14 Juni 2020

Kasus Corona Terus Naik, Bamsoet Minta Aparat Tegas Tindak Warga Tak Patuh Protokol Kesehatan

Berita Golkar - Ketua MPR Bambang Soesatyo mengkritisi banyaknya kenaikan angka positif corona sepekan terakhir yang sudah mencapai rata-rata kenaikan 1.000 kasus per hari.

Dia mengingatkan maraknya pelanggaran protokol kesehatan saat PSBB jadi preseden buruk. Dia meminta tak bolah ada pembiaran terhadap masyarakat yang tak patuh menerapkan protokol COVID-19.

"Saya prihatin dengan besarnya laju pertambahan jumlah pasien COVID-19 dalam beberapa hari terakhir. Laju peningkatan jumlah pasien yang cukup signifikan itu terjadi karena pembiaran atas ketidakpatuhan sekelompok warga pada protokol kesehatan," kata Bamsoet, Minggu (14/6).

Baca Juga: Gandeng BKKBN Jawa Barat, Dewi Asmara Sosialisasi Keluarga Berencana Pada Warga Sukabumi

Waketum DPP Golkar itu melihat, data dan kecenderungan pertambahan pasien COVID-19, menjadi bukti belum efektifnya peran aparatur pemerintah daerah (Pemda) mengawasi dan mengendalikan kepatuhan warga menjalankan protokol kesehatan sepanjang periode penerapan PSBB.

Ketidakpatuhan pada protokol kesehatan, menurut Bamsoet, terlihat nyata sejak sebelum hari raya, terutama di banyak pasar tradisional maupun di gerbong kereta rel listrik (commuter line).

"Kerumunan penjual-pembeli di pasar tradisional dan kepadatan penumpang di gerbong KRL rentan penyebaran COVID-19. Data Tim Komunikasi Gugus Tugas percepatan Penanganan COVID-19 menyebutkan bahwa lebih dari 400 pedagang di 93 pasar tradisional reaktif covid-19," katanya.

Baca Juga: Bamsoet Sebut Suarakan Keadilan Tak Sama Dengan Makar Atau Tindakan Kriminal

Bamsoet mengingatkan, sebelum dan selama penerapan new normal, aparatur semua pemerintah daerah untuk makin peduli dan tegas dalam mengendalikan pergerakan atau mobilitas warga di ruang publik.

"Tidak boleh lagi ada pembiaran atas pelanggaran protokol kesehatan, karena risikonya sangat besar," sambungnya.

Lebih lanjut, Bamsoet meminta semua pihak belajar dari pengalaman buruk Kota Beijing, China, yang menerapkan lockdown kembali karena adanya klaster baru COVID-19.

Baca Juga: Didukung Ketua AMPI Sulut, Jilly Gabriella Eman Makin Optimis Tatap Pilwako Tomohon

"Klaster baru COVID-19 muncul karena ulah segelintir orang yang tidak mematuhi protokol kesehatan. Ketika klaster baru COVID-19 itu harus direpons dengan PSBB lagi, ada jutaan warga yang dirugikan," tuturnya.

"Mari kita belajar dari akibat maraknya pelangaraan protokol kesehatan sebelum hari raya. Dalam beberapa hari terakhir, laju peningkatan jumlah pasien cukup signifikan. Kecenderungan seperti itu tidak boleh terjadi pada periode penerapan pola hidup baru," tandas Bamsoet. {kumparan.com}

fokus berita : #Bambang Soesatyo #Bamsoet