04 Mei 2021

Christina Aryani Ajak Masyarakat Bersama Cegah dan Lawan Kampanye Digital Perkawinan Anak

Berita Golkar - Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar Christina Aryani mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama melakukan gerakan melawan maraknya kampanye digital perkawinan anak saat ini. Menurutnya, perkawinan anak sangat berbahaya bagi masa depan anak-anak Indonesia dan harus dicegah.

Merujuk data baik dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) maupun Peradilan Agama, diketahui salah satu faktor tingginya pengajuan permohonan dispensasi perkawinan anak adalah akibat terpapar kampanye digital perkawinan anak dan terjerumus pada pergaulan yang salah di internet.

Hal itu disampaikannya dalam Webinar Merajut Nusantara bertajuk ‘Melindungi Anak dari Kampanye Digital Perkawinan Anak’ di Jakarta, Senin (3/5/2021).

Baca Juga: Pengurus Masjid di Bekasi Usir Jemaah Bermasker, Ace Hasan: Pemahaman Agamanya Dangkal

"Ini tentu harus menjadi perhatian kita bersama dan saya sendiri menaruh perhatian besar pada isu ini serta mengajak masyarakat untuk bersama-sama melawan ini sehingga perkawinan anak bisa kita cegah," kata Christina.

Dijelaskan Christina, fenomena perkawinan anak di Indonesia tidak bisa dianggap persoalan biasa dan karena itu menuntut partisipasi dari sebanyak mungkin unsur masyarakat terlibat dalam upaya bersama melakukan pencegahan.

"Jadi bukan hanya pemerintah tetapi semua pihak di dalam masyarakat perlu diajak terlibat, baik tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta figur-figur publik untuk memberikan edukasi yang cukup pada orang tua dan pada anak sendiri akan bahaya perkawinan anak, dalam hal ini dibawah usia 19 tahun jika merujuk pada ketentuan undang-undang. Ini harus jadi kampanye kita bersama," ujarnya.

Baca Juga: Prokes Kurang Dipatuhi Masyarakat, Nadia Basjir Ingatkan Pemprov Sumsel Tegas Tangani COVID-19

Berdasarkan data, lanjut anggota DPR-RI Dapil DKI Jakarta II ini, terdapat 1,2 juta perempuan yang melakukan perkawinan anak di Indonesia dan angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat 8 di dunia terkait angka absolut perkawinan anak.

Di antara yang mencolok angkanya adalah Sulawesi Barat dengan prevalensi tertinggi sebesar 19,43 persen dan Jawa Barat dengan angka absolut tertinggi yang diperkirakan mencapai 273.300 perkawinan anak. Sementara di DKI Jakarta sendiri angka perkawinan anak juga masih tinggi walaupun ada di bawah 15 persen.

"Mencermati angka-angka ini kita sudah bisa membayangkan akan seperti apa dampak dan implikasinya nanti, baik masalah kesehatan fisik maupun mental anak, pupusnya masa depan yang lebih baik, termasuk juga dampak ekonomi dan implikasi sosial yang ditimbulkannya. Ini jelas menjadi keprihatinan kita bersama," ujarnya.

Baca Juga: Andi Achmad Dara Bagikan 11 Ribu Paket Sembako Untuk Masyarakat Tangerang Raya

Dari sisi legislasi, kata Christina, Indonesia sudah memiliki UU existing yaitu UU 16/2019 tentang Perubahan UU 1/1974 tentang Perkawinan yang menegaskan batas minimal usia perkawinan yaitu 19 tahun.

Namun diakui Christina, adanya UU ini pun belum menjamin menurunnya perkawinan anak, belum lama ini kita menemukan kampanye digital yang mengampanyekan perkawinan anak.

"Hal itu sangat berbahaya, sehingga perlu ada kesadaran bersama dari kita semua untuk melawan kampanye-kampanye seperti ini," ucapnya.

"Mencegah perkawinan anak adalah upaya terbaik untuk menyelamatkan masa depan generasi bangsa, sehingga tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan konstitusi kita tidak jauh panggang dari api," kata Christina. {tribunnews}

fokus berita : #Christina Aryani