21 Juli 2020

Berita Golkar - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Bambang Soesatyo mengapresiasi perjuangan ratusan petani yang melakukan aksi long march dari Simalingkar, Deli Serdang ke Jakarta.

Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet, berjanji akan membantu perjuangan para petani mempertahankan lahannya. "Tidak ada perjuangan yang tidak ada hasilnya," kata Bamsoet saat menerima Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) di kantornya, Selasa (21/7/2020).

Sebelumnya, sebanyak 170 orang anggota Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB) dan Serikat Tani Mencirim Bersatu (STMB) melakukan aksi jalan kaki dari Medan menuju Istana Merdeka untuk menuntut hak merekq atas tanah dimiliki sejak tahun 1950-an.

Baca Juga: Gde Sumarjaya Linggih-Bagus Adhi Mahendra Putra Gawangi Pemenangan Golkar di Pilkada Bali

Menurut Bamsoet, para petani yang memperjuangkan haknya adalah sebuah tindakan dan langkah mencari kepastian.

"Semoga langkah ini ada dukungan dan solusi oleh pihak pihak terkait yang selama ini menempati lahan tersebut. Saya sudah mendapat informasi dari saudara Kapolda, jika persoalan kepemilikan lahan ini sudah diambil alih oleh Gubernur Sumut dan Gubernur sudah bertemu dengan pihak PTPN II. Namun, kita masih menunggu hasilnya," kata Bamsoet.

Bamsoet mengatakan pihaknya mendukung sepenuhnya perjuangan SPSB dan STMB dengan langkah konkrit. "Maju terus, pantang mundur, pada saudara-saudara, saya akan mengikuti terus pergerakan dan perjuangan saudara," kata politisi Golkar ini.

Baca Juga: Agung Laksono Harap Pengganti Rahmat Effendi di Golkar Kota Bekasi Bisa Kembalikan Kejayaan Partai

Kepada para petani, Bamsoet berjanji akan meminta Komisi II dan Kementerian ATR/ BPN agar membatalkan Hak Guna Bangunan (HGB) PTPN II yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dalam kesempatan itu, Dewan Pembina Serikat Petani Simalingkar Bersatu (SPSB), Aris Wiyono mengapresiasi Bamsoet karena sudah menerima mereka secara langsung di Gedung rakyat MPR RI, Jakarta.

Aris menceritakan awal mulanya tanah desa Simalingkar di Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang sudah ditempati para petani sejak era tahun 1950.

Baca Juga: Jaga Kerahasiaan Data dan Informasi, Meutya Hafid Dukung BIN Langsung Di Bawah Presiden

Dalam hal itu mereka dilindungi oleh Undang Undang No 8 Tahun 1954 dan diperkuat lagi dengan Undang Undang Pokok Agraria No 5 Tahun 1960 lewat Surat Keterangan 'Land Reform'. "Tanah seluas 854 hektar sudah dibagikan ke 810 kepala keluarga," kata Aris dengan nada lugas.

Aris menilai, dari 854 hektar yang diduduki oleh para petani, saat ini sudah 241 hektar dijadikan hak guna bangunan (HGB) oleh pihak PTPN II. Aris berharap agar tindakan PTPN II bersikap arif terhadap rakyat tanpa melakukan tindakan yang tidak terpuji.

"Jangan melakukan kriminalisasi, intimidasi dan pengerusakan aset-aset petani di wilayah petani itu sendiri," kata Aris.

Baca Juga: Budhy Setiawan Ungkap Pandemi COVID-19 Jadi Tantangan Berat Empat Pilar MPR

Sebab katanya banyak petani yang mengalami kerugian seperti tidak mempunyai tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, pengangguran dan sebagainya, sebagai dampak lahannya diklaim PTPN II.

"Ini menjadi pekerjaan rumah. anak-anak bangsa yang menjadi pemimpin bangsa kita. Apakah mereka mampu atau tidak membebaskan penjajahan yang dilakukan oleh BUMN terhadap petani dan rakyat di Simalingkar dan Sei Mencirim," katanya. {wartakota.tribunnews.com}

fokus berita : #Bambang Soesatyo #Bamsoet


Kategori Berita Golkar Lainnya