23 Juli 2020

Berita Golkar - Persaingan antar bakal calon ketua umum DPD I Golkar Sulsel kian memanas. Saling berebut dukungan. Modal untuk melengkapi pencalonan. Minimal 30 persen atau 9 suara dari 30 suara yang diperebutkan dalam musyawarah daerah nanti.

Faksi atau kelompok pecah menjadi dua di tubuh beringin rimbung tersebut. Ada kubu pro perubahan dan pro status quo atau kubu Nurdin Halid.

Pengamat politik Unismuh, Andi Luhur Prianto mengatakan, kubu pro-perubahan seperti A. Idris Rio Padjalani dan Supriansa harus bergabung dan mengkonsolidasi kekuatan dengan mengusung satu calon.

Baca Juga: Golkar Bone, Soppeng, Jeneponto Berikan Dukungan Untuk Supriansa Pimpin Golkar Sulsel

Membangun kompromi. Meski nantinya diskresi berbeda dengan suara DPP, setidaknya menjadi modal untuk membangun komunikasi ke pemilik suara.

Karena itu, ia mewanti-wanti agar Supriansa mewaspadai semua kemungkinan yang bakal terjadi. Terutama perlawanan dari kubu pro status quo atau kubu Nurdin Halid. “Tetap tak boleh jemawa saat menghadapi dinamika dan kepentingan pemilik suara,” bebernya.

Luhur menilai situasi Musda Golkar Sulsel berbeda dengan Golkar Sulbar dan Golkar Kaltim. Dinamika dan intensitas persaingannya sangat berbeda. Profil pemegang diskresi juga berbeda. “Upaya-upaya merepetisi model aklamasi pemilihan ketua umum, tetap harus realistis,” tegasnya.

Baca Juga: Di Bawah Koordinasi Airlangga, Agung Laksono Optimis Ekonomi Nasional Bakal Cepat Pulih

Di sisi lain Supriansa, menurutnya, butuh bantuan pihak lain untuk merebut dukungan pemilik suara. Terutama yang bisa memimpin operasi pemenangan. “Diskresi hanyalah pintu untuk membangun bargaining dengan pihak lawan dan kawan di musda ini,” bebernya.

Ditambahkan, pengamat politik Unhas, Andi Ali Armunanto, saat ini kubu pro status quo dan kubu perubahan mulai bersaing sengit untuk bisa memenangkan pertarungan dengan meraih dukungan suara signifikan. Sosok kader senior seperti Hamka B. Kady yang menjadi loyalis Nurdin Halid patut diwaspadai.

Sebagai politikus senior, kata dia, ia memiliki jejaring yang kuat. Mulai dari level pusat hingga ke tingkat daerah dan hampir bisa diterima semua kader. “Pak Hamka ini tidak koar-koar, tetapi dia kuat. Supriansa yang mengantongi surat rekomendasi harus bekerja keras. Konsolidasi pemenangan harus tetap dilakukan,” bebernya. {fajar.co.id}

fokus berita : #Andi Luhur Prianto


Kategori Berita Golkar Lainnya