15 Desember 2020

Kalah di Pilkada Indramayu, Golkar Harus Beri Sanksi Tegas Kader Mbalelo

Berita Golkar - Pilkada serentak yang digelar 9 Desember lalu masih menyisakan banyak cerita. Salah satunya adalah soal kekalahan Partai Golkar di Pilkada Indramayu , Jawa Barat.

Dalam data KPU, hasil hitung cepat (quick count) pemilihan bupati Indramayu, pasangan calon nomor 4, Nina Agustina Dai Bachtiar-Lucky Hakim berhasil menjadi jawara. Pasangan yang didukung PDI Perjuangan, Gerindra, dan NasDem ini meraih suara 36,8% atau 314.111 suara.

Sementara pasangan yang diusung Partai Golkar, Daniel Mutaqien Syafiuddin-Taufik Hidayat (Mantap) meraih 28,4% atau 242.558 suara pemilih. Kemudian menguntit di bawahnya adalah pasangan nomor urut 1 Muhamad Sholihin-Ratnawati. Paslon yang diusung PKB, PKS, Demokrat, dan Hanura ini meraih 26,1% atau 222.975 suara.

Baca Juga: Kader Beringin Bertumbangan di 7 Pilkada se-Kalsel, Peluang Tersisa Tinggal di Kotabaru

Dan terakhir, pasangan nomor urut 2 Toto Sucartono-Deis Handika yang maju dari jalur independen (perseorangan) meraih 8,6% atau 73.495 suara. 

Pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Muhammad Iqbal Syafrudin mengatakan, kekalahan Partai Golkar di Kabupaten Indramayu bukan tanpa alasan. Setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi kekalahan tersebut. Pertama adalah faktor internal Golkar. Faktor internal ini ditandai dengan adanya pergesekan dan konflik internal Partai Golkar.

"Saya kira internal Golkar di Kabupaten Indramayu dalam Pilkada kemarin enggak selesai, sehingga soliditas kader dalam memenangkan Pak Daniel yang sudah resmi diusung DPP sangat lemah, dan itu yang menjadi alasan utama kenapa Partai Golkar di sana bisa kalah meskipun sudah berjaya puluhan tahun," kata Iqbal dalam keterangan pers yang diterima wartawan, Selasa (15/12/2020).

Baca Juga: Ratu Ati-Sokhidin Laporkan Helldy-Sanuji Terkait Iming-Iming Rp.50 Juta dan Bagi-Bagi KCS

Akibat konflik itu, kader-kader Partai Golkar tidak satu suara dalam memenangkan calon yang diusung secara resmi. Mereka tidak loyal dan banyak yang mbalelo dan bahkan menyebrang memilih calon dari partai lain. 

"Kesetiaan itu sangat penting. Dan karenanya, saya kira DPP Golkar perlu memberikan punishment dan sanksi tegas terhadap kader-kader jika memang sudah melakukan pengkhianatan terhadap arah kebijakan partai," kata Iqbal.

"Begitu pun jika Golkar Indramayu ingin berjaya kmbali, maka saya kira konflik harus sudah diakhiri. Mahkamah partai harus menolak gugatan yang diajukan Saefudin cs terhadap Musda X yang telah digelarnya."

Baca Juga: Hanya Menang di Badung dan Jembrana Dari 6 Pilkada se-Bali, Sugawa Korry Tetap Bersyukur

Faktor kedua yang menyebabkan kekalahan calon dari Partai Golkar adalah masih kuatnya politik uang (money politics). Menurut Iqbal, faktor ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena praktik ini sangat masif terjadi dalam Pilkada Kabupaten Indramayu.

"Konon, politik uang di Kabupaten Indramayu dalam pilkada kemarin sangat masif. Praktik jual-beli suara begitu tampak dan ini sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Bahkan sampai terjadi tawar-menawar harga. Artinya jika ada calon yang mengucurkan dana lebih besar, maka pemilih akan menarik diri dan pindah ke calon yang bisa ngasih lebih besar."

"Jika ini terus terjadi sangat disayangkan, karena ini akan berpengaruh besar tidak hanya pada siapa yang dipilih, tetap juga pada kualitas demokrasi kita yang dipastikan bisa makin memburuk," katanya. {nasional.sindonews}

fokus berita : #Muhammad Iqbal Syafrudin