02 April 2021

Dedi Mulyadi Dampingi Petani Jatisari Sampaikan Keluhan Ke Mentan SYL Soal Pupuk dan Harga Gabah

Berita Golkar - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi mendampingi para petani menyampaikan keluhan di hadapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo saat menghadiri acara panen padi di Desa Telarsari, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang, Jumat (2/4).

Dedi mengatakan saat ini terjadi perubahan kultur cukup besar yang dialami oleh para buruh tani khususnya di wilayah Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu dan Cirebon. “Berubahnya dari bagi hasil padi sekarang semua serba uang,” ujar Dedi Mulyadi dalam keterangan persnya.

Biasanya, kata Dedi, petani penggarap atau buruh tani mendapat bagian hasil panen yang nantinya bisa menjadi persediaan pangan keluarga. Tapi kini mulai dari proses tanam hingga panen semua yang didapat oleh buruh tani berupa uang.

Baca Juga: Di Bawah Airlangga, Golkar Dinilai Berhasil Bertransformasi Jadi Partai Modern

Menurutnya itu berdampak para petani tidak memiliki beras. Sehingga tingkat konsumsi bantuan beras terbesar berada di wilayah yang merupakan lumbung padi. “Sekarang kalau uang sudah masuk kantong begitu panen langsung ada hajatan, organ tunggal, jaipongan. Uang yang didapat buruh tani selama 3 bulan habis dalam 3 hari. Akhirnya buruh tani jadi langganan beras bantuan,” katanya.

Dia berharap pemerintah segera membuat kebijakan agar bisa menyerap hasil panen. “Begitu panen pemerintah menurunkan uang yang belinya Bulog silakan, Kementan silakan, mau bupati menambahkan dari APBD silakan, provinsi silakan, PPL silakan, yang penting begitu panen gabah petani terserap semuanya,” ujar Dedi.

Politisi Golkar ini berharap hal tersebut segera direalisasikan agar harga beras tidak jatuh. Jika terus dibiarkan seperti saat ini maka sampai kapan pun petani tidak pernah sejahtera dan mendapat untung.

Baca Juga: Bukan Hanya Tugas Aparat, Azis Syamsuddin Ajak Semua Pihak Memutus Sel Baru Jaringan Terorisme

“Saya kalau pupuk subsidi dicabut setuju, tapi gabah petani dibeli pemerintah naik 10 persen. Jadi petani beli pupuk (non subsidi) tapi pemerintah punya kepastian membeli gabah 10 persen di atas harga dasar,” ucapnya.

“Dari pada pupuk disubsidi kadang-kadang ada, kadang-kadang tidak ada. Pupuk Kujang pabriknya di Karawang, tapi orang Karawang cari pupuk susah,” timpal Dedi kembali.

Di sela-sela acara Dedi mengajak seorang ibu-ibu yang merupakan petani sekitar. Dedi pun mempersilakan ibu tersebut untuk berkeluh kesah langsung dihadapan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo.

“Kemarin padinya Rp4.100 itu juga diutang, dibayar kalau sudah laku. Inginnya Rp5.000 dan dibayar kontan. Kemarin diutang sampai 2 minggu. Kemudian pupuk juga susah sampai telat 21 hari,” ujar ibu tersebut didampingi Dedi Mulyadi. {indonesiainside}

fokus berita : #Dedi Mulyadi