14 April 2021

Wayan Gunawan Harap Galungan dan Kuningan Jadi Pertanda Baik Berakhirnya Pandemi

Berita Golkar - Anggota Komisi I DPRD Bali dari Fraksi Partai Golkar, I Wayan Gunawan, menyampaikan bahwa, perayaan Hari Suci Galungan dan Kuningan pada 14 dan 24 April 2021 sangat spesial. Sebab hari besar umat Hindu ini berbarengan dengan awal bulan puasa Ramadan 1442 Hijriah.

Kader senior Partai Golongan Karya (Golkar) ini berharap perayaan hari suci ini menjadi pertanda baik berakhirnya pandemi Covid-19 seiring masifnya vaksinasi yang dilakukan Pemerintah.

“Semua pihak tentu ingin pandemi Covid-19 segera berlalu. Harus menjadi pemahaman bersama bahwa Covid-19 itu benar adanya. Faktanya masih banyak masyarakat yang maboya (tidak percaya, red). Bahkan ada yang tidak percaya Covid-19 sudah mendunia.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Minta Kemenlu Bantu Bebaskan 34 Nelayan Aceh Yang Ditangkap Thailand

 

Mari di Hari Raya Galungan dan Kuningan ini kita mulat sarira (introspeksi diri, red) nunas sica (mohon anugerah, red),” ungkap I Wayan Gunawan melalui pemberitaan online, yang dikutip Rabu (14/4/2021).

Gunawan tak menampik pandemi telah merontokkan sendi-sendi perekonomian Pulau Dewata yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.

Setahun lebih wabah terjadi, ungkapnya komunikasi sosial masyarakat juga terdampak akibat pembatasan-pembatasan yang dilakukan dalam rangka meminimalisir penyebarluasan virus SARS-CoV-2.

“Mudah-mudahan melalui proses religius ini pandemi bisa berlalu di samping upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah,” harapnya.

Baca Juga: Munafri Arifuddin Masih Cari Momen Tepat Untuk Umumkan Pengurus Baru Golkar Kota Makassar

Di balik mulat sarira ini, tegas Gunawan seluruh aspek kehidupan masyarakat diuji. Akibat pandemi, strata sosial, kepandaian, kekuatan seseorang dan sejenisnya diposisikan sama rata.

Terjadi koreksi total terhadap konstruksi sosial dan jalannya pemerintahan sekaligus pribadi masing-masing masyarakat. Dalam kondisi pukulan berat akibat pandemi, Gunawan berpesan bagi umat Hindu, khususnya masyarakat Bali agar mulat sarira.

“Tidak harus buahnya (persembahan sesaji, red) bertumpuk-tumpuk, sesaji yang sebar wah kalau memang tidak mampu. Tapi, kalau mampu silakan. Sarasamuscaya mengatakan dengan cara apapun kau menuju-Ku oh Parta aku terima. Artinya, yang terpenting adalah keheningan pikiran. Tuhan ada di sini di dalam jiwa ini,” ungkap Ketua Kosgoro Bangli tahun 1996 itu. {kabarpolitik}

fokus berita : #Wayan Gunawan