30 September 2020

Sulsel Jadi Target Peredaran, Andi Rio Idris Padjalangi Desak Polri Cari Bandar Besar Narkoba RI

Berita Golkar - Narkoba merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime). Berbagai jaringan internasional yang masuk di Sulsel. Namun yang ditangkap hanyalah cecunguk saja. Bandar besarnya masih bersembunyi rapih.

Pada 28 Desember 2018 jaringan internasional asal Tiongkok. Rute jaringan narkoba itu, melalui Thailand, kemudian lewat jalur darat via kereta api, turun di Malaysia, lalu ke Tawao. Kalau di Sulsel berasal dari Tawao, kemudian Nunukan, Tarakan, pare pare, dan ke Makassar.

Pada 12 Maret 2019 jaringan internasional malaysia digagalkan jajaran Polda Sulsel. Lalu 25 April 2019 jaringan asal Filipina yang diamankan Ditresnarkoba Polda Sulsel. Kemudian pada 11 April 2019 jaringan dari Malaysia, Kendari, Makassar dan Jakarta berhasil diamankan Resmob Polda Sulsel di Bandara Sultan Hasanuddin.

Baca Juga: Lawan COVID-19, Golkar Gelar Rapid Test Gratis Bagi Warga Kota Parepare

Terbaru khusus bulan September 2020, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Sulsel menangkap empat orang tersangka pengedar narkoba dan menyita barang bukti sabu-sabu seberat 1,6 kilogram pada 17 September.

Kemudian polisi menangkap empat pria terkait kasus 14 kilogram sabu dan 2.994 butir pil ekstasi di Kota Makassar. Dan seorang nelayan asal Kecamatan Belawa, Kabupaten Wajo, Sulsel HA (46), ditangkap polisi karena nyambi sebagai bandar narkoba. Enam bal narkoba jenis sabu diamankan polisi Jumat, 25 September.

Sederat tangkapan polisi itu diapresiasi oleh Komisi III DPR RI. Namun, ada catatan khusus bagi polisi yang harus diperhatikan dan diminta untuk tindak lanjuti.

Baca Juga: Antisipasi Tsunami Setinggi 20 Meter, Bamsoet Minta Wilayah Banyuwangi Hingga Trenggalek Waspada

Anggota Komisi III DPR RI, Andi Rio Idris Padjalangi mengutarakan saat rapat kerja dengan Kapolri dan seluruh Kapolda memberikan apresiasi terhadap jajaran kepolisian. Khususnya Polda Sulsel yang telah membongkar dan menangkap peredaran narkoba di Sulsel. Itu merupakan jaringan Belanda.

“Tetapi di satu sisi, dibalik itu semua ada bandar besar yang bermain. Olehnya Polri harus mencari pelaku dan bandar tersebut. Karena selama ini yang beredar di Sulsel hanya pedagang kecil, kita belum tahu siapa bandar besarnya. Sampai sekarang belum ada bandar besarnya ditangkap,” katanya Rabu (30/9/2020).

Kata dia, khusus di Bone di kampung halaman Kapolri, Jendral Pol Idham Azis peredaran narkoba sudah sampai ditingkat dusun. Dan itu didominasi pelajar SMP. Ada yang memakai ekstasi dan sabu-sabu.

Baca Juga: Jadi Tersangka Kasus Konser Dangdut, Golkar Tak Mau Buru-Buru Copot Wasmad Edi Susilo

“Ini harus menjadi perhatian serius. Khusus generasi muda di kampung halaman Kapolri dan kampung halaman saya di Bone. Sebab tingkat kejahatan meningkat, perceraian menigkat, kekerasan rumah tangga semakin besar,” tegasnya.

Selain itu politikus berlambang pohon beringin itu meminta kepada Kapolda Sulsel dan Kapolres Bone agar anggota Satresnarkoba dilakukan tes urine. “Kalau bisa diadakan tes urine kepada aparat khususnya di bagian narkoba,” sambungnya. {fajar}

fokus berita : #Andi Rio Idris Padjalangi