21 Juni 2020

Berita Golkar - Muda, obsesif, cerdas dan cermat. Kerap disapa Anisto. Nama panjangnya Yohanis Manibuy. Pria 38 tahun itulah yang memimpin DPD Partai Golkar Kabupaten Teluk Bintuni. Politisi muda dengan talenta politik yang kuat, dan selalu membuat perhitungan yang matang dalam berpolitik.

Latar belakangnya pengusaha. Namun sisi lain kehidupannya sebagai politisi juga berjalan secara normal. Ia bisa memisahkan antara politik dan bisnis yang mengalir bersama dirinya. Masing-masing berjalan pada koridor yang professional. Bahkan sesekali Ia membuatnya menjadi hal yang saling melengkapi satu sama lainnya.

Ia murah hati dan selalu peka, membuat rumahnya selalu ramai dikunjungi konstituen, atau orang-orang yang sekedar datang mengobrol. Tak sedikit mereka datang dengan masalah. Mulai dari perkara besar, hingga hal remeh-temeh. Anisto yang ramah tetap meladeni mereka dengan tutur yang sangat halus. Berdiskusi hingga menemukan solusi. Bahkan tak jarang menciptakan solusi.

Suaranya selalu lembut. Banyak orang merasa teduh jika bercakap dengannya. Terlebih lagi, Ia selalu terdiam dahulu sebelum bicara. Menunjukan kesan bahwa, Ia selalu berpikir sebelum menyampaikan sesuatu. Lisan pun selalu apa adanya dan terukur.

Dalam helat politik di Teluk Bintuni, Ia tak pernah ketinggalan. Sejak tahun 2015 silam Anisto sudah tampil Pilkada Teluk Bintuni. Mendampingi Daniel Asmorom. Posisinya sebagai calon Wakil Bupati di negeri berjuluk Sisar Matiti (Kali Kabur) kala itu. Partai pengusung utamanya adalah Partai Golkar, yang saat ini dipimpinnya.

Hasil pemilihan terbilang memuaskan. Pasangan Daniel Asmorom–Yohanis Manibuy menang dalam hasil vote. Namun proses politik tidak hanya berhenti sampai disitu. Kandidat lain mengejar kemenangan hingga ke jalur sengketa hukum Pilkada di Mahkamah Kontitusi (MK) Republik Indonesia. Endingnya, pasangan Daniel–Anisto tidak bisa meyakinkan hakim MK, dan berbuntut tidak dilantik sebagai pemenang.

Pasca Pilkada 2015, kekalahan tidak membuat Anisto patah arang dalam kompetisi politik. Semangat jiwa muda, obsesi politik yang tinggi, dan menjadi tumpuan harap simpatisan, membuat Anisto bertahan dengan kokoh sebagai opisisi pemerintah periode 2016-2020.

Meski posisi berseberangan, Golkar Bintuni tetap berhasil memboyong 5 kursi DPRD saat Pemilu Legislatif 2019. Dapat dikatakan capaian impossible sebagai oposisi pemerintah daerah. Apalagi saat itu target Golkar Bintuni hanya 4 kursi.

Di momen Pemilu itu, Anisto tidak hadir sebagai calon legislatif. Melainkan menjadi sentral koordinasi, komunikasi dan konsolidasi para calon legislatif. Bahkan Anisto tak canggung membiayai belanja alat peraga kampanye dan operasional politik sejumlah calon legislatif dari Partai Golkar.

“Sebagai ketua Golkar Bintuni Saya memiliki tanggung jawab membesarkan Partai Golkar. Kemudian Saya harus perjuangkan aspirasi masyarakat yang dititipkan pada teman-teman kader Golkar yang tampil dalam Pileg. Jadi apa saja yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Selama kita sanggupi. Dan sudah begitu resiko menjadi kader,” papar Anisto.

Sebenarnya, Anisto sempat dipaksa kader-kader Partai Golkar untuk tampil menjadi calon anggota DPRD Provinsi Papua Barat pada Pileg 2019. Namun Anisto menolak. Bukan tanpa alasan, melainkan untuk fokus pada Pilkada Teluk Bintuni Tahun 2020.

Lima kursi di DPRD merupakan misi panjang partai Golkar Bintuni yang dihitung secara cermat. Setidaknya dengan modal 5 kursi di dewan, Partai Golkar tidak banyak lagi ketergantungan terhadap koalisi untuk mengusung pasangan Cabup dan Cawabup Teluk Bintuni dalam Pilkada 2020.

Kini sampailah pada tahapan Pilkada serentak cluster 2020. Anisto hadir lagi. Modal awalnya jelas 5 kursi Partai Golkar di dewan, yang memenuhi ambang batas mengusung Cabup dan Cawabup. Tidak hanya itu, Ia dan pasangan juga berhasil memboyong rekomendasi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang memiliki dua kursi dan sedang merapati Partai Perindo yang memiliki tiga kursi di dewan.

Di momen Pilkada 2020, ada hal tak biasa dilakukan Anisto, bila dibanding ambisi para politisi kebanyakan. Ia tidak tampil sebagai calon Bupati, meski memiliki kuasa atas partai yang dipimpinnya. Ia hadir sebagai calon wakil Bupati mendampingi Ali Ibrahim Bauw. Tetua yang datang dari kalangan birokrasi Teluk Bintuni. Salah satu tokoh yang sangat dihargainya dan dipanggil ‘Bapak’. Sebaliknya Ali Ibrahim Bauw memanggil Anisto dengan kata ‘Anak’. Itu panggilan lazim di wilayah Papua yang didasari atas cinta, kasih sayang, rasa saling menghargai yang tinggi, serta rasa kekeluargaan yang dalam.

“Politik itu bukan soal gagahan semata. Tetapi bagaimana berupaya menjadi abdi masyarakat yang baik. Poin terpentingnya adalah menjadi bagian dari eksekutif. Agar ide membangun, kita tuangkan secara langsung, dan kita laksanakan secara efektif. Bapak Ali Bauw itu orang cerdas. Disukai banyak orang. Mau berbuat dan memiliki gagasan membangun yang matang. Jadi bersama Bapak Ali Bauw Saya yakin, peluang menang kita lebih besar lagi,” papar pria yang selalu klaim sebagai kader Alfons Manibuy, mantan bupati Teluk Bintuni yang berhasil mengantar Teluk Bintuni merebut sejumlah prestasi nasional dan internasional.

Menurut Anisto, politik itu ritual demokrasi. Bertujuan menciptakan social engineering untuk mengantarkan masyarakat mamenuju cita-cita konstitusi. Dituang dalam visi dan misi yang mencakup segala sektor. Kemudian diramu oleh tangan partai politik, lalu ditawarkan kepada masyarakat untuk menjadi pertimbangan memilih dalam tiap momen Pemilu.

“Kalau soal pembangunan, kita harus pahami dulu prinsip dasarnya. Misal dengan melihat teori kedaulatan rakyat yang diajarkan oleh John Locke, yang juga diadopsi bangsa Indonesia. Lalu kita masuk pada fase konstitusi. Kemudian kita bicara soal aspirasi masyarakat yang ditampung oleh partai politik. Selanjutnya merancang kerangka pembangunan.”

“Tapi bicara pembangunan harus dimulai dari pribadi yang ilkas. Kita relakan dulu sebagian hidup kita untuk orang lain. Dengan begitu kita akan mengenal untuk siapa kita berbuat, dan membangun seperti apa. Kita jalankan sesuai dengan kaidah hukum yang berlaku. Tak lupa kita padukan dengan cinta dan kasih sayang, sebagaimana ajaran-ajaran agama samawi. Saya yakin itulah jalan mencapai cita-cita hidup bernegara, termasuk di Teluk Bintuni,” urainya.

Pemuda yang cerdas dan kritis terhadap persoalan publik ini berharap, partai berlogo beringin dapat kembali tumbuh subur di Kabupaten Teluk Bintuni. Sebagaimana dicontohkan oleh senior Golkar, Alfon Manibuy, ketika Golkar Bintuni menjadi partai pemenang Pilkada Bintuni 2 Periode, yang berhasil meletakan dasar pembangunan negeri Kali Kabur menuju masyarakat sejahtera.

“Partai Golkar Bintuni sudah bergelut dengan visi pembangunan yang panjang. Maka penting menyambung kembali visi yang tersendat itu, melalui momen Pilkada Teluk Bintuni 2020. Yah, dengan jalan Golkar kembali menjadi pemenang,” tutupnya.

fokus berita : #Yohanis Manibuy #Anisto


Kategori Berita Golkar Lainnya