20 September 2020

Dua Minggu Terpapar COVID-19, Sugawa Korry Sembuh Berkat Arak Bali dan Kayu Putih

Berita Golkar - Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry, menjadi salah satu yang terpapar Covid-19. Dua minggu lamanya dia mesti menjalani perawatan di Rumah Sakit Bali Mandara (RSBM). Terhitung dari 5 September 2020 lalu. Baru-baru ini, hasil uji usap yang dilaluinya menunjukkan hasil nonreaktif. Dia dinyatakan sudah pulih.

Meski sudah pulih, Sugawa Korry mengaku masih di RSBM sampai dengan Minggu (20/9). Kebetulan dia juga menemani Ni Wayan Suartini, istrinya yang juga terpapar Covid-19.

Dalam obrolan singkat, dia mengaku, sebetulnya sudah dibolehkan pulang. Namun berhubung istrinya masih dalam perawatan, dia memilih untuk bertahan terlebih dulu sembari memastikan, kondisi kesehatannya benar-benar sudah pulih.

Baca Juga: Hobi Hidroponik Hetifah, Ribuan Lubang Tanam Siap Sajikan Sayuran Organik Untuk Keluarga

“Saya masih di RSBM. Kebetulan saya masih menunggu istri. Mungkin besok (Senin) atau dua hari lagi sudah bisa pulang. Cuma saya ingin memastikan agar benar-benar clear. Kalau saya, dua hari lalu (uji usap) hasilnya nonreaktif,” kata Sugawa Korry melalui saluran telepon seluler.

Politisi yang juga ketua DPD I Partai Golkar Bali ini mengaku selama dua minggu menjalani perawatan, dia mesti menjaga kondisi kesehatannya. Entah itu tensi, Haemoglobin atau sel darah merah, serta menjaga asupan gizi dengan menambah suplemen vitamin.

“Intinya mengupayakan imunitas stabil. Sekarang ini saya mau diukur tensinya,” aku Sugawa Korry. Karena mesti ukur tensi, obrolan itu pun jeda sementara.

Baca Juga: Permudah Pelajar PJJ, Blegur Prijanggono Pasang Wifi Gratis di 100 Titik di Kota Surabaya

Begitu selesai ukur tensi, dia kembali bercerita. Dalam lanjutan ceritanya itu, dia mengaku rajin minum air hangat yang dicampur tetesan minyak kayu putih. Itu dilakukan untuk membantu proses pemulihannya agar lebih cepat.

Dia mengaku mendapatkan referensi dari membaca-baca artikel. Kebetulan beberapa rekannya ada yang mengirimkan artikel itu. “Saya pakai kayu putih, diminum, tidak apa. Bagus itu. Paling dua atau tiga tetes dalam satu gelas air hangat. Setiap saya minum air hangat,” imbuh politisi asal Buleleng ini.

Selain itu, dia juga memanfaatkan uap ramuan yang dihirup pakai nebulizer. Sugawa Korry mengaku tidak ragu dengan cara-cara pemulihan itu. Malah dia merasa suka dan nyaman bila menghirup uap ramuan itu.

Baca Juga: Yod Mintaraga Pimpin Golkar Jawa Barat Saba Desa 8 Kabupaten/ Kota

“Yang nebulizer itu saya pakai terus karena nyaman. Saya nggak mengetahui ramuannya apa. Mungkin ada araknya. Tapi bikin segar. Menurut saya bagus itu. Saya pakai logika saja. Kalau bakteri atau virus itu kan nggak kuat dengan alkohol,” katanya dengan suara yang terdengar antusias.

Dia lantas bercerita awal mula terpapar Covid-19. Katanya, yang dia rasakan pertama kalinya adalah demam tinggi dan meriang. Ini terjadi setelah dia selesai melakukan reses sebagai anggota DPRD Bali.

Tugas itu mesti dia jalani berbarengan dengan beberapa agenda penting partai. Kebetulan belum lama ini beberapa DPD II Partai Golkar di tingkat kabupaten/kota punya agenda musda.

Baca Juga: Budhy Setiawan Serahkan 180 Paket Alsintan Untuk Kelompok Tani di Cianjur

“Habis reses dan musda keliling Bali, kondisi saya agak capek, kepayahan. Saya agak meriang. Tidak batuk atau sesak, tapi suhu tubuh tinggi. Akhirnya saya ke dokter. Sama dokter diperika, kok terdengar ada suara di paru-paru saya. Kemudian rontgen dan ditemukan ada flek kecil. Saya dikasih antibiotik,” bebernya.

Waktu itu dia sudah merasa tidak nyaman. Apalagi hasil rontgen menunjukan ada masalah di paru-parunya. Dia pun mengambil inisiatif agar diuji usap, termasuk dengan istrinya. Karena sewaktu perawatan di rumah termasuk waktu mengantarkan dia ke dokter, istrinya yang menemani.

“Ternyata (uji usap) hasilnya reaktif. Malam itu juga, saya langsung minta diisolasi, berdua dengan istri. Itu dimulai dari 5 September. Daripada di rumah terjadi apa-apa, lebih baik saya dan istri saya di rumah sakit,” imbuh mantan ketua Dekopinda Bali ini.

Baca Juga: Menko Airlangga Soroti Kasus COVID-19 di Jateng, Tingkat Kematian Tinggi Tingkat Kesembuhan Rendah

Beda lagi dengan istrinya. Menurut Sugawa Korry, istrinya justru tidak menunjukkan gejala-gejala klinis, bahkan sampai dengan Minggu (20/9). “Sampai sekarang tidak apa-apa. Tapi hasil uji swabnya reaktif. Beda-beda gejalanya,” sebutnya.

Kendati harus menjalani perawatan di rumah sakit, Sugawa Korry mengaku masih menyempatkan diri menjalankan tugas-tugasnya, Khususnya terkait dengan urusan kepartaian.

“Dalam artian sebatas koordinasi dengan teman-teman di partai. Memastikan kelengkapan pendaftaran calon (kepala daerah dan wakil kepala daerah). Kadang memberikan arahan. Cuma waktunya agak dibatasi. Karena harus istirahat juga,” imbuhnya.

Baca Juga: Dito Ganinduto Harap KUR Rp.16.505 Triliun di Jateng Bisa Bangkitkan Geliat Ekonomi UMKM

Bahkan, saat hari raya Galungan pada pertengahan minggu lalu, dia dan sang istri melaluinya dengan melakukan persembahyangan secara sederhana. “Pakai canang dan dupa saja. Yang penting niatnya,” sambungnya lagi.

Sesekali dia berkomunikasi dengan anak-anaknya, cucunya, sampai dengan teman-temannya di partai. Bahkan ke anak dan cucunya, dia paling sering berkomunikasi melalui fasilitas video call.

“Jadi seperti nggak lagi jauh begitu. Kadang, habis mandi dan sarapan, saya telepon-telepon dengan teman-teman. Sambil mencatat-catat, apa saja tugas atau urusan yang terkait partai,” ujarnya melanjutkan.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Nilai PSBB DKI Jakarta Harusnya Hanya Mikro Meliputi Tingkat RT-RW

Kondisi yang dialaminya selama dua pekan terakhir ini membuat Sugawa Korry mengaku bahwa ancaman Covid-19 itu ada di mana saja. Sehingga dia memandang ada satu hal yang harus dilakukan, yakni mempersiapkan diri sendiri. Entah itu dengan cara menjaga kesehatan, menjaga imunitas, atau kekebalan tubuh.

“Apa saja yang jadi anjuran pemerintah sebaiknya diikuti. Protokol kesehatan itu yang wajib diikuti. Mungkin kalau sudah mengalami, bisa merasakan,” ujarnya. “Jadi tidak perlu berspekulasi. Ini bukan menyangkut diri saja, tapi orang lain juga. Artinya, kalau dari diri sendiri tidak disiplin, orang lain kena,” kata Sugawa Korry sembari memberi imbauan ke masyarakat.

Selain itu, sebagai orang yang ada dalam lingkaran pemerintahan, Wakil Ketua DPRD Bali, dia memandang kesiapan pemerintah untuk memastikan perawatan kepada warga yang terpapar harus terus dijaga dan ditingkatkan.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Saksikan Gus Ton Raih Rekor Dunia Untuk Pagelaran Wayang Kulit Virtual 7 Malam

“Ruangannya, kesiapan tenaganya, ketersediaan obat dan vitaminnya. APD (alat pelindung diri). Tenaga kesehatan yang merawat, ternyata berat tugasnya. Mereka itu, empat sampai enam jam pakai pakaian khusus (hazmat),” katanya.

Soal tenaga kesehatan, dia mengusulkan agar jam tugasnya diperpendek. Sehingga konsekwensinya, jumlah tenaga kesehatan yang mesti ditambah. “Jadi waktu istirahatnya panjang. Bila perlu insentifnya juga ditingkatkan,” cetusnya.

Memang, sambungnya, dengan menambah tenaga, anggaran penanganan dan perawatan untuk tenaga kesehatan akan bertambah. Namun, baginya, itu akan sejalan dengan pelayanan agar lebih maksimal. Termasuk untuk ruang perawatan ditambah, sehingga tidak ada yang tidak kebagian ruang perawatan.

Baca Juga: Melki Laka Lena Nilai Wajar Kasus Corona di Kemenkes Tertinggi, Ini Alasannya

“Jangan sampai ada orang yang punya gejala (Covid-19) ditunda atau ditolak. Ketersediaan ruangan untuk perawatan ini juga penting. Apakah itu menambah rumah sakit atau menyiapkan hotel yang dikontrak untuk kepentingan itu. Kalau pun tidak digunakan syukur,” kata dia.

“Tapi kalau ada yang memerlukan kan sudah siap. Kita ini kan sedang berlomba dengan waktu sampai vaksin ditemukan. Kalau untuk ini, saya di DPRD, tidak ragu untuk mendukung anggarannya,” sebungnya.

Di ujung obrolan, Sugawa Korry mengaku bahwa Covid-19 memberinya pengalaman masuk ke rumah sakit dalam waktu yang lama untuk kedua kalinya. Pengalaman pertama opname di rumah sakit dalam waktu yang lama terjadi waktu dia masih duduk di bangku kelas dua SD atau sekolah dasar.

Baca Juga: Misbakhun Nilai Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Harus Berjalan Seimbang

“Ini pengalaman kedua saya masuk rumah sakit dalam waktu yang lama. Pengalaman pertama saya itu waktu kelas dua SD. Saya kena tetanus. Biasalah waktu kecil sering tidak pakai sandal. Kaki luka, ternyata tetanus,” tuturnya.

Dia mengaku saat itu sekitar sebulan lamanya mesti di rumah sakit. Sebab, obat tetanus saat itu sangat sulit diperoleh. Itupun dia sudah dalam kondisi kritis. “Mulut sudah tidak bisa dibuka waktu itu. Itu pengalaman saya masuk rumah sakit dalam waktu yang lama untuk pertama kalinya. Dan sekarang ini yang kedua, karena Covid-19,” kenangnya. {baliexpress}

fokus berita : #Sugawa Korry,