30 Maret 2021

Tak Percaya Kilang Balongan Terbakar Karena Petir, Ridwan Hisjam: Sistem Peralatan Pertamina Lemah

Berita Golkar - Kilang minyak milik PT Pertamina RU VI Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, meledak dan terbakar hebat pada Senin (29/3/2021) sekitar pukul 01.00 WIB . Setidaknya 20 orang menjadi korban dalam insiden tersebut, dan 932 orang terpaksa harus diungsikan ke tempat yang lebih aman.

Menanggapi hal itu anggota Komisi VII DPR Ridwan Hisjam mengatakan, meski kebakaran ini sudah bisa diatasi, bukan berarti persoalan sudah selesai. Justru dengan adanya kebakaran kilang minyak ini tentunya ada yang perlu dievaluasi dari sistem peralatan di Pertamina.

“Pertamina harus melakukan internasional audit technical. Jadi teknik atau peralatan yang ada di Pertamina harus memenuhi standar internasional. Karena kejadian ini jangan sampai dijadikan alasan petir,” ujar Ridwan saat dihubungi, Selasa (30/3/2021).

Baca Juga: Anggota DPRD NTT, Mohammad Ansor Gelar Khitanan Massal Bagi Anak-Anak Tak Mampu di Solor

Menurutnya, sangat tidak masuk akal jika kebakaran kilang minyak Pertamina di Indramayu disebabkan karena petir. Alasan ini kata dia, menunjukan lemah sistem peralatan di Pertamina. Tidak sebanding dengan nama Pertamina sebagai perusahaam BUMN terbesar di Indonesia.

“Ini sama kaya kasus listrik mati di Jakarta dan Banten Agustus 2019 lalu. Ini disebut-sebut katanya karena kerobohan pohon sengon. Kalau sekarang di Pertamina katanya kena petir. Menurut saya ini tidak lazim, berarti menandakan technical kita lemah,” jelas Ridwan anggota dari Dapil Malang Raya ini.

“Kalau itu yang dijadikan alasan, ya nanti setiap ada petir petir, ya nanti bisa terjadi kebakaran dimana-mana. Sangat tidak masuk akal. Harusnya Pertamina sudah punya antisipasinya. Kalau petir antisipasinya apa? Kalau hujan apa? Kan gitu!” tambah Ridwan.

Baca Juga: Christina Aryani Sesalkan Sentimen Rasisme Anti Asia di AS

Politisi Golkar ini mencontohkan lapangan golf aja kalau ada petir setiap 100 meter, itu sudah ada alat yang bisa mendeteksi. Apalagi ini kelas kilang minyak yang melibatkan banyak orang, termasuk lingkungan di sekitarnya. Harusnya peralatan yang dimiliki Pertamina lebih memadai.

Ridwan bahkan menyebut bahwa refinery unit atau kilang minyak Pertamina Balongan RU VI dan RU VII Refenery Unit VII di Kasin Papua Barat adalah barang tua. Kilang itu diresmikan Wapres Try Sutrisno th 1995/1996. Sampai saat ini belum ada peremajaan. Maka mungkin saja bila terjadi kebocoran.

“Makanya perlu ada internasional audit technical. Karena api bisa muncul kalau hidrokarbon, yang memunculkan udara sehingga terjadi api. Nah ini yang harus dicari, perlu dilakukan audit internal, biar terlihat mana barang yang tidak layak lagi dipakai,” tandasnya.

Dengan audit dan pembenahan sistem ini, Ridwan berharap tidak ada lagi kilang minyak yang terbakar. Kasus di Indramayu bukan yang pertama. Sebelumnya, banyak kilang minyak yang sudah terbakar. Insiden tersebut menunjukan lemahnya sistem peralatan di Pertamina. {obsessionnews}

fokus berita : #Ridwan Hisjam