03 Februari 2021

Pengamat Unsrat Ungkap Alasan Golkar Kalah Total di Pilkada 2020 se-Sulut

Berita Golkar - Partai Golkar Sulawesi Utara (Sulut) merupakan salah aset politik yang kuat di Sulut. Didalamnya banyak figur-figur yang memiliki nama besar karena prestasi dan dedikasi. Namun ironinya partai itu kalah telak baik di Pemilihan Umum (Pemilu) atau pun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Menurut Dosen Kepemiluan Unsrat, Ferry Liando, ada sejumlah faktor mengapa Golkar bisa kalah. Pertama, Golkar belum memiliki struktur kelembagaan yang kuat dan solid.

“Konflik internal terus mendera parpol itu. Perbedaan pendapat tidak dimanage secara profesional. Kader yang tidak sejalan dengan elit begitu dengan mudah dikesampingkan,” ujar Ferry Liando.

Baca Juga: Misbakhun Ingatkan Menkeu Sri Mulyani Agar Insentif Perpajakan Bagi Mitra LPI Tidak Kontra Produktif

Ia menambahkan, bahkan sejumlah Tokoh-tokoh besar seperti Vreke Runtu, Jimmy Rimba Rogi, Marhany Pua dan Dolvie Angkow dikesampingkan dari struktur parpol.

“Padahal figur-figur ini memiliki nama besar dan banyak pengikut. Harusnya mereka ini adalah aset parpol yang harus dijaga bukan didepak,” ujarnya.

Kedua, Partai Golkar kerap menyampingkan kader-kader militan di parpol untuk diusung sebagai calon. “Malahan parpol itu dimanfatakn pihak lain yang bukan kader untuk maju sebagai calon,” ujar Liando.

Baca Juga: Namanya Mencuat Jadi Ketua Golkar Sulut, Jerry Sambuaga Pilih Fokus Sebagai Wamendag

Lanjutnya, pengalaman Pilkada di Tomohon dan Manado menjadi sebuah pembelajaran. “Apalagi berdasarkan pengakuan salah satu calon bahwa dirinya sempat menyetorkan uang pada elit partai yang diduga sebagai kompensasi karena diusung sebagai calon dan itu tidak dibantah oleh sejumlah elit di partai,” terang Liando.

Ketiga, runtuhnya Partai Golkar di Sulut disebabkan juga karena pesaing utama yaitu PDIP sedang dalam kondisi yang bagus.

“Kelembagaan PDIP sangat kuat, jarang ada riak-riak konflik dan karena pengaruh individu-individu tertentu seperti sosok dwitunggal Olly Dondokambey-Steven Kandouw yang menjadi daya tarik pemilih,” jelasnya.

Baca Juga: Sesalkan Kudeta Junta Militer, Meutya Hafid Nilai Myanmar Alami Kemunduran Demokrasi

Tambahnya, Olly-Steven menjadi salah satu contoh pasangan pemimpin karena tetap Harmonis selama 5 tahun menjabat. “Kebanyakan pasangan walikota/bupati dan wakilnya di Sulut tidak harmonis dan selalu dilanda konflik. Birokrasi terpecah pada dua gerbong akibat adanya 2 matahari,” katanya.

Liando menambahkan lagi, ujungnya adalah pelayanan masyarakat menjadi buruk. “Kekompakan Olly-Steven sebagai pasangan pemimpin yang saling melengkapi menjadi modal mereka dipercaya masyarakat,” ujarnya. {beritamanado}

fokus berita : #Ferry Liando