17 April 2021

Azis Syamsuddin Curiga Teroris Manfaatkan Fintech dan Crowdfunding Untuk Galang Dana

Berita Golkar - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan PPATK segera melacak transaksi jaringan teroris yang disinyalir menggunakan fintech, crowdfunding dan organisasi nirlaba di Indonesia.

"Kami meminta BNPT untuk terus meningkatkan koordinasi dengan lembaga terkait khususnya PPATK guna melacak sinyalemen yang ada," kata Wakil Ketua DPR RI M Azis Syamsuddin dalam keterangannya, Jumat (16/4).

Aziz mencurigai dengan penggalangan dana melalui kampanye di media sosial dengan modus bantuan kemanusiaan untuk bencana alam, korban konflik Palestina dan Suriah, warga terpapar covid-19 hingga berkedok bantuan panti asuhan.

Baca Juga: Nurul Arifin Serukan Rebranding Partai Golkar Demi Menangkan Airlangga Jadi Presiden 2024-2029

"Kecenderungan ini diiringi dengan perubahan rekrutmen, pengumpulan donasi, lokasi berkumpul dan metode kerja," kata Azis Syamsuddin.

Menurut Azis, masih ada operasi dengan memanfaatkan beberapa momentum. Cara-cara itu biasa dimainkan oleh lima kelompok teroris dengan menyebar propaganda radikal secara terselubung guna perekrutan melalui dunia maya. "Kecenderungan operasi gelap ini yang dilakukan di kawasan kota," kata politisi Golkar tersebut.

Lima jaringan teroris yang dimaksud, kata Aziz, yakni jaringan Negara Islam Indonesia (NII) dan Jamaah Islamiyah (JI). Selanjutnya Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang diyakini masih aktif. MMI disebut-sebut terafiliasi dengan Al-Qaeda di Suriah dan Front Al-Nusrah.

Baca Juga: Golkar NTT Buka Dapur Umum, Layani Charger Hp dan Sediakan Wifi Gratis Untuk Korban Bencana Siklon Seroja

"Dari literasi yang ada MMI merupakan organisasi pengembangan dari Darul Islam dan kemudian berubah nama lagi menjadi Jamaah Ansharut Tauhid (JAT)," katanya.

Kemudian menurut Azis, kelompok JAT. Dalam perkembangannya, JAT telah melahirkan banyak kelompok teroris lainnya yakni Jamaah Ansharut Syariah (JAS) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Terakhir, kecurigaan Azis terhadap Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). JAK sendiri telah ada di Indonesia sejak 2016 dan mendapuk diri dengan nama JAK Nusantara. Kelompok teroris ini dipimpin oleh Bahrunnaim yang merupakan Khatibah Nusantara ISIS Indonesia.

Baca Juga: Sahat Tua Simanjuntak Optimis Peningkatan Investasi Bakal Kurangi Angka Pengangguran di Jatim

Azis juga membeberkan salah satu metode yang kecenderungannya menyasar "captive audience". Sebuah pola yang targetnya menyasar kelompok yang kerap menghabiskan waktu di ruang maya.

"Ini menjadi kewaspadaan kita bersama. Bahkan dari perkembangan yang ada sejumlah analisis terorisme internasional telah membedah pola rekrutmen baru ini," ungkap Aziz Syamsuddin. {genpi}

fokus berita : #Azis Syamsuddin