24 Mei 2021

Uji Nyali Partai Golkar Jelang Kontestasi 2024

Berita Golkar - Partai Golongan Karya ( Partai Golkar) NTT telah merilis nama-nama bakal calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, bupati dan wakil bupati, walikota dan wakil walikota untuk kontestasi politik tahun 2024 (19 Mei 2021).

Dari nama-nama yang beredar, sebagian besar merupakan kader Golkar dan sisanya berasal dari berbagai bidang; swasta, ASN, dan dosen (negeri dan swasta).

Dari aspek jenis kelamin, sebagian besar bakal calon adalah laki-laki. Dari aspek usia, Golkar memilih dari yang milenial sampai ke kelompok tua. Dari karakteristik etnopolitik dan geopolitik lokal NTT, calon yang dirilis Golkar merepresentasi suku, bangsa, dan agama di NTT.

Baca Juga: Sambangi NU Karanganyar, Ilyas Akbar Almadani: Nyuwun Petuah Kyai dan Pererat Silaturahmi

Bagi saya, ini merupakan langkah taktis sekaligus berani. Taktis karena dengan begini, Golkar telah membaca peluang dan tantangan kontestasi 2024. Karena itu, lumrah jika bakal calon diumumkan sekarang.

Aspek popularitas tentu menjadi bidikan utama di sana. Selain karena alasan peluang, langkah Golkar dinilai berani karena meski Golkar merupakan pemenang bersama PDIP di tingkat jumlah kursi di DPRD Provinsi, misalnya, Golkar mau mematahkan mitos dinamika kandidasi di setiap proses kontestasi.

Karena itu, saya menyebut langkah Golkar ini sebagai sebuah ujian. Langkah ini jelas bertujuan menguji nyali Golkar secara internal dan dan menguji nyali kesadaran politik masyarakat NTT secara eksternal.

Pilihan mengumumnkan nama-nama bakal calon hari ini jelas melalui pertimbangan yang matang dan rasional. Golkar NTT jelas sudah menghitung dan terus mengukur peluang dan kesempatan berdasarkan kekuatan yang dimiliki partai secara internal.

Baca Juga: Airlangga Masuk 4 Besar Menteri Jokowi Punya Elektabilitas Tinggi Untuk Maju di Pilpres 2024

 

Gugatan banyak pihak sesungguhnya amat sederhana. Bagaimana cara Golkar memenangi uji nyali ini? Pertanyaan ini laik diajukan terutama karena dua hal pokok.

Pertama, sebagaimana dinamika politik nasional telah meriak keluar, Golkar kemudian turut serta dalam riakan itu dan coba menawarkan orang-orang terhebatnya untuk duduk dalam kursi pimpinan politik di 2024 nanti.

Kedua, untuk konteks NTT, Golkar saat ini masih berada dalam lingkaran kekuasaan. Sebab, Wakil Gubernur NTT saat ini adalah kader Partai Golkar. Mengumumkan nama bakal calon gubernur dan wakil gubernur sekarang sama dengan menabuh genderang perpisahan dengan Nasdem dan menawarkan kursi lain untuk partai lain di level provinsi.

Tanggung Jawab Politik

Nyali Golkar sedang diuji. Nyali Golkar diuji untuk menjadi pemimpin politik baik di tingkat provinsi maupun di beberapa kabupaten/kota. Dalam studi politik kontemporer, ada beberapa langkah yang mesti dilakukan untuk mendapatkan suara dan dukungan. Pandangan yang paling baru ialah soal tanggung jawab politik partai politik.

Baca Juga: Survei ARSC: Golkar Peringkat Empat Tergusur Demokrat Dengan Elektabilitas 10,40 Persen

Dalam Corporate Political Responsibility, Johannes Bohnen (2021) menyebutkan tanggung jawab partai tidak hanya dalam konteks sosial tetapi juga politik. Ibarat perusahaan, menurut Bohnen, partai politik saat ini nyaris seperti perusahaan yang memproduksi barang.

Agar laku dijual, perusahaan harus mempelajari preferensi pilihan konsumen terlebih dahulu. Dengan kata lain, sebuah barang bisa laku dijual kalau barang tersebut benar-benar dibutuhkan pembeli. Ada banyak model produksi yang dilakukan perusahaan.

Sebelum diproduksi, perusahaan wajib mempelajari perilaku konsumsi pelanggan. Belajar dari banyak perusahaan hebat, produk yang dihasilkan tidak bisa asal dibuat. Sebuah produk dibuat seturut keinginan dan kemauan konsumen; menurut perilaku, watak, karakter, dan tipikal pembeli. Kemasan sampai ke isi barang dibuat sedemikian rupa agar terlihat menarik.

Baca Juga: HUT Ke-61, Bobby Suhardiman Bersyukur SOKSI Terus Berkiprah Demi Kemajuan Bangsa dan Negara

Jika ditarik ke kanal politik, partai sedapat mungkin memproduksi kader yang tidak saja menarik tetapi juga berguna. Baju dan isi kepala kader harus sejalan. Partai bertanggung jawab secara politik memproduksi kader yang demikian.

Tantangan dan Peluang

Langkah Golkar laik diacungi jempol. Ini terutama karena Golkar mengajarkan elemen politik di daerah ini untuk tidak membeli kucing dalam karung. Golkar mengajarkan setiap entitas politik untuk berani memeriksa setiap bakal calon yang diajukan Golkar sampai nanti muncul keputusan resmi dari otoritas elite Partai Golkar pusat.

Meski demikian, langkah ini harus pula dibaca sebagai tantangan. Sebab, Golkar berkontestasi tidak hanya dengan satu dua partai. Golkar berkontestasi dengan banyak partai.

Baca Juga: Tidak Transparan, Andi Rio Idris Padjalangi Pertanyakan Keseriusan Kapolres Bone Berantas Narkoba

Bacaan saya, Golkar akan menghadapi banyak tantangan baik secara internal maupun eksternal beberapa waktu mendatang. Tantangan terbesar tentu berasal dari Partai Golkar itu sendiri.

Tantangannya bisa dalam kerangka struktur (pola relasi kekuasaan dalam Partai Golkar) maupun dalam konteks aktor (elite-elite partai yang namanya tidak masuk dalam pilihan bakal calon yang diumumkan DPD Golkar NTT).

Secara eksternal, tantangan terutama berasal dari banyak elemen entah politik, hukum, sosial, budaya, dan agama. Dalam kategori ini, bakal calon yang diajukan Golkar tentu berada dalam bentangan beberapa aspek tersebut.

Seperti yang disampaikan di bagian awal tulisan ini, kontestasi politik 2024 itu merupakan salah satu kontestasi politik yang cukup rumit. Kerumitan tersebut bisa saja dimanfaatkan oleh satu dua elemen untuk menjatuhkan partai tertentu termasuk Golkar dengan berbagai cara.

Baca Juga: Rumah Adik Ipar Anggota DPRD Kota Medan Mulia Asri Rambe Dilempar Bom Rakitan Oleh OTK

Politisasi isu dari beberapa aspek yang disebut di atas bisa mendegradasi semangat partai dan bakal calon dalam berkontestasi nanti.

Di sudut yang lain, mulai tahun depan, pemimpin politik di beberapa daerah akan menyelesaikan masa kepemimpinannya. Hal ini berimplikasi pada kekosongan pengaruh para elite baik di level provinsi maupun kabupaten/kota. Realitas ini tentu harus dibaca sebagai peluang `menjual' kader partai terbaik, termasuk Golkar, dalam menghadapi kontestasi di 2024.

Dalam situasi seperti itu, produk yang laku di pasar adalah yang dibutuhkan pembeli. Calon yang laku dijual adalah yang memiliki kualitas, kapasitas, kecakapan, dan keutamaan seorang pemimpin serta yang dekat dengan masyarakat. Dekat dalam konteks ini mesti dipahami tidak hanya secara politis tetapi juga secara fisik.

Baca Juga: Bamsoet: Selama Palestina Belum Merdeka, Selama Itu Pula Indonesia Berdiri Menentang Israel

Keberanian, konsistensi, percaya diri, taktis, terukur, dan keyakinan diri merupakan prasyarat dasar mencapai kemenangan. Tugas Golkar mulai hari ini ialah memperdalam dan mempertebal beberapa hal itu dengan memoles produk yang disebut calon dan bakal calon itu menjadi sungguh berkualitas.

Oleh Lasarus Jehamat, Dosen Sosiologi Fisip Undana Kupang {kupang.tribunnews}

fokus berita : #Lasarus Jehamat,