15 Maret 2021

Golkar Gagas Koalisi Besar, Airlangga Dipercaya Mampu Rekatkan Kepentingan Bangsa

Berita Golkar - Partai Golkar mulai pasang kuda-kuda dengan merancang koalisi besar untuk menghadapi momentum pesta demokrasi akbar Pemilu 2024. Ketua Umum DPP Golkar Airlangga Hartarto didorong sekaligus diusung sebagai Capres di 2024.

Hal tersebut diputuskan melalui Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I di Jakarta, 5-6 Maret lalu. Lantas bagaimana strategi dan kesiapan partai berlambang beringin rimbun itu dalam menghadapi Pemilu 2024?

Politisi senior Golkar sekaligus Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar DR. (HC) Drs. H. A. M. Nurdin Halid (NH) dalam wawancara khusus mengurai hasil Rapimnas dan langkah-langkah taktis untuk bisa mengkapitalisasi dukungan Airlangga Hartarto dari partai lain, bahwa figur tersebut menjadi kebutuhan bangsa untuk Indonesia ke depan pasca berakhirnya kepemimpinan Joko Widodo selaku Presiden RI.

Baca Juga: Hindari Korupsi dan Konflik Internal, Bukan Perkara Sulit Bagi Golkar Kalahkan PDIP di Pemilu 2024

Menurut NH, Rapimnas telah mengeluarkan keputusan luar biasa strategis karena percepatan konsolidasi organisasi itu sudah terurai dengan sangat baik. Apalagi langkah-langkah konsolidasi organisasi itu sudah dilakukan untuk menjadi organisasi modern, dengan menjadikan Partai Golkar sebagai pemimpin koalisi besar.

Tinggal bagaimana DPD I dan II mengimplementasikan hal itu demi mencapai tujuan yang diinginkan, mengingat target konsolidasi organisasi harus rampung tahun ini.

“Dengan konsolidasi organisasi itulah maka kita bisa memenangkan Pileg, Pilpres dan kemungkinan juga Pilkada tahun 2024,” katanya, Senin (15/3/2021).

Baca Juga: Airlangga Bikin Golkar Melejit, Firman Soebagyo: Kinerja Ketum Bagus Otomatis Partai Terkatrol

“Nah, ketika Ketua Umum berbicara bahwa Golkar akan menjadi pemimpin koalisi besar, itu jelas alasannya, karena Golkar merupakan partai pemenang nomor dua, dengan perolehan suara sebesar 12 persen. Angka ini cukup signifikan,” sambung NH.

Sehingga putra asli Sulsel itu berpandangan, langkah Partai Golkar memang tepat sebagai pemimpin koalisi besar berdasarkan fakta dan realitas saat ini. Sebagai partai pemenang di urutan kedua, tentu Golkar tidak sulit mendorong dan mengusung AH sebagai capres. Tinggal ditopang satu partai tambahan untuk berkoalisi.

“Tetapi kita tentu berharap tidak hanya satu partai saja yang bergabung dalam koalisi melainkan beberapa partai lain. Dengan demikian, koalisi besar ini disamping menjamin sistem presidential juga ada keseimbangan dengan legislatif,” paparnya.

Baca Juga: Pengamat: Golkar Kabupaten Bandung Segera Konsolidasi Selesaikan Konflik Internal

Ada check and balances dalam sistem politik yang sehat dan demokratis, sehingga roda pemerintahan ke depan dapat berjalan lebih baik dan berkualitas demi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Hal inilah yang menjadi keinginan Golkar sebagai pemimpin koalisi besar. Bukan untuk gagah-gagahan, bukan pula hanya untuk kekuasaan, tetapi kekuasaan untuk rakyat.

“Nah, Ketika berbicara mengenai kekuasaan untuk rakyat maka harus ada keseimbangan antara pihak eksekutif dan legislatif. Ketika Golkar bisa menjadi pemimpin koalisi besar dan berhasil mendudukan Ketum AH sebagai Presiden, maka roda pemerintahan akan berjalan dengan baik,” ungkap NH.

Baca Juga: Targetkan Ratusan Kantong Darah, Golkar Kepri Peduli Gandeng PMI Gelar Aksi Donor Darah

Menurutnya loncatan berpikir Airlangga Hartarto sudah sangat jauh ke depan. Berpikirnya bukan hanya soal ambisi untuk menjadi Presiden, hanya untuk kekuasaan, tetapi bagaimana pemerintahan dapat berjalan dengan baik dengan adanya keseimbangan antara eksekutif dan legislatif.

“Beliau punya visi besar bagi Indonesia. Itu loncatan besar yang dilakukan Partai Golkar saat ini dan ke depannya,” pungkasnya. {fajar}

fokus berita : #Airlangga Hartarto #Nurdin Halid