22 Juni 2021

Marahi Direksi, Nusron Wahid: Kalau Sampai Garuda Mati, Bapak-Bapak Harus Ikut Mati

Berita Golkar - Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Partai Golkar Nusron Wahid berdebat dengan Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra dalam rapat di Gedung DPR. Perdebatan berawal karena perbedaan pilihan dari 4 opsi penyelamatan Garuda Indonesia.

"Kan tadi bapak bilang sanggup menyelamatkan Garuda dengan pilihan opsi dua atau tiga. Andai nanti pemerintah atau bapak ambil opsi dua, kalau saya nggak yakin dengan opsi dua. Saya tetap opsi 1 baru yakin. Pertanyaannya kalau Anda yakin opsi 2, berapa lama ini masalah bisa selesai?

Dan apa konsekuensinya kalau term and condition yang saudara Dirut sampaikan itu tidak selesai? Mungkin reputasi Anda hancur, tapi kan ujung-ujungnya Garuda mati juga. Karena kita tidak ingin Garuda mati," kata Nusron dalam rapat dengan Garuda Indonesia, Senin, 21 Juni 2021.

Baca Juga: Ikut Pendidikan Politik, Kader Golkar DIY Siap Menangkan Airlangga Hartarto di Pilpres 2024

Lantas Irfan Setiaputra menjawab bahwa kalau Nusron tidak percaya dengan direksi Garuda saat ini, bisa sampaikan ke Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir. "Ya pak Nusron, kalau pak Nusron nggak percaya sama kami, sampaikan saja ke Pak Menteri kalau saya nggak percaya dengan direksi sekarang, tolong diganti," kata Irfan.

Nusron lebih memilih opsi satu, yaitu pemerintah terus menyokong penyelamatan garuda dengan memberikan suntikan ekuitas atau pinjaman. Sementara Irfan lebih condong ke opsi dua, yaitu restrukturisasi utang Garuda yang sudah jatuh tempo melalui Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang atau PKPU.

Dia mendorongnya opsi satu karena yakin 100 persen kalau opsi itu bisa menyelamatkan Garuda. "Opsi restrukturisasi utang yang tadi dipilih pak Dirut sanggup dan optimistis, itu kira-kira sampai kapan selesai, supaya saya ini bisa tidur nyenyak? Ketika saya bangun, eh Garuda masih hidup. Kapan itu?" kata Nusron.

Baca Juga: Sari Yuliati Minta Kapolri Perbanyak Kuota Rekrutmen Alumni Ponpes di NTB Jadi Anggota Polri

Irfan mengatakan proses negosiasi restrukturisasi utang itu lewat PKPU maupun tidak, rampung tahun ini. "Kita tidak bisa lagi lewat dari tahun ini. Ini yang kami targetkan dalam internal," kata Irfan.

"Dalam proses kami melakukan proposal kepada kreditur kami kepada utang-utang yang masa lalu maupun ke para lessor untuk ke depan ini ada kemungkinan besar akan mengajukan proposal, di mana ada konsekuensi finansial dan ada konsekuensi debt to equity."

Dia mengatakan dari empat opsi penyelamatan Garuda, lebih ingin memilih opsi, yaitu restrukturisasi utang Garuda. Restukturisasi tersebut dilakukan lewat penundaan kewajiban pembayaran utang atau PKPU.

Baca Juga: Rudy Mas’ud Ungkap Usul Pergantian Ketua DPRD Datang Dari Fraksi Golkar DPRD Kaltim

Hanya, kata dia, ketika nanti masuk dalam PKPU, setelah 270 hari tidak ada kesepakatan antara debitur dengan kreditur, otomatis terpailitkan. Artinya, kata Irfan ada risiko untuk jadi pailit ketika masuk ke PKPU.

Nurson lantas kembali merespons jawaban Irfan itu. "Yang penting sekarang begini saya, Garuda hidup, Desember selesai sebagaimana janji bapak tadi, Januari kita ketemu. Kalau memang Garuda hidup, saya apresiasi. Tapi kalau sampai Garuda mati bapak-bapak harus ikut mati," kata Nusron. "Siap," jawab Irfan. {bisnis.tempo}

fokus berita : #Nusron Wahid