28 Mei 2021

Hetifah Pertanyakan Rencana Pemerintah Pangkas Anggaran Pendidikan 2022 Hingga Puluhan Triliun

Berita Golkar - Wakil Ketua Komisi IX DPR Hetifah Sjaifudian mempertanyakan rencana pemerintah mengurangi anggaran pendidikan 2022. Rencana ini dipertanyakan karena kebijakan itu diambil di tengah meningkatnya beban Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Bagi Hetifah, sangat dipertanyakan ketika di tengah penambahan kewenangan dan beban yang harus ditanggung, anggaran untuk pendidikan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2022 malah dipangkas sampai Rp10,52 triliun dibandingkan anggaran tahun 2021.

Bagi Politikus Golkar itu, ketika Kemendikbud dan Kemenristek dilebur, anggaran antar kedua kementerian semestinya digabung. Sehingga seharusnya dinaikkan dari total tahun sebelumnya. “Kami menunggu penjelasan pemerintah mengenai dasar diambilnya keputusan ini,” ujar Hetifah dalam keterangannya, Jumat (28/5/2021).

Baca Juga: Buntut Kasus Antigen Palsu di Kualanamu, Nusron Wahid Minta BPK Audit Kinerja BUMN Farmasi

Untuk diketahui, rancangan anggaran pendidikan tahun 2022 tercatat Rp149,97 triliun. Angka ini turun dibandingkan tahun 2021 sebesar Rp 160,49 triliun.Hetifah menyatakan dirinya berharap rencana penurunan anggaran pendidikan tersebut tidak jadi direalisasikan.

Minimal, jumlah anggaran sama persis dengan tahun 2021. “Agar pembangunan pendidikan dapat maksimal dan terfokus,” kata Hetifah.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, dalam keterangannya, menyatakan pihaknya menduga Pemerintah sedang main-main dan hanya retorika soal pendidikan serta riset. "Pengurangan anggaran pendidikan akan semakin mengaburkan makna pentingnya riset dan teknologi," kata Ubaid.

Baca Juga: Raih Opini WTP Ke-10 Dari BPK, Sahat Tua Simanjuntak Apresiasi Pemprov Jatim Di Bawah Khofifah

Yang paling mudah dipahami, pembelajaran tatap muka direncanakan pada Juli 2021. Pihaknya menilai kebijakan ini akan membutuhkan biaya yang sangat besar. Karena anggaran sekolah akan naik seiring penerapan protokol kesehatan, pengadaan alat-alat kesehatan, hingga penambahan kerja guru.

Pemeliharaan teknologi di masa pandemi juga akan bertambah. Saat ini, banyak sekolah yang belum memiliki sarana yang harus difasilitasi untuk menunjang pembelajaran tatap muka. Belum lagi perencanaan riset dan teknologi serta implementasi kebijakan Merdeka Belajar yang membutuhkan biaya besar.

"Seharusnya tahun ini bisa dimulai dengan dukungan anggaran yang kuat agar tren kualitas pendidikan tidak terus turun. "Kalau kondisinya semacam ini tidak ada perbaikan anggaran dari pemerintah pusat berarti ini sandiwara saja,” pungkas Ubaid. {investor}

fokus berita : #Hetifah Sjaifudian #Hetifah