27 April 2021

Ade Puspitasari Ajak Kaum Muda Bekasi Lestarikan Kuliner Tradisional Dodol Betawi Khas Pekayon

Berita Golkar - Pembuatan dodol bukanlah hal yang mudah. Kudapan manis ini jadi sebuah tradisi di keluarga Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Ade Puspitasari, di rumahnya. Ade yang juga anak pertama dari Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi (Pepen), rutin membuat dodol Betawi khas Pekayon di rumahnya.

Memanggil enam juru memasak yang sudah ahli, Ade pun tak serta merta tak turun tangan. “Pembuatannya yang dilakukan oleh Mpok Iti dan kawan-kawan di rumah saya,” kata Ade.

Ade yang juga warga asli Pekayon, Kota Bekasi, ini masih coba mempertahankan kekayaan kuliner asli Betawi tersebut. Hiruk pikuk di pekarangan belakang rumahnya sudah nampak sejak subuh, 05.30. Ditemani oleh tapi Mpok Iti, yang juga sepuh di wilayah itu dan merupakan perajin dodol.

Baca Juga: Konsolidasi Organisasi, AMPG Riau Bersama AMPG Kampar Gelar Buka Puasa Bersama

“Di sini pembuatannya masih sangat tradisional, dengan menggunakan kuali besar dari kuningan dan tungku yang disusun dalri batu sederhana. Tak ketinggalan centong sebagai media pengaduk yang serupa dengan alat dayung perahu,” jelas politisi Partai Golkar itu.

Ade menceritakan, Mpok Iti adalah satu dari belasan perajin dodol yang mencoba bertahan. Dari pewaris resep keluarga ini, Mpok Iti menjelaskan bahan-bahan apa saja yang digunakan dalam membuat dodol Betawi hingga penyajiannya.

Dari pengakuannya, proses pembuatan dodol Betawi bukanlah hal yang mudah. Untuk membuatnya perlu tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol.

Baca Juga: Dito Ganinduto: UU Cipta Kerja Jadi Instrumen Utama Atasi Berbagai Tantangan Nasional

Maklum saja satu panci kuali besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama 12 jam tanpa berhenti. “Kalau berhenti adonan akan keras dan bisa gosong bagian bawahnya.” jelas Mpok Iti.

Penasaran dengan adukannya, Ade pun ikut mencoba mengaduk adonan dodol yang sudah mengental di dalam kuali.

Untuk membuat dodol Betawi sebanyak satu kuali, Mpok Iti memerlukan beberapa bahan dasar berupa santan sebanyak 50 batok kelapa yang utuh, gula merah 30 kilogram, 10 kilogram gula putih, tepung beras dan ketan 16 liter.

Beberapa adonan dasar tersebut kemudian dicampur menjadi satu ke dalam kuali besar yang nantinya dapat menghasilkan 70 mangkuk kecil dodol Betawi. Setelah tujuh jam proses pengadukan adonan, kemudian dodol Betawi yang masih dalam kuali dipindahkan ke dalam tempat yang bersih.

Baca Juga: Bamsoet: Tumpas Habis KKB Papua, Urusan HAM Urusan Belakangan

Dodol Betawi rasanya begitu legit dan lezat. Sama seperti dodol yang lain, dodol Betawi terasa lembek dan lengket saat di makan.

“Tradisi pembuatan dodol ini sudah sejak dulu dilakukan oleh ayah saya yang juga Wali Kota Bekasi, Rachmat Efendi, setiap kali menjelang Hari Raya Lebaran. Beliau juga sempat ikut mengaduk adonan dodol di dalam kuali,” cerita Ade.

Nantinya, dodol-dodol ini kami bawa untuk diberikan ke sanak famili dan kerabat Ade. “Saya juga pernah membawa dodol buatan rumah ke kantor saya di DPRD Provinsi Jabar, saya bagikan ke teman-teman di fraksi. Senang rasanya mendengar mereka menyukai dan minta lagi kepada saya, Alhamdulillah,” katanya.

Dia mengajak para generasi muda agar tak malu untuk belajar membuat dodol Betawi khas Pekayon. Karena dia khawatir, moderenisasi zaman malah membuat kudapan tradisional ini malah tidak diminati kembali. “Ini kultur kita, yang muda harus lanjutkan tradisi,” tutupnya. {bekasi.pojoksatu}

fokus berita : #Ade Puspitasari,