27 Juni 2020

Golkar Resmi Usung Duet Sahbirin-Muhidin di Pilgub Kalsel

Berita Golkar - Tarung Pilgub Kalsel memasuki babak baru. Partai Golkar akhirnya membuka kartu perihal terkait pasangan yang disandingkan dengan incumbent Sahbirin Noor yang juga merupakan Ketua DPD I Partai Golkar Kalsel. Sesuai perkiraan sebelumnya, beringin mengajukan nama H Muhidin, mantan rival Sahbirin di Pilgub 2015 sebagai Bakal Calon Wakil Gubernur.

Informasi yang didapatkan, duet Sahbirin- Muhidin di Pilgub Kalsel diajukan Partai Golkar Kalsel ke DPP Golkar melalui surat No A-054/GOLKAR-KS/V1/2020 tentang Laporan Hasil Pelaksanaan Tahapan Seleksi Bakal Calon Kepala Daerah Partai Golkar di Pilkada 2020.

Ditetapkan pasangan Sahbirin-Muhidin ini, merupakan hasil dari seleksi dan penjaringan bakal calon Pilkada 2020 yang sebelumnya dilakukan Partai Golkar. Namun demikian Ketua Harian Golkar Supian HK belum berhasil dikonfirmasi terkait surat pengajuan rekomendasi yang dibuat per tanggal 26 Juni 2020.

Baca Juga: Jika Dipercaya Pimpin Kutim, Mahyunadi-Kinsu Optimis Tuntaskan Semua Persoalan Pembangunan

Namun merujuk pada sejumlah fakta politik yang berkembang saat ini, PAN Kalsel yang memiliki 6 kursi di DPRD akan cukup sulit mengembangkan poros baru di Pilgub Kalsel. Mengingat sejumlah parpol, telah oleh dua pasangan yang saat ini muncul yakni Sahbirin dan Denny Indrayana.

Sebelumnya memang ada harapan koalisi PAN-Gerindra, tapi sebagaimana diketahui, Gerindra bersama Demokrat sudah menjatuhkan sinyal politik ke Denny Indrayana.

Walhasil, yang memungkinkan bagi PAN adalah duduk di DA 2 untuk mendampingi Sahbirin. Apalagi sebelumnya, Muhidin juga tertarik untuk menjadi duet incumbent. “Insyaallah jika memang ada umur panjang, saya siap menjadi bakal calon Wakil Gubernur Kalsel mendampingi Sahbirin Noor pada pilkada mendatang,” kata Muhidin beberapa waktu lalu.

Baca Juga: Pengganti Rizal Mallarangeng di DPP Disarankan Dari Kalangan Muda Golkar

Muhidin sudah kepincut disandingkan dengan Gubernur Sahbirin Noor. Meski di Pilgub Kalsel tahun 2015 sempat bertarung sengit melawan pasangan Sahbirin Noor-Rudy Resnawan, Muhidin menganggap dunia politik bersifat dinamis. “Memang kemarin saya menjadi rival, tapi siap juga bila memang dijadikan wakil,” ujarnya.

Jika melihat kilas balik tarung Sahbirin vs Muhidin pada Pilgub 2015 silam, keduanya memang memiliki kekuatan yang nyaris seimbang. Dari tiga pasangan yang berlaga ketika itu, Sahbirin yang berduet dengan Rudy Resnawan unggul sebanyak 731.643 (41,07%).

Diikuti Muhidin yang berpasangan dengan Gusti Farid Hasan Aman yang meraup 719.938 suara (40,41%). Sementara Zairullah Azhar yang berpasangan dengan M Syafi’i meraih 330.070 (18,53%) suara.

Baca Juga: Tony Eka Candra Silaturahmi Dengan LSM, Ormas dan Relawan di Kantor Golkar Lamsel

Salah satu lumbung suara bagi Muhidin saat itu adalah kota Banjarmasin. Di kota berjuluk seribu sungai ini, Muhidin yang maju melalui kursi independen, unggul 77.820 suara dari Sahbirin. Ketika Sahbirin hanya mendapatkan 73.143 suara, sedangkan Muhidin meraih 150.963 suara. Bisa dibayangkan ketika dua kekuatan ini bersatu pada Pilgub 2020 nanti.

Di sisi lain, jika mempertimbangkan hasil surevi Lembaga Saiful Murjani Researc and Consulting (SMRC) pada 9 – 19 Oktober lalu, nama Muhidin menempati posisi pertama dengan persentase 11,9 persen sebagai cawagub Kalsel yang berpasangan dengan Sahbirin.

Setelah itu, ada sepuluh nama di bawah Muhidin, seperti Rudy Resnawan 7,5 persen, Rosehan Noor Bahri 7,3 persen, Mardani H Maming 6,2 persen, Aboe Bakar Alhabsy 4,7 persen, Zairullah Azhar 4,0 persen, Habib Abdurrahman Bahasyim 3,3 persen, Gusti Khairul Saleh 3,1 persen, Ibnu Sina 3,1 persen, Gusti Farid Hasan Aman 2,0 persen, dan Abdul Wahid 1,5 persen.

Baca Juga: Dyah Roro Esti Minta Konsistensi Kementerian ESDM Dalam Mencapai Target-Target RUEN

Mahar Banjarmasin

Langkah Ketua PAN Kalsel H Muhidin mendukung calon Partai Golkar di Pilkada Banjarmasin, menjadi kejutan politik di masa pandemi Covid-19. Betapa tidak, PAN yang sebelumnya santer disebut mengusung Hj Karmila—putri Muhidin, untuk calon Walikota Banjarmasin ternyata berbalik haluan mengusung Abdul Haris Makkie, kandidat yang saat ini dijagokan Golkar.

Pertanyaan tersebut mengemuka, karena angin yang tiba-tiba berubah! Dengan raihan 9 kursi di parlemen Banjarmasin, PAN menjadi satu-satunya partai yang bisa mengusung calon sendiri. Maka itu, partai berlambang matahari ini sebelumnya begitu percaya diri mengusung Hj Karmila sebagai calon walikota berdampingan dengan Nurul Fajar Desira.

Hal tersebut bahkan disampaikan sendiri oleh Muhidin ketika itu, dalam suata acara di Banjarmasin, pada Desember 2019. Ia mengatakan, PAN mengusung kadernya, Hj Karmila sebagai Bakal Calon Wali Kota Banjarmasin.

Baca Juga: Erry Iriansyah Bagikan 800 Paket Sembako Bagi Masyarakat Kubu Raya Terdampak COVID-19

Tapi, baru-baru ini Muhidin malah berbalik arah mendukung Haris Makkie yang saat ini disokong Golkar untuk maju di Pilkada Banjarmasin. “Insyaallah kami juga ikut mendukung dan gabung kepada partai yang mengusungnya,” kata Muhidin, Jumat (19/6/2020) lalu.

Menurutnya, melihat peta politik saat ini memang ada potensi partai politik (parpol) untuk berkoalisi. Hal ini tentu menambah kekuatan tersendiri terhadap sosok Haris Makkie untuk maju di Pilwali Banjarmasin 9 Desember 2020 mendatang. “Kami gabung dengan pendukung parpol lain untuk memenangkan pasangan Haris Makkie,” tandas Muhidin.

Muhidin memang tidak menyampaikan kompensasi atas dukungan tersebut. Tapi tentunya ada alasan politis di balik itu. Selain memang melihat figur pengalaman Haris Makkie di birokrasi (saat ini masih menjabat sebagai Sekdaprov Kalsel), serta ketokohannya di Nahdlatul Ulama selaku ketua PWNU Kalsel.

Baca Juga: Pilih Ricky Toemandoek Dampingi Michaela Paruntu, Golkar Bakal Kuasai Minsel Pegunungan

Tujuh nama kandidat calon wakil Sahbirin tersebut disampaikan Ketua Harian DPD Golkar Kalsel Supian HK dan Ketua Tim Penjaringan DPD Golkar Kalsel Juar Junaidi, saat menggelar jumpa pers di ruang Ketua DPRD Kalsel, Senin (6/1/2020).

Tujuh nama tersebut yakni Gusti Syahyar (tim ahli gubernur), Rosehan NB (Kader PDIP), Supian HK (Ketua Harian Golkar Kalsel), M. Sofwat Hadi (mantan DPD), Gusti Iskandar (Golkar Kalsel), Abdul Wahid (Bupati HSU) dan Muhidin (Ketua PAN Kalsel).

Sebelumnya, Rosehan pun menekankan, dalam dunia politik memang segala sesuatu mungkin terjadi. Ya, karena baginya politik itu dinamis dan tidak kaku. “Politik itu tidak terlalu harus kaku begitu lah. Apa saja bisa terjadi. Santai saja,” bebernya. {kanalkalimantan.com}

fokus berita : #Sahbirin Noor #Muhidin