanya mengenal, kalau kategorikal dan ordinal. Kategorikal yang selama ini kita praktikkan, itu milih partai atau milih orang."

"Nah kita itu pilih orang ya pilih partai juga gak tahu pemberian suara model apa. Kita maunya kalau terbuka ya benar-benar pilih orang, susun secara alfabet, kalau gak mau ya tertutup karena kompatibel dengan keserentakan Pemilu,” ujar Zulfikar.

Baca Juga: Silaturahmi Politik Balon Bupati Bandung, Deding Ishak Disambut Hangat Pengurus PDIP Jawa Barat

3. PDIP dan Golkar usul Pemilu tertutup

Sebelumnya, sistem Pemilu menjadi salah satu poin yang masih dibahas untuk Pemilu DPR atau DPRD. Per 6 Juni 2020, hanya PDI Perjuangan dan Golkar yang ingin Pemilu tertutup atau sistem memilih nama atau lambang partai politik tertentu.

“Memang ada dua alternatif yang sedang dibahas yaitu sistem terbuka dan ada beberapa fraksi yang ingin tertutup. Yang ingin tertutup yaitu PDIP, itu sudah jelas ini tertutup. Kedua ada Golkar, tapi masih ada ruang untuk varian lain,” ujar Wakil Ketua Komisi ll Saan Mustopa saat dihubungi, Senin (8/6). {www.idntimes.com}

fokus berita : #Zulfikar Arse Sadikin