28 Juni 2021

Andi Rio Idris Padjalangi Geram Hakim PT Bandung Takut Pada Jaringan Bandar Narkoba

Berita Golkar - Anggota Komisi III DPR RI Andi Rio Idris Padjalangi merasa geram dengan amar putusan Pengadilan Tinggi (PT) Bandung yang meringankan enam terpidana kasus narkoba jaringan internasional yang membawa 402 kg sabu, bebas dari hukuman mati.

Padahal, putusan sebelumnya di Pengadilan Negeri Cibadak para terpidana jaringan narkoba telah divonis hukuman mati. Ia meminta agar Makamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) memeriksa hakim tersebut.

"Saya mempertanyakan dasar dan logika amar putusan hakim Pengadilan Tinggi Bandung dalam meringankan terpidana narkoba tersebut, patut dipertanyakan ada apa ini," kata Andi, Senin (28/6/2021).

Baca Juga: Airlangga Hartarto Ajak Kader Golkar Sumbar Ikut Aktif Dukung Program Pemerintahan Jokowi

"Jaringan narkoba internasional ini bekerja secara profesional dan berencana merusak generasi bangsa indonesia, kok malah diringankan putusannya,ada yang aneh dalam hal ini. Saya minta agar Makamah Agung (MA) dan Komisi Yudisial (KY) memeriksa hakim Pengadilan Tinggi Bandung," imbuhnya.

Politisi Partai Golkar ini mengatakan amar putusan pengadilan tinggi bandung yang meringankan para terpidana narkoba bebas dari jeratan hukuman mati dan hal ini menjadi bukti, penerapan hukum pidana narkotika di indonesia masih lemah dan mudah dimainkan.

"Tentunya putusan ini melukai perasaan masyarakat luas, meskipun hakim adalah wakil tuhan di bumi ini dalam memutus sebuah perkara dan memiliki independensi dalam memutus, namun harus di dasarkan pada hati nurani yang logik, rasio dan fakta yang ada," ujar Andi.

Baca Juga: Hari Anti Narkoba, Andi Rio Idris Padjalangi: Benteng Pertahanan Terkuat Dari Narkoba Adalah Keluarga

Wakil Ketua MKD DPR RI ini berharap agar peristiwa ini tidak terulang kembali dikemudian hari dalam kasus narkoba di ranah pengadilan, mengingat narkoba merupakan musuh negara dan musuh kita bersama, di mana narkoba dapat merusak generasi bangsa kedepan dan telah masuk ke segala penjuru lapisan masyarakat akhir-akhir ini.

"Semoga ini yang terakhir, kita harus buktikan, tidak ada tempat bagi para pengedar narkoba di bangsa indonesia, jangan sampai putusan ringan ini menjadi surga dan pintu masuk para pengedar narkoba untuk masuk kembali ke indonesia," ucap legislator asal Dapil Sulsel 2 ini.

"Mari kita perangi narkoba dengan memberikan hukuman yang seberat beratnya, agar dapat memberikan efek jera kepada para pelaku pengedar dan pengguna narkoba," kata Andi.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi III DPR RI asal Fraksi Partai NasDem Ahmad Sahroni menyampaikan kecaman serupa atas putusan hakim di PT Bandung. Menurutnya, putusan ini kontraproduktif dengan upaya kepolisian dalam memberantas narkoba dan menindak tegas para pengedarnya. "Putusan ini tentunya melukai rasa keadilan kita. Saya sedih dengan putusannya," ujarnya.

Baca Juga: Hari Anti Narkoba, Parisman Ihwan Apresiasi Komitmen Kapolda Basmi Peredaran Narkoba di Riau

"Karena ketika kepolisian berusaha keras memberantas narkoba, namun di tingkat pengadilan, hukuman bagi para pengedar ini justru diringankan," imbuhnya.

"Padahal harusnya hakim dan Jaksa memiliki prinsip yang sama, untuk mengganyang bandar besar. Jadi memang hukuman mati yang pantas," lanjut Sahroni.

Sahroni juga meminta pada Komisi Yudisial (KY) dan Mahkamah Agung (MA) untuk menyelidiki lebih lanjut terkait majelis hakim yang menjatuhkan putusan ini. Sebab, Sahroni menilai putusan tersebut janggal. "Saya mau ada pengusutan di balik keputusan PT ini. Karena ini jelas tidak masuk akal vonisnya," katanya.

"Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung perlu menyelidiki dan menurunkan tim khusus untuk memeriksa hakim maupun putusan hakimnya dalam kasus ini," imbuhnya.

Baca Juga: Dyah Roro Esti Dorong Aksi Iklim Secara Global Menuju Target Nol Emisi Karbon

Seperti diketahui penyelundupan sabu 402 kg ke Indonesia melalui Sukabumi, Jabar, digagalkan Satgas Merah Putih pada 3 Juni 2020. Narkotika golongan I senilai Rp 400 miliar lebih itu diselundupkan jaringan internasional dengan dikemas mirip bola. Sebanyak 14 warga Iran, Pakistan dan Indonesia dibekuk.

Warga Iran yakni Hossein Salari Rashid, Mahmoud Salari Rashid dan Atefeh Nohtani. Kemudian WNA asal Pakistan adalah Samiullah. Sementara pelaku warga Indonesia yaitu Amu Sukawi, Yondi Caesar Yanto, Moh Iqbal Solehudin, Risris Rismanto, Yunan Citivaga, Basuki Kosasih, Illan, Sukendar, Nandar Hidayat dan Risma Ismayanti.

Pengadilan Negeri (PN) Cibadak memvonis 13 terdakwa dengan hukuman mati. Hanya Risma Ismayanti yang divonis 5 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan.

Banding yang diajukan kuasa hukum para terdakwa ke PT Bandung meloloskan 6 terpidana dari hukuman mati. Illan, Basuki Kosasih dan Sukendar masing-masing dihukum 15 tahun penjara. Sedangkan Nandar Hidayat, Risris Risnandar dan Yunan Citivaga divonis 18 tahun penjara. {wartakota.tribunnews}

fokus berita : #Andi Rio Idris Padjalangi