05 November 2020

Ini Solusi Yulius Heri Susanto Atas Anjloknya Harga Singkong di Lampung Tengah

Berita Golkar - Wakil Ketua I DPRD Lamteng Yulius Heri Susanto mengatakan, dibutuhkan perhatian seluruh pemangku kebijakan di kabupaten ini untuk mencari akar masalah dan menemukan jalan keluar atas persoalan anjloknya harga singkong.

Petani singkong di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, mengaku mengalami kerugian atas anjloknya harga singkong di kabupaten tersebut.

"Selama ini belum pernah membahas secara detail dan rinci terkait pembahasan harga singkong (pemerintah, dinas, perusahaan dan petani). Sehingga kondisi anjloknya harga singkong ini selalu terjadi," terang Yulius Heri Susanto, Kamis.

Baca Juga: Tekad Adi Sukemi Jadikan Pangkalan Kerinci Kota Modern, Berbudaya dan Religius

Di antara jalan keluar yang harus diambil oleh pemerintah daerah, kata Yulius, adalah kembali mengaktifkan pabrik pengolahan singkong tapioka di setiap kampung.

"Menurut saya, di antara solusi menyiasati harga singkong agar stabil, yaitu mengaktifkan kembali pabrik tapioka di tingkat desa," ujar Yulius Heri Susanto.

Pengaktifan pabrik pengolahan singkong di tingkat desa, ujar politisi Golkar Lampung Tengah itu, bisa dilakukan memanfaatkan anggaran dana desa (ADD) yang diterima kampung.

Baca Juga: Protes Macron Hina Islam, Golkar dan MUI Bondowoso Serukan Boikot Produk Prancis

"Adanya pabrik pengolahan yang dikelola BUMD atau kampung, dapat membuat harga singkong berdaya saing, sehingga banyak pilihan petani untuk menjual ke mana singkong mereka," pungkas Yulius Heri Susanto.

Pandemi Covid-19 Pengaruh

Sejumlah pengepul singkong di Lampung Tengah menyebut, turunnya harga singkong, juga dipengaruhi pandemi Covid-19, yang saat ini masih berlangsung. Petani singkong di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, mengaku mengalami kerugian atas anjloknya harga singkong di kabupaten tersebut.

Santoso salah seorang pemilik lapak singkong mengungkapkan, faktor pandemi yang saat ini masih berlangsung, mengakibatkan produksi perusahaan juga menurun.

Baca Juga: Bukan Di Jalan Raya, Dedi Mulyadi Nilai Motor Gede Hanya Cocok Untuk Kendaraan Militer

"Jadinya permintaan dari pabrik (pengolahan singkong menjadi tepung) juga menurun. Produksi pabrik tidak normal waktu sebelum pandemi Covid-19," jelas Santoso, Kamis.

Ia menambahkan, selain jumlah produksi pengolahan singkong yang turun, jumlah ekspor tepung singkong juga mengalami penurunan ke sejumlah negara di luar negeri.

"Penerimaan (panen singkong) kami saja di lapak mengalami penurunan dari petani. Mungkin sebagian petani enggan menjual dan sebagiannya lagi mengganti tumbuhan di lahan mereka dengan komoditi lainnya," ujar Santoso.

Baca Juga: Bobby Nasution Ingin Kota Medan Jadi Paris Van Soematra, Masyarakat Anggap Angin Sorga

Potongan Besar

Selain faktor anjloknya harga singkong di pasaran, faktor lain yang membuat petani singkong merugi adalah karena besarnya potongan yang diberlakukan pengepul dan perusahaan.

Petani singkong di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, mengaku mengalami kerugian atas anjloknya harga singkong di kabupaten tersebut. Rendi petani singkong lainnya menjelaskan, potongan berat singkong basah di setiap tempat pengepul dan perusahaan, berbeda-beda besarnya.

"Beda-beda (potongan harga singkong basah). Tapi angkanya menurut kami sangat ringan, mulai dari 20 hingga 30 persen," terang Rendi, Kamis.

Baca Juga: Sindy Syakir Pimpin Kader Golkar Berikan Bantuan Ke 3 Kecamatan Terdampak Banjir di Cilacap

Ia menambahkan, harga rata-rata yang didapat petani dengan ditambah potongan harga setiap kilogramnya hanya Rp 750 per kilogram.

"Itulah mengapa kami melaporkan kondisi ini kepada wakil rakyat DPRD Lampung Tengah. Semoga beliau (Yulius Heri) di DPRD Lampung Tengah dapat memberikan jalan keluar," imbuh Rendi.

Temui DPRD Lampung Tengah

Untuk menyampaikan keluhan anjloknya harga singkong tersebut, perwakilan petani singkong menemui Wakil Ketua I DPRD Lampung Tengah, Yulius Heri Susanto.

Petani singkong di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, mengaku mengalami kerugian atas anjloknya harga singkong di kabupaten tersebut.

Baca Juga: Bamsoet Dukung Erdogan dan Jokowi Kecam Keras Pernyataan Macron Hina Islam dan Nabi Muhammad

Para petani singkong mendatangi kediaman Yulius di kawasan Kampung Karang Endah, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah, Kamis (5/11/2020).

Heri, salah seorang perwakilan petani, meminta supaya DPRD Lampung Tengah dapat memberikan solusi dan jalan keluar terkait harga singkong yang tak kunjung stabil.

"Kehadiran kami ke sini (bertemu Wakil Ketua I) untuk memberitahukan kepada unsur pimpinan dewan, saat ini harga singkong di bawah membuat petani menjerit," kata Heri, Kamis.

Baca Juga: AMPG Bakal Terus-Menerus Glorifikasi Hal-Hal Positif Dalam UU Cipta Kerja

Ditambahkan Heri, petani meminta kepada DPRD Lampung Tengah supaya dapat membuat regulasi terkait harga singkong di tingkat pengepul dan perusahaan. "Supaya dapat dibuatkan standar harga (singkong), sehingga ketika (harga) turun, tidak begitu membuat petani merugi," jelas Heri.

Menurutnya, petani singkong seperti dihadapkan pada simalakama, mereka harus menjual singkong dengan harga turun, atau membiarkan singkong membusuk.

Sebelumnya diberitakan, petani singkong di sejumlah kecamatan di Lampung Tengah, mengaku mengalami kerugian atas anjloknya harga singkong di kabupaten tersebut.

Baca Juga: Gde Sumarjaya Linggih Turun Gunung Beri Semangat Mas Sumatri-Made Sukerena di Karangasem

Petani menyebutkan, saat ini komoditi unggulan Lampung Tengah itu mengalami penurunan harga hingga Rp 100 rupiah per kilogramnya.

"Kalau sekarang harga singkong Rp 800 per kilogram. Padahal sebelumnya di angka Rp 900 per kilogram. Jelas kondisi ini membuat kami tak mendapat keuntungan," kata Iskandar, salah seorang petani singkong di Kecamatan Bumi Ratunuban, Lampung Tengah, Kamis (5/11/2020).

Alasan petani mengalami kerugian, kata Iskandar, karena untuk pupuk dan bibit singkong, mereka harus mengeluarkan sedikitnya Rp 2 juta untuk setiap satu hektare lahan.

Baca Juga: Pilkada 2020 Jadi Ajang Pertaruhan Keberhasilan Syamsuar Sebagai Nakhoda Golkar Riau

"Kalau harga normal agar kami bisa mendapatkan sedikit keuntungan dari situ (menanam singkong), minimal di angka Rp 1.200 per kilogram," jelas Iskandar.

Untuk itu, ia meminta supaya pemerintah dapat memperhatikan kondisi tersebut, sehingga mereka tidak terus mengalami kerugian. {lampung.tribunnews}

fokus berita : #Yulius Heri Susanto