22 September 2020

Jangan Jadi Pancasilais Picisan, Gandung Pardiman Ajak Amalkan Lewat Pola Pikir, Sikap, Tindakan

Berita Golkar - Sosialisasi empat pilar kebangsaan bersama anggota MPR RI, Drs. HM. Gandung Pardiman, MM digelar di Pendopo GPC, Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul, Selasa (22/9/2020).

Sosialisasi diikuti oleh ratusan elemen masyarakat dengan fokus penekanan pada implementasi nilai-nilai Pancasila. Kemudian, membangun cinta dan semangat kebangsaan. Gandung Pardiman mengatakan, Pancasila sebagai dasar ideologi negara lahir melalui proses panjang dari putra terbaik bangsa.

Pancasila saat ini telah dijadikan pondasi utama dari segala pilar yang ada. Sebab itu, Ia menekankan kepada generasi muda agar jangan sampai terkecoh dengan adanya pengaruh ekstrem kanan, maupun ekstrem kiri yang bertujuan merongrong Pancasila.

Baca Juga: Namanya Dicatut Minta Sumbangan COVID-19 di Medsos, Ini Klarifikasi Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja

Menurut Gandung, Pancasila sudah final. Karena itu, siapapun yang akan memeras-meras, apalagi ingin mengubah Pancasila sebagai dasar ideologi negara Indonesia harus dihadapi. Pancasila, kata dia, harus menjadi pegangan hidup.

" Tidak cukup untuk sekadar dihafal dan diucapkan. Namun harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Lebih lanjut, politisi senior Partai Golkar itu menegaskan, pemahaman tentang Pancasila harus diberikan kepada masyarakat secara jelas agar jangan sampai terkecoh dengan Pancasila picisan.

Menurutnya, Pancasila picisan itu ibarat musang berbulu domba, tidak sepenuh hati menjiwai Pancasila, melainkan memiliki agenda terselubung. Contoh agenda terselubung, di antaranya berupaya mencabut Ketetapan (Tap) MPRS No. XXV tahun 1966 tentang larangan paham Komunisme/Marxisme.

Baca Juga: Golkar Bolmut Targetkan Tetty Paruntu-Sehan Landjar Menang 70 Persen di Pilkada Sulut

Kemudian berusaha menyelundupkan pasal-pasal dalam RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP). Semua upaya yang bertujuan untuk menikung Pancasila itu, menurut Gandung, harus ditanggulangi secara dini dan massif. "Pancasila ini branding pola fikir, pola sikap dan pola tindak. Bukan sekadar picisan," tegasnya.

Pelaksanaan sosialisasi 4 pilar kebangsaan berjalan tertib dan lancar. Protokol kesehatan tetap dipatuhi. Di antaranya, peserta wajib memakai masker, menjaga jarak dan disediakan tempat cuci tangan dengan sabun.

Turut hadir dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Bupati Bantul, Drs.H. Suharsono. Kader Golkar Totok Sudarto dan sejumlah anggota DPRD Bantul dari Fraksi Golkar, Paidi, Arny Tyas Palupi, dan H. Suryono.

Baca Juga: Nurul Arifin Pertanyakan Urgensi RUU Ketahanan Keluarga

Ada dua narasumber yang memaparkan materi, yaitu Wakil Ketua PDM Bantul Suwandi DS dan Ketua DPW PPP DIY, Amin Zakaria. Sedangkan jalannya sosialisasi dimoderatori oleh John S. Keban.

Dalam paparannya, Ketua DPW PPP DIY, Amin Zakaria mengungkapkan, kemerdekaan yang diraih oleh Bangsa Indonesia merupakan proses panjang.

Bukan hanya sekadar peristiwa yang terjadi dalam satu titik kejadian pada tanggal 17 Agustus 1945 saja. Melainkan melalui sejarah panjang yang melelahkan. Berawal dari penjajahan selama 350 tahun.

Dalam proses persiapan kemerdekaan telah dirumuskan pembukaan UUD 1945 yang mencerminkan tujuan negara. Menurut dia, tujuan negara itu telah disepakati oleh founding father (pendiri bangsa) dan tidak bisa diubah.

Baca Juga: Ruslan AS Pastikan Golkar Kalteng Gerak Cepat Menangkan Sugianto Sabran-Edy Pratowo

Sebab, secara komunal dan terori hukum telah mewakili representasi dari berbagai golongan. Mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah hingga para pejuang pergerakan Kemerdekaan Indonesia.

Sehingga masyarakat harus paham seandainya ada isu yang mengatakan akan mengubah Pancasila itu tidak mungkin. "Itu namanya pembodohan dan penipuan. Pertanyaannya, dari mana (Pancasila) akan diubah. Kalau diubah kan harus ada sesuatu yang buruk. Pertanyaannya yang buruk dimana," cecar dia.

Lebih lanjut, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Pasca Sarjana dan Doktor Ilmu Ekonomi UGM itu mengatakan, membangun cinta dan semangat kebangsaan juga harus ditanamkan.

Baca Juga: Sahbirin Noor Rindu Turun Ke Desa, Jemput Aspirasi Warga Kalsel

Terutama pada generasi muda. Sebab, puluhan tahun sejak merdeka, rakyat Indonesia selalu didoktrin sebagai bangsa yang mundur, bodoh dan tidak produktif.

Menurutnya, itu kekeliruan besar. Apalagi sampai diucapkan oleh pejabat negara yang seharusnya dalam pembukaan UUD '45 ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi justru menanamkan rasa kecil hati pada rakyatnya.

Apabila melihat fakta sejarah, kata dia, nenek moyang bangsa Indonesia itu hebat. Bahkan, zaman Majapahit, sudah memiliki angkatan perang luar biasa dan memiliki tanah jajahan luas.

Baca Juga: Gandung Pardiman Ajak Elemen Masyarakat Jogja Bersatu Hadapi Ancaman Komunisme

Belum lagi bicara Raja Airlangga dan Ratu Sima yang memiliki pengelolaan pertanian dan perdagangan modern pada zamannya. "Sejarah ini perlu disampaikan agar tertanam dan meningkatkan nilai kebangsaan," tuturnya.

Sementara itu, Wakil Ketua PDM Muhammadiyah Bantul, Suwandi DS menyampaikan, sosialisasi empat pilar kebangsaan sangat penting sebagai bagian membangun komitmen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ia mengatakan, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan kesepakatan dan merupakan sejarah panjang yang harus diketahui oleh generasi bangsa.

Baca Juga: Hubungan Israel dan UEA Kian Mesra, Azis Syamsuddin Tegaskan Indonesia Tetap Bersama Palestina

 

Sebab itu, belajar tentang sejarah sangat penting. Ia mengaku keberatan seandainya pemerintah akan menghilangkan mata pelajaran sejarah dalam kurikulum pendidikan.

Peristiwa sejarah tidak bisa dihilangkan. Selain sebagai bagian memupuk cinta kebangsaan, juga sekaligus mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara. "Dalam mempertahankan Pancasila, kita harus memahami ancaman-ancaman terhadap ideologi negara itu," jelasnya. {tribunnews}

fokus berita : #Gandung Pardiman