25 September 2020

Lumbung Pangan Jatim, Suigsan Desak Dinas Pertanian Atasi Krisis Pupuk Petani Lumajang

Berita Golkar - Desakan kebutuhan pupuk di kabupaten Lumajang Jawa Timur secepatnya dipenuhi karena mengancam rapuhnya penyangga pangan Jawa Timur, DPRD kabupaten Lumajang telah menerima perwakilan petani terkait keluhannya.

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang Suigsan mengatakan saat ini petani Lumajang sudah mengalami kelangkaan pupuk tambah dengan adanya wabah virus Covid-19 sehingga untuk menjaga perekonomian sulit dilakukan bila berlarut-larut soal pupuk.

Suigsan meminta pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian agar secepatnya mencari solusi supaya tanaman petani tidak sampai gagal panen akibat regulasi nasional itu. Petani Pupuk subsidi atau non subsidi agar tertangani e-tani.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Minta Cakada Pelanggar Protokol Kesehatan COVID-19 Kena Sanksi Berat dan Tegas

"Dinas Pertanian sesegera mungkin menyediakan kebutuhan petani", kata polisi partai Golkar di kantor DPD Golkar jalan Veteran, Jum'at (25/9) seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Efendi Murdiono.

Komisi B berharap hasil tanaman yang kini kekurangan asupan pupuk agar tetap bisa dipanen, Dinas Pertanian agar secepatnya memanggil distributor terkait penyedia pupuk sesuai dengan kebutuhan, bila ada temuan pupuk di jual ke luar agar ada sangsi tegas di cabut ijinnya.

"Agar harga eceran harus diseragamkan jika kios l harga pupuk Rp 150 ribu kios lainya harus sama", kata DPRD dari daerah pemilihan Lumajang ll.

Baca Juga: Tolak Dukung Sri Muslimatun-Amin, Beringin Muda Militan Sleman Pilih Dukung Kustini-Danang

Penghapusan paket pupuk agar dihentikan karena akan memberatkan petani, kebutuhan petani tidak akan sama, jika itu jadi ketentuan paksaan maka pembelian pupuk sepaket itu, pupuk yang tidak dikendaki sisa-sisa tidak digunakan dan hal itu menjadikan pembengkakan biaya garapnya.

Menyinggung soal penggunaan pupuk organik petani di Lumajang ditegaskan Suigsan dorongan dari pemerintah sudah memberikan alat untuk memproduksinya, namun greget petani beralih masih kecil.

"Bila kreatif petani tinggi kelangkaan pupuk tidak akan berimbas sebab kebutuhan nutrisi tanah dan tanaman sudah dipenuhi dengan produksi pupuk organik sendiri", pungkas Suigsan. {elshinta}

fokus berita : #Suigsan