18 Juni 2021

Popularitasnya Masih Rendah, LSI Denny JA Nilai Airlangga Belum Ideal Jadi Capres 2024

Berita Golkar - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyatakan bahwa Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto belum cukup ideal untuk menjadi calon presiden pada Pilpres 2024. Alasannya, tingkat popularitas Airlangga tergolong rendah, yakni di bawah 50 persen.

"Mereka yang kenal Airlangga masih di bawah 50 persen. Ini belum ideal untuk calon presiden, karena tingkat keterkenalan di bawah 50 persen," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam konferensi pers virtual, Kamis (17/6).

Selain itu, menurut Adjie, berdasarkan hasil survei LSI terakhir, tingkat elektabilitas Airlangga juga masih di bawah 10 persen. Ini menempatkan Airlangga di posisi ke-5 dengan elektabilitas hanya 5,3 persen.

Baca Juga: Ridwan Hisyam Siap Sumbangkan Rp.10 Juta Untuk Riset Vaksin Nusantara Yang Digagas Terawan

Dari sisi elektabilitas, Airlangga masih kalah jauh dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (23,5 persen), Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (15,5 persen), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan (13,8 persen), dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno (7,6 persen).

Namun, menurut Adjie, peluang Airlangga sebagai seorang capres akan naik ketika popularitasnya semakin tinggi. Jika ke depannya, tingkat popularitas Airlangga naik di atas 80 persen, maka tingkat elektabilitas juga akan ikut naik.

"Walaupun kita menyadari, kenaikan elektabilitas harus didukung konsisten kesukaan, harus tinggi, atau tingkat penerimaan Airlangga di publik juga harus tinggi," katanya.

Baca Juga: Kasus COVID-19 Melonjak di Kudus, Nusron Wahid Sulap Pesantren Jadi Shelter dan RS Darurat

Tidak hanya itu, sebagai Ketua Umum Golkar, otomatis Airlangga punya daya tawar pada Pilpres 2024. Apalagi, Golkar hanya butuh satu partai koalisi lain jika berniat mengusung Airlangga. Presiden Jokowi belum tentu memberi pengaruh besar terhadap capres yang didukungnya di 2024

Pengaruh Jokowi

Adjie mengatakan dukungan Presiden Joko Widodo terhadap capres di Pilpres 2024 belum tentu memberi pengaruh besar. Tergantung bagaimana sosok Jokowi di mata masyarakat di akhir periode kepemimpinannya nanti.

Jika tingkat penerimaan masyarakat (approval) rating Jokowi menurun menjelang Pilpres 2024, otomatis hal itu tidak akan berpengaruh kepada sosok yang didukungnya. Sebaliknya, pengaruh besar akan diperoleh capres yang didukung apabila Jokowi mendapat perspektif baik jelang akhir kepemimpinan.

Baca Juga: Sayang Kalau Hanya Jadi Partai Pengusung, Pengamat: Golkar Harus Pimpin Koalisi Pilpres 2024

"Semakin tinggi (approval) rating Pak Jokowi menjelang 2024 atau minimal stabil per hari ini, tentu endorsement Jokowi atau yang didukung Jokowi akan punya pengaruh dalam elektoral ke pemilih," kata Adjie.

Adjie mengatakan Jokowi dalam Pilpres 2024 ini juga bukan king maker. Pasalnya, meski dua periode menjadi presiden, Jokowi tidak memiliki atau memimpin sebuah partai politik.

"Kalau dalam kategori king maker, Jokowi bukan king maker, Jokowi enggak punya partai, bukan ketum partai tertentu, sehingga arah koalisi ke depan sedikit banyak akan dipengaruhi oleh ketum parpol," ujarnya.

Selain itu, menurut Adjie, relawan pendukung Jokowi juga tidak akan terlalu berpengaruh pada elektoral 2024. Hal ini dikarenakan relawan memiliki segmentasi yang beragam.

Baca Juga: Penuhi Harapan Warga di Medsos, Alien Mus Sambangi Kampung Nelayan Tomalou Tidore

"Saya pikir pengaruh relawan tidak seberpengaruh tokohnya sendiri. Artinya sebagai sebuah mesin oke, mereka bisa menjadi kekuatan untuk menjaring pemilih. Tapi pengaruh secara elektoral saya pikir banyak juga relawan-relawan dari masing-masing capres," ujar Adjie. {cnnindonesia}

fokus berita : #Adjie Alfaraby #Airlangga Hartarto