03 Juli 2020

Berita Golkar - Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) ditantang Presiden Joko Widodo atau Jokowi agar pedagang pasar tradisional mulai memanfaatkan aplikasi online (daring) dalam menjual produknya.

Karena itu, APPSI Jawa Tengah meminta para pedagang tradisional di provinsi ini dapat menerapkan digitalisasi pasar. Dengan begitu, maka transaksi antara penjual dan pedagang bisa dilakukan dalam jaringan.

"Banyak keluhan dari para pedagang pasar bahwa mereka kalah bersaing dengan produk yang dijual melalui sistem online dan pasar modern.

Baca Juga: Bamsoet Minta Polri Lanjutkan Jihad Memberantas Narkoba

Jika mereka tidak diberikan pemahaman soal ini (digitalisasi pasar) mereka akan ketinggalan zaman dan mati. Pedagang sebanyak 22 ribu di 55 pasar tradisional di Kota Semarang, misalnya, mereka akan mati semuanya," kata Ketua DPW APPSI Jateng, Suwanto, Kamis (2/6/2020).

Bekerja sama dengan Fraksi Partai Golkar DPRD Jawa Tengah, APPSI memberikan pembelajaran dan pelatihan kepada para perwakilan pedagang di Jateng untuk membuat ekosistem online bagi produk mereka yang sebelumnya dijual di pasar rakyat atau pasar tradisional.

"Mereka (pedagang pasar) merasa hatinya marah, kalah dengan pasar swalayan dan online. Pengetahuan seperti ini penting untuk mereka.

Baca Juga: Diberi Wewenang Besar Susun Anggaran COVID-19, Misbakhun Nilai Sri Mulyani Gagal Tuntaskan Masalah

Sebelumnya ada pelatihan seperti ini juga dari pemerintah pusat, tapi hanya teori tidak praktik dan langsung diaplikasikan seperti sekarang ini. Dengan online, mereka bisa berdagang di rumah saja dengan kerja sama dengan ekspedisi," jelasnya.

Pelatihan yang diberikan akan diberikan secara bertahap. Tim digital Fraksi Partai Golkar Jateng juga akan turun ke pasar di beberapa daerah di Jateng untuk membantu pedagang mengaplikasikan sistem online.

Menurutnya, harus ada gebrakan dari pedagang pasar tradisional agar mereka tidak kalah bersaing. Minimal, mereka belajar dan memahami metode pasar tradisional digital.

Baca Juga: Ketua DPP Golkar Erwin Aksa Sambangi Menhan Prabowo, Bahas Apa?

"Tanggapan dari pedagang, mereka antusias. Memang ada kendala di sumber daya manusia. Tapi minimal mereka memahami dan bisa belajar.

Kalau belajar tidak dimulai sekarang, mereka bisa punah. Mereka harus mengikuti kemajuan teknologi," ujarnya. Berdasarkan data di APPSI, ada sekitar 1.300 pasar tradisional yang tersebar di setiap kecamatan di provinsi ini.

Sementara, anggota Komisi B (Bidang Perekonomian) DPRD Jateng dari Fraksi Golkar, Imam Teguh Purnomo, menerangkan, ada semangat dari pedagang pasar tradisional untuk beralih ke digital agar bisa bersaing dengan pasar online.

Baca Juga: HPK 1957 DKI Jakarta Apresiasi Profesionalitas Kepolisian Selama Pandemi COVID-19

"Kami mendorong di Jateng, melalui APPSI untuk membuat ekosistem online agar pedagang bisa berjualan secara digital," ujarnya.

Sebelum pandemi Covid-19, kata dia, pasar tradisional sudah mulai sepi karena tergerus dengan pasar modern dan online. Ditambah dengan adanyan pandemi ini.

Karena itu, momentum adanya pandemi agar pedagang bisa melihat peluang merambah ke daring. "Masyarakat belanja tinggal klik. Beli sabun, gula, beras, lalu barang tinggal diantar. Pedagang pasar tidak bisa bersaing jika tidak mau belajar digitalisasi," ucap Imam.

Baca Juga: Reses DPRD Diganti Kunjungan Kerja, Ade Barkah Blusukan Keluar Masuk Desa

Ia juga akan menerjunkan tim digital dari Fraksi Golkar untuk turun ke daerah- daerah membantu para pedagang menciptakan ekosistem marketplace.

Namun, ada sejumlah kesulitan yang dialami, antara lain terkait sumber daya manusia. Serta secara kultural dalam melakukan edukasi kepada pedagang pasar dalam menggunakan aplikasi online.

Ketua DPD APPSI Wonosobo, A Fikri Wijaya, menerangkan beberapa pedagang sudah menerapkan digitalisasi produk pasar tradisional, namun sifatnya personel, bukan kelompok.

Baca Juga: Data Kemiskinan Tak Valid, Ace Hasan Sebut Bansos Kemensos dan Kemendes Akan Percuma

"Selama ini di Wonosobo, belum ada wadahnya (ekosistem online untuk pedagang pasar), baru personal. Pelatihan ini sebetulnya gayung bersambut dari keinginan pedagang juga. Memang harus ada inovasi dan terobosan baru agar pedagang tidak kalah saing," katanya.

Ia mengakui mengatur banyaknya pedagang untuk beralig ke digital memang tidak mudah. Di tempat kerjanya di Pasar Induk Wonosobo saja ada sekitar 4.333 pedagang yang memiliki kultural berbeda- beda.

Pihaknya akan terus mengedukasi para pedagang terkait pasar online. "Saat pandemi corona ini momentumnya, saat di rumah masyarakat bisa belanja lewat online, transaksi jual beli juga cashless atau nontunai. Semoga program ini bisa cepat jalan," imbuhnya. {jateng.tribunnews.com}

fokus berita : #Imam Teguh Purnomo #Suwanto


Kategori Berita Golkar Lainnya