08 Agustus 2020

Berita Golkar - Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar dapil Kalbar 1, Maman Abdurahman menilai subsidi tertutup menjadi satu di antara solusi terbaik mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg di tengah-tengah masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi VII DPR RI tersebut saat Tripon Cast Bebincang with Maman Abdurrahman secara virtual melalui aplikasi Zoom meeting yang dipandu Pemred Tribun Pontianak, Safruddin, Jumat (7/8/2020).

"LPG 3 kg diperuntukkan hanya untuk orang miskin. Namun di lapangan elpiji 3 kg menjadi konsumsi mereka yang tidak masuk kategori miskin. Sampai kapanpun selama elpiji 3 kg ini orang-orang yang tidak miskin ikut mengonsumsi, berapapun kuota yang disiapkan, tidak akan pernah cukup," kata Maman Abdurahman.

Baca Juga: Bamsoet Apresiasi Polda Kalsel Gagalkan Penyelundupan 208 Kg Sabu

"Saya menceritakan pengalaman saya saat keliling di seluruh kabupaten/kota, hampir 14 kabupaten/kota yang pernah saya turun, mayoritasnya adalah elpiji 3 kg, mereka mengkritik bupati, gubernur, DPR dan Pertamina,” lanjut Ketua DPD Golkar Kalbar.

Maman mengatakan, pernah membuat simulasi saat reses terhadap 100 warga. "Saya tanyakan siapa yang pakai elpiji 3 Kg, hampir 100 orang yang hadir semua tunjuk tangan. Saya tanyakan kembali, siapa yang orang miskin tunjuk tangan, dari 100 orang yang hadir yang tunjuk tangan hanya 20-30 persen, dan itu hampir di seluruh kabupaten/kota," katanya.

Kemudian Maman memberikan pertanyaan ketiga, siapa yang merasa miskin, dan angkat tangan 60-70 persen. Dari simulasi ini, Maman mengatakan dirinya mengetahui penyebab kelangkaan elpiji 3 kg.

Baca Juga: Fadel Muhammad Minta Pidato Presiden Memberi Harapan di Tengah Pandemi COVID-19

Menurut Ketua Bappilu DPP Golkar ini, orang miskin harus berani marah karena haknya yang disubsidi pemerintah diambil oleh orang yang tidak miskin. "Orang miskin harus berani marahi orang tidak miskin yang memakai elpiji 3 kg," katanya.

Ia menjelaskan, orang yang tidak miskin seharusnya menggunakan elpiji Bright Gas 5,5 kg dan 12 kg. "Ini sudah menjadi patalogi sosial, kita ndak tahu siapa yang benar siapa yang salah. Kita menegur masyarakat agar jangan pakai elpiji 3 kg, masyarakat marah sama kita," katanya.

Maman Abdurahman mengatakan, bukan dirinya yang melarang, tapi itu adalah aturan. "Bukan saya yang melarang, yang melarang adalah aturan. Sebenarnya gas elpiji 3 kg kebijakan pemerintah agar masyarakat miskin terbantu, cuma dalam penerapan di lapangan itu menjadi patalogi sosial, dimana masyarakat kita sudah nyaman pakai elpiji 3 kg," timpal Maman.

Baca Juga: Rekening Nasabah Bobol Lewat Struk ATM, Puteri Komarudin Imbau Masyarakat Waspada

Problematikan elpiji 3 kg itu pun, lanjut dia, menyebabkan adanya pertengkaran antar kepala daerah.

"Sampai akhirnya Pak Midji marah sama Bahasan, sampai akhirnya kepala Pertamina di Kalbar dimaki-maki, dimarah-marah, terjadi antren, dan akhirnya menjadi problematika sosial di hampir semua daerah. Pertamina tugasnya memastikan stok yang dialokasikan di Kalbar sesuai. Mau salahkan Pertamina, salahkan dimana," papar Maman Abdurahman.

Maka dari itu, Maman menyebut ada dua solusi mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg di tengah masyarakat, yakni solusi jangka pendek dan solusi jangka panjang.

Solusi jangka pendek, kata Maman, ialah dengan menambah kuota dari subsidi gas elpiji 3 kg tersebut. "Alhamdulillah, saya berani mengklaim perjuangan saya dan beberapa kawan-kawan di Komisi VII, mendorong pemerintah melalui pembahasan anggaran," katanya.

Baca Juga: Dedi Mulyadi Serahkan 35 Traktor Bagi Para Petani di Plered Purwakarta

Ia mengatakan Fraksi Partai Golkar menjadi pioner yang mendorong, mendesak serta menekan pemerintah untuk menaikkan penambahan alokasi elpiji 3 kg. Sebelumnya hanya sekitar 7 juta metrik ton menjadi 7,5 juta metrik ton untuk seluruh Indonesia.

"Kalau dikonversi nilai uang sekitar Rp 70 triliun subsidi pemerintah untuk elpiji 3 kg, tinggal kita bagi alokasinya, dan sebagai anggota DPR dari Kalbar untuk mengawal," tuturnya.

Sementara untuk jangka panjang, pria yang khas dengan brewoknya ini mengatakan diperlukan perubahan sistem subsidi pada elpiji 3 kg yang selama ini terjadi.

"Sekarang ini subsidi terbuka, kita mendorong agar menjadi subsidi tertutup. Subsidi terbuka yang disubsidi tabungnya, jika tidak disubsidi, harganya sekitar Rp 50 ribu. Namun jika subsidi tertutup, yang disubsidi ialah orang miskin. Pemerintah memberikan uang kepada orang miskin agar bisa membeli elpiji, kemudian elpiji dijual dengan harga market, sehingga subsidi tepat sasaran," jelasnya.

Baca Juga: Produknya Berkualitas Internasional, Bamsoet Yakin Pindad Bakal Disegani Di Dunia

Namun Maman mengakui, pelaksanaan subsidi tertutup masih terhambat pada data orang miskin yang masih sengkarut. Sehingga, lanjut dia, perlu didorong agar sengkarut data orang miskin ini diselesaikan. Ia memperkirakan, dengan metode subsidi tertutup, negara disebutnya bisa menghemat hampir Rp 35-40 triliun per tahun.

"Kuncinya ada di pemerintah, mau serius tidak membenahi sengkarut problematika data orang miskin kita di Indonesia, dan khususnya di Kalbar, sehingga jika diterapkan kebijakan subsidi tertutup tidak ada yang teriak lagi," katanya.

"Saya mendorong agar kita semua mengusulkan ke pemerintah pusat agar mengubah sistem subsidi terbuka menjadi sistem subsidi tertutup," pungkas Maman. {pontianak.tribunnews.com}

fokus berita : #Maman Abdurrahman


Kategori Berita Golkar Lainnya