19 Februari 2021

Mujib Rohmat Ungkap Metode PJJ Saat Pandemi Tak Efektif Bangun Karakter Peserta Didik

Berita Golkar - Anggota Komisi X DPR RI Mujib Rohmat mengungkapkan di masa pandemi ini sektor pendidikan mengalami perubahan metode pembelajaran, dari metode tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Menurutnya pendidikan tidak semata-mata hanya untuk meningkatkan intelektualitas peserta didik, tapi lebih dari itu pendidikan juga bertujuan membangun karakter generasi bangsa. Dia pun menilai metode PJJ tidak efektif dalam pembangunan karakter peserta didik.

"Kalo memakai PJJ tentu untuk pembentukan karakter agak kesulitan tidak bisa diwakili oleh suara, karena pembentukan karakter harus ada percontohan, pertindakan perilaku yang diberikan oleh guru dan sebagainya," papar Mujib usai diskusi dengan para mitra kerja Komisi X DPR RI serta jajaran Pemerintahan Provinsi Sumatera Seelatan, di Palembang, Senin (15/2/2021).

Baca Juga: Latihan TNI Makan Tokek Hidup Minum Darah Kobra, Bobby Rizaldi Ingatkan Sesuaikan Dengan Pandemi

Menurut politisi Fraksi Partai Golkar ini metode PJJ berdampak pada permasalahan turunannya, yakni orang tua murid yang tidak seluruhnya bisa melaksanakan pendampingan kepada anaknya. Karena beberapa orang tua tidak punya latar belakang pendidikan parenting.

"Misalnya saja cucu saya, karena anak saya sarjana, barangkali bisa mendampingi cucu saya untuk belajar. Lalu bagaimana dengan anak asisten rumah tangga saya yang juga masih SD. Tentu di rumah akan banyak kegiatan hal hal yang harus dilakukan.

Di sisi lain secara pendidikan mereka tidak mengerti mendampingi anaknya. Kalau anaknya sudah boring luar biasa, jangan-jangan antara anak dan orang tua bisa terjadi suasana kurang harmonis," jelas Mujib.

Baca Juga: Bukti Serius Dukung Raperda Pesantren, Fraksi Golkar DPRD Jatim Kirim 3 Legislator Berlatar Pesantren

PJJ tidak hanya berdampak pada persoalan orang tua murid seperti diungkapkan di atas. Menurutnya metode PJJ masih banyak kekurangan karena secara geopolitik masih banyak daerah yang mengalami kendala antara lain misalnya soal internet.

Mungkin dulu pernah bermasalah dengan kuota, kuota diatasi oleh negara dengan merealokasi dan memberikan bantuan Rp 7,2 triliun untuk bantuan kuota gratis pada siswa, mahasiswa, guru dan dosen.

"Ternyata ada masalah lain lagi yaitu jaringannya, ada daerah-daerah yang merupakan pinggir laut misalnya ternyata internet terganggu kalau ada ombak besar, ada angin yang besar. Demikian pula juga di daerah-daerah pegunungan itu juga internet terganggu, demikian adik-adik kita merasa kesulitan dengan belajar sistem daring sekalipun," ungkap Mujib. {dpr}

fokus berita : #Mujib Rohmat