29 Mei 2021

Kisah Wawan Hikal Kurdi, Ingin Jadi Tentara Akhirnya Jabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor

Berita Golkar - Kisah nyata Wawan Hikal Kurdi, mantan anak Kepala Desa Tugu Selatan yang suka nonton layar tancap. Menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor tidak ada dalam angan-angan Wawan Hikal Kurdi.

Sebab, pria yang lahir pada tanggal 18 Mei 1974 di Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, pria yang biasa disapa Wanhay ini berasal dari keluarga sederhana ingin menjadi tentara. Ayahnya H.Dul Baru (alm) adalah mantan Kepala Desa Tugu Selatan di zaman Orde Baru.

Sementara ibunya, Hj. Siti Salimaya (alm), sehari-hari menjalani peran sebagai ibu rumah tangga sambil mengajar ngaji. Wanhay adalah anak bungsu dari 9 bersaudara. Dia memiliki 3 saudara laki-laki dan 5 perempuan.

Baca Juga: Pulihkan Ekonomi Nasional, Mukhtarudin Dorong Percepatan Pembentukan Holding BUMN Ultra Mikro

Wawan Hikal Kurdi mulai terjun ke dunia politik tahun 2008. Ketika itu ada pemilihan secara terbuka dalam pencalonan legislatif, tidak lagi memakai nomor urut. "Ketika itu saya dikasih kebijakan oleh Ketua DPD Partai Golkar ya. Katanya nomor sepatu, bukan nomor satu," ujarnya bercanda.

Dengan perjuangan yang gigih dia pun terpilih masuk ke DPRD Kabupaten Bogor. "Periode pertama saya sebagai anggota biasa, kemudian periode kedua menjadi ketua Komisi 3 DPRD yang membidangi infrastruktur jalan jembatan. Lalu periode ketiga saya naik kelas menjadi Wakil Ketua DPRD Kabupaten Bogor," tambah pria yang suka turing sepeda motor ini.

Tak hanya itu, Wanhay juga dikasih bonus karena dipercaya oleh Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto (Menko Perekonomian) menjadi Ketua DPD Partai Golkar. "Alhamdulillah, ini prestasi," ucapnya.

Baca Juga: Pulihkan Pariwisata Bali, Dito Ganinduto Minta Dibuka Lagi Pintu Masuk Turis Lokal dan Mancanegara

Menjadi politisi bukanlah cita-cita masa kecil Wawan. Dia mengaku cita-citanya saat kecil adalah menjadi ABRI (TNI). "Saya terinspirasi oleh film-film perjuangan yang sering diputar di layar tancap," papar Wanhay.

Menurut Wanhay, keberhasilan meniti karir politik ini tidak lepas dari peran sang ayah . "Ketika itu tagline saya, anak seorang Kepala Desa. Bapak saya itu mengabdi di Desa Tugu Selatan selama 32 tahun. Jadi kalau kalau lihat pak Soeharto sebagai Bapak Pembangunan Indonesia, maka bapak saya mengabdi di Tugu Selatan selama 32 tahun," imbuhnya.

Namun jika melihat karier politiknya, Wanhay mengaku tidak menikmati masa kejayaan sang bapak. Padahal zaman dulu kepala desa menjadi jabatan bergengsi. "Tetapi ini motivasi buat saya untuk tidak tergantung pada jabatan orang tua," kata Wanhay. {wartakota.tribunnews}

fokus berita : #Wawan Hikal Kurdi,