25 Februari 2021

Bonus Demografi, Berkah atau Bencana?

Berita Golkar - Akhir-akhir ini kita sering mendengar bahwa Indonesia sedang memasuki fase bonus demografi, yang sudah muali sejak beberapa tahun kemarin, dan puncaknya akan terjadi pada tahun 2020-2030, hingga nanti diperkirakan berakhir tahun 2045.

Bonus demografi adalah sebuah momentum yang sangat langka, hanya terjadi sekali dalam sebuah perjalanan bangsa. Bonus demografi merupakan kondisi demografi di mana jumlah penduduk usia produktif, jauh lebih besar jika dibandingkan dengan usia tidak produktif.

Menurut data terbaru Badan Pusat Statistik hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020), jumlah penduduk usia produktif Indonesia saat ini telah mencapai angka 191,09 juta jiwa atau sekitar 70,72% dari total jumlah penduduk 270,20 juta jiwa.

Bonus demografi akan memberikan dampak yang positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, terutama berdampak pada meningkatnya Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Konsumsi masyarakat juga akan meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, dan akan menggerakkan roda perekonomian bangsa. Inilah peluang terbesar untuk keluar dari negara yang berkembang dan menyongsong Indonesia sebagai negara maju.

Namun, ibarat pedang yang bermata dua, bonus demografi bisa menjelma menjadi momok yang sangat menakutkan, dan bisa berputar balik menjadi bencana demografi. Seperti yang dikatakan Presiden Jokowi Widodo, pada hari Keluarga Nasional tahun 2015 yang lalu, “Bonus demografi ibarat pedang bemata dua. Satu sisi adalah berkah, jika kita berhasil mengambil manfaatnya. Satu sisi lain, adalah bencana apabila kualitas manusia Indonesia tidak disiapkan dengan baik," ujarnya saat memperingati Hari Keluarga Nasional, pada Agustus 2015.

Dengan meledaknya angka pertumbuhan usia produktif, akan membuat melimpahnya jumlah angkatan kerja, namun tidak sejalan dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia, serta infrastruktur yang tidak mendukung, sehingga akan menimbulkan pengangguran yang tinggi, bahkan bisa jadi angka kriminalitas juga akan meningkat.

Belum lagi dengan tantangan era keterbukaaan seperti saat ini, tenaga kerja lokal akan merasa lebih terhimpit, akibat tidak mampu bersaing dengan tenaga kerja asing, sehingga bonus demografi rasanya akan menjadi tidak berguna. Apalagi, saat ini kita sedang dihadapkan oleh situasi pandemi Covid-19, yang menjadi sebuah tantangan yang berat pada tahun-tahun yang akan datang. Hal ini yang akan membuat kita akan semakin terpuruk dan tidak bisa keluar dari belenggu negara yang berkembang.

Hal yang paling fundamental untuk memanfaatkan bonus demografi adalah kesiapan dari SDM kita. Permasalahan SDM ini menjadi tantangan tersendiri bagi kita semuanya, terutama dalam sektor pendidikan. Hasil survei Programme for International Student Assesment (PISA) pada tahun 2018, menempatkan Indonesia pada urutan 74 dari 79 negara, urutan kelima dari terakhir, dalam kategori kemampuan membaca, sains, dan matematika.

PISA merupakan program tiga tahun sekali, yang diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development). Tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk di Indonesia pada tahun 2019, pada umumnya juga hanya mencapai pendidikan menengah. Menurut data BPS, penduduk usia 15 tahun ke atas, hanya satu dari empat penduduk yang berhasil menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang Perguruan Tinggi (PT).

Pada saat pendemi, pemerintah Indonesia mewajibkan proses belajar mengajar dilakukan secara daring atau online. Ini adalah sebuah adaptasi kebiasaan yang baru dan tentu masih banyak masyarakat, terkhusus di daerah pelosok yang belum terbiasa dengan kebiasaan baru ini, bahkan mungkin belum merasakannya secara maksimal.

Dampak pendidikan seacara daring ini juga, menimbulkan banyak pesimistis terhadap kualitas para peserta didik. Karena salah satu fungsi dari proses belajar mengajar secara offline dengan tatap muka, yaitu proses interaksi dan praktek secara langsung. Hal ini sangat berpengaruh, terkhusus bagi perserta didik yang punya kelas laboratorium dan praktek lapangan.

Belum lagi, belajar secara online membuat peserta didik gampang terdistraksi, oleh hal-hal lain yang membuat mereka tidak fokus untuk menyerap pelajaran.

Bonus demografi adalah kesempatan emas, untuk menyongsong Indonesia Emas 2045, namum ibarat sebuah perjalanan, tentu akan banyak tantangan dan rintangannya, seperti yang sedang kita hadapi saat ini, dengan adanya pandemi. Jangan sampai kita kalah dengan keadaan dan bernasib sama seperti Brasil dan Afrika selatan, yang gagal memanfaatkan bonus demografi. Kesempatan ini tidak datang dua kali.

Karena pada tahun 2045 nanti, banyak yang memprediksi kita akan mengalami ageing population, di mana keadaan akan membalik, angka usia tidak produktif akan jauh lebih tinggi, jika dibandingkan dengan angka usia produktif.

Oleh karena itu, ini adalah pekerjaan rumah kita bersama, tidak hanya pemerintah, namun juga masyarakat. Indonesia perlu mempersiapkan SDM yang unggul dan berkualitas, sehingga mampu menjawab peluang dan tantangan yang hadir dari momentum baik ini, jika tidak ingin menjadi bencana demografi.

Azka Aufary Ramli, Komite Hubungan Luar Negeri Badan Penelitian dan Pengambangan DPP Partai Golkar, Sekjend Bakornas Fokusmaker.

fokus berita : #Azka Aufary Ramli