06 Februari 2021

Peternak GUPBI Sambangi Kantor Golkar, Curhat Bali Dibanjiri Daging Babi Sampah

Berita Golkar - Para peternak babi yang tergabung dalam Gabungan Usaha Peternakan Babi Indonesia (GUPBI) Bali mendatangi Kantor DPD I Golkar Bali di Jalan Surapati Nomor 9 Denpasar, Jumat (5/2) siang.

Para peternak ini meminta Golkar Bali melalui Fraksi Golkar di DPRD Bali dan DPRD Kabupaten dan Kota se Bali menyelamatkan nasib peternak babi di Bali yang dirugikan, karena adanya serbuan daging babi sampah (diduga dari babi mati karena suspect flu babi) dari luar Bali.

Para perwakilan peternak dikoordinatori Ketua GUPBI Bali I Ketut Ari Suyasa ditemui Ketua DPD I Golkar Bali dan Sekretaris DPD I Made Dauh Wijana. Ari Suyasa didampingi perwakilan peternak seluruh kabupaten dan kota.

Baca Juga: Agung Widyantoro Desak KPUD NTT Gelar Pemungutan Suara Ulang di Sabu Raijua

Ketua GUBPI Bali, Ari Suyasa mengatakan pihaknya datang ke Kantor Golkar Bali menyampaikan aspirasi para peternak untuk bisa diperjuangkan dan disuarakan kepada pemerintah daerah terkait kondisi peternak babi saat ini.

"Kami tidak berpolitik di sini. Kami peternak babi yang kebanyakan anak-anak muda gelisah dengan masuknya daging babi yang kurang sehat ke Bali. Ini sangat berbahaya. Daging sampah ini bisa membahayakan babi di Bali karena tidak ada yang menjamin bahwa daging sampah ini bebas suspect flu babi," ujar peternak asal Desa Abiansemal, Kecamatan Abiansemal, Badung ini.

Ari Suyasa menjelaskan serbuan daging babi sampah ke Bali juga membahayakan masyarakat dari sisi kesehatan. Karena Babi kena suspect dikirim ke Bali. Sementara dari harga juga mahal, yakni Rp 90.000 per kilogram.

 

Baca Juga: Tangkal COVID-19 di NTT, Mohamad Anshor Minta Penambahan Anggaran Sarung Tangan Tenaga Medis

"Jangan salah, harga daging babi saat ini mahal, justru tidak menguntungkan peternak di Bali. Kami harapkan masyarakat tidak terkecoh dan kita berharap wakil rakyat kita bisa menghentikan mafia yang meloloskan daging sampah ini ke Bali," ujar Ari Suyasa.

Selain itu fenomena lain di Bali saat ini keberadaan jumlah babi di Bali sudah sangat sedikit, yakni hanya 10 persen dari 1 juta ekor pada 6 bulan lalu. "Sebelum pandemi Covid-19 babi di Bali jumlahnya mencapai 1 juta ekor. Kini hanya 10 persennya," ujar Ari Suyasa.

Kata Ari Suyasa kalau tidak terjadi gerakan para mafia daging babi sampah ini harga normal babi sekitar Rp 45.000 per ekor. Dia menduga daging babi sampah ini didatangkan dari Solo, Jawa Tengah.

Baca Juga: Taufiq Erman Pimpin AMPG Riau Bagikan 300 Nasi Kotak Untuk Tukang Ojek dan Sopir Truk

"Sangat mencurigakan kenapa mereka tidak kirim ke Jakarta dengan biaya pengiriman lebih murah? Kenapa ke Bali? Ya ini patut dicurigai sebagai upaya mematikan peternak babi di Bali dan merusak harga daging babi di Bali," tegas Ari Suyasa.

Atas kondisi itu Ketua DPD I Golkar Bali, Nyoman Sugawa Korry akan memperjuangkan ke pemerintah supaya dilakukan upaya pencegahan terhadap masuknya daging babi yang diduga babi tidak sehat ini. "Jangan sampai ada wabah suspect flu babi di Bali dan mengancam babi milik peternak di Bali," ujar Wakil Ketua DPRD Bali ini.

Sugawa Korry menyebutkan peternak babi ini harus diselamatkan karena babi merupakan hajat hidup orang banyak di Bali. Harus ada pembinaan kepada peternak babi. Selain itu harus ada restocking babi di Bali.

"Harus ada restocking bibit babi di Bali. Pemerintah di Bali bisa membantu peternak dengan menganggarkan bibit dan pakan, mengupayakan pengobatan untuk mencegah adanya suspect. Yang paling penting harga daging di pasaran harus terjaga," ujar Sugawa Korry. {nusabali}

fokus berita : #Ari Suyasa #Sugawa Korry