15 Oktober 2020

Lomba Puisi HUT Ke-56 Golkar, 36 Jurnalis se-Indonesia Berpartisipasi

Berita Golkar - Pangeran Negara, Putu Fajar Arcana, dan Baiq Mutia ditetapkan sebagai juara pertama, kedua dan ketiga dalam ajang Lomba Baca Puisi Khusus untuk Jurnalis se – Indonesia dalam rangka HUT Partai Golkar ke-56.

Sedangkan pemenang harapan satu, dua dan tiga adalah Dheni Kurnia, Ramon Damora dan Sabrina Fadilah Az-Zahra. Keenam pemenang tersebut terpilih menjadi yang terbaik, setelah secara estetika bertarung dengan 30 peserta lainnya, dari seluruh Indonesia.

Masing-masing peserta mengirimkan dua rekaman sajak yang dibawakan. Yaitu sajak wajib milik penyair Chairil Anwar, WS. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Taufik Ismail dan Sapardi Djoko Damono. Dan Puisi bebas milik siapapun, juga karya sendiri.

Baca Juga: Suhaili FT Kerahkan Kader Golkar NTB Menangkan Mohan Roliskana-TGH Mujiburrahman di Kota Mataram

Ajang yang berpuncak Auditorium Abdul Muis, Gedung DPR, RI, Jakarta, sebagaimana dijelaskan anggota Dewan Juri yang terdiri dari Sutardji Calzoum Bachri, Lola Amaria, Wina Armada Sukardi, dan Beny Benk.

Lola Amaria dalam catatan Anggota Dewan Juri mejelaskan, ada kecenderungan dan sayangnya, diam-diam menjadi kesadaran publik, dewasa ini membaca sajak biasanya dilakukan dengan dramatisasi yang berlebihan.

Akibatnya, pembacaan sajak justru menjadi artifisial, berlebihan (lebai) dan menjadi tidak wajar. Karena banyak yang membaca sajak dengan cara marah-marah. “Hal ini menjadi makin memprihatinkan, karena pembaca sajak justru seperti kehilangan orientasi atas sajak yang dibawakannya,” kata Lola Amaria.

Baca Juga: Imam Besar FPI Habib Rizieq Bakal Pimpin Revolusi, Dave Laksono Minta Polri Bersikap Tegas

Wakil Ketua Umum Korbid Komunikasi dan Informasi Partai Golkar Nurul Arifin, dalam sambutannya mengaku terkejut dengan animo masyarakat, teristimewa sejumlah penyair di ajang yang kali pertama bergulir ini.

“Surprise dengan animo masyarakat. Apalagi pesertanya adalah penyair yang juga wartawan. Intinya, Golkar ingin bersama media, kalau media maju, Indonesia kuat. Golkar ingin membuat negara ini establish,” kata Nurul Arifin yang hadir mewakili Ketuua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto yang juga sempat membacakan sajak “Menatap Merah Putih” karya Sapardi Djoko Damono via tapping.

Meutya Hafid, Ketua Komisi I DPR RI, yang sekaligus selalu penggagas ajang ini berharap, gelaran luar biasa ini, akan menyempurna di tahun berikutnya.

Baca Juga: Di Tangan Adrianus Bria Seran, Golkar Malaka Menggeliat Bak Cendawan Tumbuh di Musim Hujan

“Yang masuk (pembacanya) bagus-bagus. Jadi memang tidak mudah menilainya. Apapun itu, dunia politik harus dekat dengan dunia seni, agar kita sama sama dapat berkarya dengan kewarasan dan rasa,” kata Meutya Hafid.

Apa yang dikatakan Meutya Hafid dibenarkan oleh salah satu Dewan Juri, Sutardji Calzoum Bachri. Presiden Penyair Indonesia itu mengutip John F. Kennedy; “Jika politik bengkok, puisi akan memperbaikinya,” katanya.

Sutardji menerangkan, puisi (sebenarnya) tidak berindah-indah dan bercantik-cantik dengan kata-kata.

“Kalau mau berindah indah dengan kata-kata, (pergi) ke iklan saja. Puisi adalah roh, harga hidup, nilai-nilai baru. Karena puisi memberikan tambahan makna pada kata-kata."

Baca Juga: Azis Syamsuddin Persilakan Masyarakat Lakukan Judicial Review UU Cipta Kerja Bila Tak Setuju

"Ada pemberdayaan pada kata-kata. Perbedayaan terjadi karena imajinasi hanya bisa dilakukan dengan kata-kata. Tuhan mengawali semua dengan kata, kun…..,” katanya sebelum membacakan sajaknya sendiri berjudul “Tanah Air Mata”, yang diawali dengan menembang “Summertime” milik George Gershwin, dengan stamina dan daya pukau yang masih luar biasa.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Juri, Wina Armada Sukardi mengatakan penilaian tidak parsial, tapi in toto (menyeluruh). Atau angka belakangan, karena angka menunjukkan relativitas belaka. Meski parameternya sama.

Turunannya, masih menurut Wina Armada Sukardi, tiap anggota Dewan Juri, hanya menggradasikan penilaiannya. Kemudian tinggal dicocokkan 10 nama dari masing-masing pilihan Anggota Dewan Juri. Dari 10 nama yang dikumpulkan, itu akhirnya ditemukan irisan pemenangnya. Yang sebelumnya kembali diuji nama-nama puncaknya. {realitarakyat}

fokus berita : #Nurul Arifin #Meutya Hafid