24 Juli 2020

Berita Golkar - Persoalan akibat pandemi COVID-19 seolah menjadi momok yang mengancam ketahanan negara. Kesehatan menjadi sektor paling fundamental yang terkena dampak dari pandemi COVID-19. Selain itu sektor lainnya seperti pendidikan juga tak luput dari dampak negatif pandemi COVID-19.

Hal ini pun menjadi pembahasan hangat dalam diskusi daring komunitas Golkar Milenial (GoMile) Chitchat dengan tema, “Efektifkah Metode Belajar Dari Rumah di Tengah Pandemi di Indonesia?” bersama pemateri, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Ibu Hetifah Sjaifudian yang digelar pada Jumat (24/072020) malam dan dimoderatori oleh Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Tenny Marlina.

Baca Juga: Bamsoet Minta Pemerintah Kaji Mendalam Pembubaran 19 Lembaga

Melalui pemaparannya, Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar ini mengatakan bahwa orang tua, termasuk murid mengalami kesulitan dalam perubahan pola atau metode pendidikan. Dari belajar di sekolah menjadi belajar di rumah demi menghindari dampak pandemi COVID-19. Itu adalah pilihan terbaik untuk saat ini.

“Kebijakan ini bukan pilihan, kita tidak punya opsi. Sebab yang penting untuk anak-anak kita adalah kesehatan. Jangan sampai sekolah menjadi cluster penularan Covid-19. Karena anak-anak rentan sekali. Karena itu kebijakan ini paling aman. Pokoknya belajar di rumah, jangan ada tatap muka dahulu,” papar Hetifah.

Seiring dengan kebijakan New Normal yang didengungkan pemerintah, sektor pendidikan mulai berangsur menjadi normal. Jika sebelumnya sekolah di zona rawan COVID-19 diinstruksikan melakukan pembelajaran daring, kini beberapa sekolah yang berada di zona hijau akan melakukan aktifitas seperti biasa.

Baca Juga: Berpotensi Langgar UU, Dave Laksono Minta Prabowo Ungkap Alasan Beli Jet Eurofighter Typhoon Bekas

Tercatat, terdapat 429 kabupaten/ kota dengan ribuan sekolah yang berada di zona rawan COVID-19. Hanya ada 85 kota/ kabupaten yang berada di zona hijau, yang kemudian diizinkan melakukan proses belajar mengajar seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Namun, hal ini menurut Hetifah, masih melihat fluktuasi dari tingkat penularan Covid-19 di daerah tersebut.

“Tapi untuk zona hijau sekarang-sekarang ini sudah boleh tatap muka. Tapi tidak banyak, sekitar 80 zona. Namun itupun masih fluktuatif. Jadi kita masih melihat dulu, seberapa besar risikonya,” sebut politisi perempuan asal Kalimantan Timur ini.

Hetifah juga menyampaikan dalam diskusi ini bahwa sebagai anggota DPR RI, terlebih Wakil Ketua Komisi X DPR yang bermitra dengan pemerintah di sektor pendidikan, pemuda dan olahraga serta ekonomi kreatif, ia seringkali mendapat aduan dari orangtua, guru termasuk murid mengenai kendala dalam pengaplikasian pembelajaran daring.

Baca Juga: Di Tengah Pandemi COVID-19, Bamsoet Harap ICMI Lahirkan Banyak Pemimpin

“Sebagai anggota DPR saya jadi tempat curhat. Terima aspirasi dari masyarakat mengenai belajar dari rumah ini. Banyak komentar. Permasalahannya akses internet yang minim dan keberadaan gawai yang dimiliki, tidak semua orang memiliki instrumen untuk mengakses gawai. Terutama di daerah pedalaman. Mereka kesulitan. Solusi dari permasalahan ini kita sedang retas bersama dan diupayakan dapat secepatnya,” jelas Hetifah.

Berdasarkan kendala serta kesulitan yang ada, Hetifah menyebut Mendikbud Nadiem Makarim sebagai pegiat teknologi harusnya bisa lebih cepat tanggap. Tetapi tidak bisa pula disalahkan, karena kondisi seperti ini merupakan kondisi yang baru bagi semua pihak.

“Pemerintah juga memang harusnya sudah mempersiapkan, kendala seperti akses internet dan sebagainya itu pun seharusnya bisa diatasi. Saya rasa Mas Nadiem sebagai pegiat tekhnologi akan membuat formulasi yang tepat, namun pada praktiknya memang tetap menjadi kendala tersendiri,” pungkas Hetifah. 

fokus berita : #Hetifah #Hetifah Sjaifudian


Kategori Berita Golkar Lainnya