23 Juni 2020

Partai Golkar, Benteng Pancasila Dari Komunis

Berita Golkar - Partai Golkar mempunyai akar sejarah yang cukup panjang dalam dunia politik negara Indonesia. Golkar mulanya dibentuk dengan semangat yang dilatarbelakangi upaya dalam rangka membendung pengaruh Partai Komunis Indonesia. Selain itu, juga untuk mempertahankan ideologi dari Pancasila.

Dengan tujuan serta semangat yang sama, maka Golkar bisa membendung pengaruh PKI serta berbagai macam eksponen anti komunis yang berhimpun di dalam wadah Sekretariat Bersama Golkar.
Ideologi Politik Partai Golkar.

Dibawah kepemimpinan Soeharto pada masa pemerintahan Orde Baru, Golkar berhasil menduduki peranan penting sebagai sebuah partai pemerintah. Golkar sendiri telah menjadi kekuatan politik alternatif yang mengusung ideologi modernisasi serta non sektarian.

Selanjutnya, di dalam perkembangannya, seiring dengan adanya konsolidasi politik Orde Baru, Golkar telah menjadi mesin politik yang berguna untuk mengamankan juga memperlancar agenda politik dan pembangunan di masa Orde Baru.

Saat ini Golkar telah berperan aktif di dalam dunia politik Indonesia. Salah satu peran sertanya adalah menjadi benteng Pancasila dari komunis. Bagi partai Golkar, Pancasila semestinya dijadikan sebagai panduan dan arah yang jelas dalam mencapai tujuan dari pembangunan negara ini. Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

Peran Golkar dalam Membentengi Pancasila dari Komunis
Pancasilaisme seperti eksistensi NKRI merupakan harga mati. Sebab pancasilaisme dan juga NKRI saat ini terus saja menghadapi tantangan. Golkar ini harus mengkonsolidasikan seluruh sumber kekuatan nasional untuk membentengi Pancasila. Termasuk dalam memperkokoh serta merawat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

Pancasilais merupakan takdir dari partai Golongan Karya. Oleh sebab itu, secara otomatis Golkar nasionalis. Secara logis konsekuensinya Golkar bersama dengan kekuatan nasionalis lain menunjukkan sikap tegas ketika Pancasila dan UUD 1945 telah dirongrong.

Apalagi bila kebhinekaan ingin dikoyak-koyak. Sebab lebih dari setengah abad lalu, tepatnya di tahun 1965 ketika komunisme menjadi alternatif penggusur pancasilaisme. Partai Golkar tampil sebagai garda terdepan yang selalu menjaga serta membentengi Pancasila dari komunis.

Itu artinya setiap ada kekuatan yang ingin mencoba memaksakan ideologi lain yang akan menggusur Pancasila, tantangan atau masalah itu secara langsung maupun tidak adalah panggilan sejarah untuk Golkar.

Sebab Golkar dilahirkan untuk membentengi dan memastikan tetap tegaknya Pancasila di negara Indonesia tercinta ini. Jangan lupa bahwa di dalam rentang waktu yang panjang bahkan lebih dari tiga dekade Golkar selalu berupaya untuk memastikan pancasilaisme selalu tertanam di dalam lubuk setiap putra-putri bangsa Indonesia.

Generasi terdahulu mungkin masih mengingat program yang sering dikenal dengan sebutan P4 yakni Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Atau mungkin istilah Eka Prasetya Pancakarsa. Suka maupun tidak, program P4 yang ada di masa lalu itu menjadi bukti kuatnya keterikatan partai Golkar dengan pancasilaisme.

Kekuatan Politik Partai Golongan Karya
Beban proporsional di pundak Golkar yang saat ini ditanggungnya bukanlah sebuah hal yang mengada-ngada. Namun sudah ada fakta serta alasan sejarahnya. Saat ada komunitas atau kelompok yang berniat melancarkan penghasutan atau melakukan propaganda untuk mengingkari nilai luhur yang ada di dalam Pancasila, maka sudah pasti kecenderungan tersebut harus ditanggapi sebagai sebuah panggilan sejarah bagi Golkar.

Namun sebaliknya, Golkar juga dapat berinisiatif untuk kembali berbuat sesuatu. Mereka akan bahu-membahu dengan seluruh kekuatan bangsa serta generasi milenial yang ada saat ini. Partai Golongan Karya harus ikut ambil bagian di dalam upaya untuk mengeliminasi ideologi apapun yang dinilai bertentangan dengan Pancasila. Sebab seperti yang diketahui, Pancasila artinya adalah keutuhan NKRI untuk sekarang dan selamanya.

Golkar sendiri sudah sangat berpengalaman karena telah melakoni takdirnya di dalam perang ideologi sejak paruh pertama dari dasawarsa 60-an. Kala itu, Golkar harus hadir sebagai organisasi yang menyatukan kekuatan seluruh golongan yang ada di negara ini.

Bila diibaratkan sebagai bayi, maka partai Golkar harus lahir sesar dari rahim ibu pertiwi dan usia kandungannya juga belum genap 9 bulan. Kelahirannya harus direncanakan dan juga dipaksakan. Sebab negara memerlukan tambahan kekuatan agar bisa menghalau paham komunis yang merongrong UUD 1945 dan Pancasila.

Ketika paham komunisme ingin melemahkan dasar negara yang berupa Pancasila dan UUD 1945, seluruh elemen bangsa yang berbeda-beda mengakumulasikan kekuatan bersama di dalam satu wadah yaitu Golkar. Kekuatan politik yang berada di dalam diri Golkar berevolusi menjadi front nasional yang bisa menghentikan penetrasi paham komunis yang beredar di Indonesia.

Golkar Saat Ini
Kisah singkat peran strategis Golkar di masa lalu harus dikedepankan lagi di masa sekarang ini. Tujuannya supaya semua unsur di dalam keluarga besar Golkar memahami betapa bangsa Indonesia sangat membutuhkan partai ini. Golkar menjadi salah satu partai penjaga sekaligus pengamal Pancasila dan UUD 1945. Partai Golkar terbukti bisa menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman yang ada di tubuh bangsa Indonesia.

Golkar dapat menjadi kekuatan politik tak terpisahkan dari eksistensi Indonesia. Berkat panggilan sejarah itu, takdir Golkar harus diaktualisasikan lagi karena kehendak zaman. Termasuk untuk menyatukan kembali berbagai kekuatan yang lama terserak menjadi sebuah kekuatan penuh. Termasuk dari para purnawirawan, keluarga TNI/Polri plus Satkar Ulama, serta Al-hidayah yang selama ini berjalan dengan sendiri-sendiri.

Golkar dan Generasi Milenial
Seiring dengan perkembangan zaman, muncul tuntutan bagi Golkar untuk mengubah pola pendekatan pada komunitas agar menjadi simpatisan partai politik. Salah satu strategi yang dilakukan adalah dengan merangkul seluruh golongan serta kelompok. Kelompok yang dimaksud tentunya generasi milenial.

Jika ingin melakukan pendekatan pada generasi milenial, pola pendekatannya tentu berbeda dengan yang dulu dipakai oleh perancang Sekber Golkar. Tantangannya masih sama yaitu untuk menjaga dan mengamankan Pancasila serta UUD’45, menjadi benteng Pancasila dari komunis.

Namun cara mengkomunikasikan serta merangkul generasi milenial harus disesuaikan dengan gaya hidup masa kini. Sudah saatnya bagi partai Golkar untuk rebranding agar bisa menyesuaikan diri pada tantangan zaman.

Hal ini bertujuan supaya Golkar bisa terus-menerus melakukan akselerasi serta modernisasi. Selain itu, juga agar bisa melepaskan diri dari stigma partai jadul menjadi sebuah partai masa depan yang bisa memberikan harapan dan kebanggaan untuk generasi milenial.

Sebelum dan sejak tahun politik 2019, dapat terbaca dengan jelas aspirasi generasi milenial yang ingin memiliki kekuatan nasional yang bisa menjaga serta mengamankan UUD’45, Pancasila, dan keutuhan NKRI. Dari aspirasi tersebut lahirlah #NKRI harga mati, #Pancasila harga mati. Tetapi aspirasi ini lebih sering disampaikan generasi milenial pada TNI/Polri, bukan pada partai politik termasuk Golkar.

Maka dari itu, ada peluang untuk seluruh kekuatan nasionalis seperti partai Golkar di dalam melakukan pendekatan dan mengeksplorasi kekuatan dari generasi milenial sebagai simpatisan untuk alasan kesamaan aspirasi.

Tantangan yang saat ini harus dihadapi adalah kesungguhan dalam membangun komunikasi yang intens dengan generasi milenial. Selain itu, Golkar juga harus bisa beradaptasi dengan pola hidup dari generasi milenial. Sehingga Golkar bisa benar-benar mewujudkan perannya sebagai benteng Pancasila dari komunis.

Achmad Annama Chayat, Koordinator Golkar Milenial, Founder Golkarpedia, Eks Caketum Partai Golkar

fokus berita : #Achmad Annama