16 Oktober 2020

Jangkau Generasi Milenial, Meutya Hafid Minta Pemuka Agama Optimalkan Medsos Jadi Sarana Dakwah

Berita Golkar - Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, meminta para pemuka agama untuk beradaptasi pada era industri digital 4.0. Menurutnya, para pemuka agama perlu beradaptasi dengan menggunakan media sosial (medsos) sebagai sarana ceramah atau dakwah agar bisa menjangkau generasi milenial.

Menurut data survei Kementerian Agama (Kemenag) pada tahun 2019 terdapat 90,9% dari 400 mahasiswa yang menyatakan lebih suka memperoleh informasi keagamaan dari video-video ceramah di internet. Koran atau artikel cetak merupakan sarana yang paling jarang dipilih.

"Hal ini bisa menggambarkan perubahan pola sikap, pengetahuan dan perilaku generasi milenial. Maka pendakwah perlu beradaptasi di ruang digital untuk pemahaman literasi keagamaan bagi milenial," ujar Meutya dalam Webinar Optimalisasi Digital untuk Syiar Sosial Keagamaan, Jumat (16/10).

Baca Juga: Lomba Puisi HUT Ke-56 Golkar, 36 Jurnalis se-Indonesia Berpartisipasi

Meutya menambahkan, agar bisa lebih ramah dengan milenial, ia menyarankan, para pemuka agama juga bisa memanfaatkan sarana digital, seperti YouTube, Spotify bahkan Tiktok. Karena, aplikasi dan layanan streaming tersebut sangat dekat dengan mayoritas anak muda atau milenial.

Selain itu, kata dia, dengan pemanfaatan media sosial sebagai sarana dakwah juga justru bisa memperluas jaringan dakwah secara global. Harapannya, para diaspora atau tenaga kerja yang berada di luar Indonesia juga bisa mengikuti ceramah lewat media sosial.

"Jadi mediumnya enggak harus YouTube atau Google di internet berbagai ruang banyak sekali, termasuk Tiktok misalnya, aplikasi yang notabene bukan karya dalam negeri bisa dimanfaatkan konten dakwah," imbuh Meutya.

Baca Juga: Susun Aturan Turunan UU Cipta Kerja, Bamsoet Minta Pemerintah Libatkan Akademisi

Ia menilai, para pendakwah juga bisa mengubah sudut pandang masyarakat akan media sosial. Dengan adanya dakwah lewat media sosial atau sarana internet, maka dunia internet tidak hanya dinilai menghadirkan hiburan semata.

"Jadi medsos itu tidak melulu soal hiburan, ke depan harus bisa mendorong orang mengakses internet itu untuk cari hal positif misalnya, ceramah agama," ucap dia.

Namun, politisi Partai Golkar ini juga mendorong para pemuka agama agar memahami kembali sarana internet sebagai media dakwah. Karena, internet merupakan sarana yang baru untuk dijadikan media dakwah.

Baca Juga: Di Tengah Pandemi, Wagub Andika Hazrumy Minta UMKM Banten Bertransformasi Ke Ekonomi Digital

Ia menjelaskan, setidaknya ada tiga dasar hukum untuk dakwah melalui sarana internet. Ada, Undang-Undang (UU) Nomor 32 tahun 2002 tentang Penyiaran, lalu UU Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi dan UU Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE)

"Jadi perlu paham juga agar tidak melanggar ketentuan hukum. Karena dalam internet itu kita ingin kebebasan berekspresi kan, jadi dakwah agama lewat internet bisa selama tidak mengandung hujatan atau ujaran kebencian terkait agama lain misalnya," tutur dia. {validnews}

fokus berita : #Meutya Hafid