02 Februari 2021

Sesalkan Kudeta Junta Militer, Meutya Hafid Nilai Myanmar Alami Kemunduran Demokrasi

Berita Golkar - Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid, meminta semua pihak menahan diri terkait persoalan kudeta terhadap pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint yang terjadi di Myanmar. Meutya menilai Myanmar tengah mengalami kemunduran demokrasi.

"Ini merupakan kemunduran dalam transisi demokrasi di Myanmar. Kami menyesalkan kudeta junta militer yang disebabkan salah satunya karena ketidakpuasan akan hasil pemilu," kata Meutya saat dihubungi, Senin (1/2/2021).

Meutya meminta semua pihak menahan diri terkait persoalan di Myanmar. Menurutnya, persoalan itu lebih baik diselesaikan secara dialog dan konstitusi oleh disepakati semua pihak.

Baca Juga: Ketua Lembaga Komunikasi dan Informasi Partai Golkar, Ricky Rachmadi Meninggal Dunia

"Kami meminta kepada semua pihak untuk menahan diri dan menyelesaikan semua permasalahan melalui proses dialog dan mematuhi konstitusi yang telah disepakati oleh semua pihak. Persoalan pemilu haruslah diselesaikan melalui mekanisme yang sah dan sesuai aturan hukum," ujarnya.

Ketua DPP Partai Golkar tersebut juga secara khusus meminta Pemerintah Indonesia tidak melakukan intervensi terhadap kejadian tersebut. Menurutnya, itu langkah menghormati kedaulatan negara lain.

"Indonesia tetap pada prinsip non-interference, tidak bisa mencampuri urusan internal dan menghormati kedaulatan negara lain, khususnya negara anggota ASEAN. Kami hanya bisa berharap seluruh negara menentang rezim junta militer yang menggulingkan pemerintahan yang sah, dan mendukung penyelesaian melalui cara-cara yang demokratis," ucapnya. 

Baca Juga: Sahat Tua Simanjuntak Bawa Sendiri 2000 Paket Bantuan Untuk Korban Banjir Jember

Diketahui bahwa saat ini Myanmar tengah bergejolak usai tokoh politik Aung San Suu Kyi ditahan. Dia dan Presiden Myanmar ditahan setelah beberapa minggu terjadi peningkatan ketegangan antara militer dan pemerintah sipil atas tuduhan kecurangan dalam pemilihan umum pada November 2020.

Seperti dilansir AFP, Senin (1/2), Myo Nyunt, juru bicara Partai Liga Demokrasi Nasional (NLD) yang menaungi Suu Kyi dan kini berkuasa di Myanmar, membenarkan kabar penahanan Suu Kyi oleh militer Myanmar.

Myo Nyunt menuturkan Suu Kyi dan beberapa tokoh senior pemerintahan lainnya ditahan di Ibu Kota Naypyitaw. Salah satu tokoh senior yang ditahan adalah Presiden Myanmar Win Myint. Dia juga menambahkan beberapa menteri dari negara bagian besar di Myanmar juga ditahan oleh militer. "Militer tampaknya menguasai ibu kota sekarang," imbuhnya.

Baca Juga: Ridwan Hisjam Usulkan Pembangunan Smelter Freeport di Gresik Diambil Alih BUMN

Lebih lanjut, Myo Nyunt juga menyatakan NLD menduga penahanan Suu Kyi dan tokoh senior ini merupakan bagian dari upaya kudeta oleh militer Myanmar. "Dengan situasi yang kami lihat terjadi sekarang, kami harus berasumsi bahwa militer melakukan kudeta," ujarnya seperti dikutip AFP. {news.detik}

fokus berita : #Meutya Hafid