12 Februari 2021

Darul Siska Pertanyakan Alasan Kemenkes Alokasikan Rp.479 Miliar Untuk Pasien Isolasi Mandiri

Berita Golkar - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan soal anggaran sebesar Rp479 miliar yang dialokasikan bagi pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri.

Penjelasan ini disampaikan Budi setelah anggaran isolasi mandiri di rumah dikritik anggota Komisi IX DPR dari Fraksi Partai Golkar Darul Siska dan PDIP Rahmad Handoyo pada Rapat Kerja sehari sebelumnya. Anggaran ini dinilai berpotensi menimbulkan penyimpangan.

"Banyak pertanyaan kenapa isolasi di rumah dikasih anggaran, itu sebenarnya terkait sebagian besar untuk obat-obatannya pak," kata Budi dalam Rapat Kerja Komisi IX DPR, Selasa (9/2).

Baca Juga: Supian HK Siap Lepas Jabatan Ketua DPRD Kalsel Jika Pegunungan Meratus Ditambang

"Jadi walaupun dia sudah teridentifikasi, tapi ringan, dia dimasukkan di rumah. Kalau dia positif konfirmasi, kita kasih minimum obat-obatan, vitamin dan anti virus anti virus oseltamivir. Tapi kalau dia hanya kontak erat kita kasih vitamin-vitamin saja," imbuhnya.

Kemenkes mengalokasikan anggaran untuk pelaksanaan isolasi, baik secara mandiri maupun terpusat, untuk pasien Covid-19 dengan total Rp5,5 triliun.

Untuk isolasi mandiri, total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp479 miliar yang mencakup pemberian dana untuk 273.662 orang yang melakukan isolasi mandiri karena positif Covid-19. Dari dana tersebut total setiap pasiennya mendapat dana unit cost (UC) per hari Rp125,2 ribu selama 14 hari.

Baca Juga: Ace Hasan Bantah Batalnya Revisi UU Pemilu Terkait Agenda Jokowi Untuk Gibran di Pilgub DKI 2024

Dana tersebut masih mendapat tambahan lagi. Pertama untuk supervisi puskesmas Rp100 ribu, untuk biaya pemeriksaan sederhana (laboratorium) Rp249,5 ribu, untuk biaya obat simptomatis Rp3.540, serta tambahan dana Rp1,4 juta yang dialokasikan untuk biaya konsumsi atau gizi. Sehingga total dana untuk setiap pasien mencapai mencapai Rp1,7 juta.

Sementara untuk isolasi terpusat, total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp5 triliun, yang mencakup pemberian dana untuk 1.094.650 orang yang melakukan isolasi terpusat, baik di hotel maupun di wisma karena positif Covid-19.

Dari dana tersebut, total setiap pasiennya mendapat dana UC per hari sebesar Rp328,7 ribu selama 14 hari. Dana tersebut masih mendapat tambahan lagi. Pertama untuk supervisi puskesmas Rp150 ribu, untuk biaya pemeriksaan sederhana (laboratorium) Rp249,5 ribu, dan untuk biaya obat simptomatis Rp3.540.

Baca Juga: Dukung Kritik Masyarakat ke Pemerintah, Azis Syamsuddin: Yang Membangun, Jangan Hantam Kromo

Sedangkan untuk biaya akomodasi dan konsumsi dialokasikan lebih tinggi dari yang melakukan isolasi mandiri di rumah, yakni sebesar Rp4,2 juta. Sehingga total dana untuk setiap pasien isolasi terpusat mencapai mencapai Rp4,9 juta.

Sebelumnya, Anggota Komisi IX DPR RI dapil I Sumbar Darul Siska mempertanyakan pertimbangan dan alasan Kemenkes mengalokasikan anggaran untuk pasien Covid-19 yang isolasi mandiri. Menurutnya, alokasi anggaran ratusan miliar rupiah itu berpotensi memunculkan penyimpangan.

"Dan ini teknisnya nanti bagaimana? Apakah ini tidak menjadi sesuatu yang bisa disimpangkan atau bisa disalahgunakan oleh pengelolanya di tingkat bawah, karena ini sulit untuk dipertanggungjawabkan," kata Darul.

Baca Juga: Rayakan HUT Ke-19, Taufiq Erman: AMPG Dapat Diandalkan Tingkatkan Elektabilitas Golkar di Riau

Senada, Rahmad mempertanyakan alasan Kemenkes membantu biaya isolasi mandiri pasien positif Covid-19. Menurutnya banyak masyarakat di pedesaan terdalam melakukan isolasi mandiri. Dengan alokasi dana tersebut, ia bertanya bagaimana kemudian pemerintah bisa menjangkau.

"Kalau setiap penduduk itu yang isolasi mandiri mendapatkan hak konsumsi maupun gizi Rp1,4 juta per 14 hari tentu uang besar. Saya setuju, kalau benar-benar itu sampai, haknya juga sampai. Tapi kalau ternyata saudara kita yang mendapatkan isolasi mandiri didata oh yang isolasi mandiri jumlahnya sekian ribu, ternyata tidak sampai, itu bentuk moral hazard yang potensi moral hazard, ada potensi lost, ada potensi moral hazard di lapangan," tutur Rahmad. {minangkabaunews}

fokus berita : #Darul Siska