19 Juli 2021

Keren! Anggota DPRD Kota Pekalongan Ini Jadi Relawan Pemakaman Jenazah Pasien COVID-19

Berita Golkar - FAUZI baru saja ikut memakamkan jenazah pasien Covid-19 yang keempat saat ditemui siang itu di Kompleks Pemakaman Sapuro. Dia menepi sejenak menunggu dua jenazah lagi yang akan dimakamkan. Masih dengan baju hazmat lengkap, dia duduk di pinggir kijing salah satu makam. “Semakin banyak saja jumlah kematian setiap harinya,” tutur Fauzi membuka obrolan.

Sudah sekitar tiga minggu dirinya ikut serta dalam tim pemakaman dari BPBD Kota Pekalongan. Keprihatinan, rasa kemanusiaan dan solidaritas, menjadi motivasi utamanya memutuskan bergabung. Awalnya, koordinator tim yang juga Kepala Pelaksanaan BPBD, Saminta, menolak saat dia meminta izin untuk membantu. “Mungkin ada rasa sungkan,” kata Fauzi.

Tapi dengan gigih dia terus merayu hingga akhirnya diizinkan. Fauzi merupakan anggota DPRD Kota Pekalongan yang juga Ketua Komisi A.

Dia mengaku tak peduli akan dinilai seperti apa oleh masyarakat. Yang jelas, dia ingin tenaga yang dimilikinya dapat disalurkan dan bermanfaat bagi orang banyak di tengah pandemi yang makin memprihatinkan.

 

Baca Juga: Dave Laksono Dukung Langkah Jokowi Instruksikan BIN Gelar Vaksinasi Masyarakat Door To Door

“Saya tidak peduli, tidak mencari sesuatu atau komentar tertentu dari orang lain. Yang penting apa yang saya lakukan dirasakan manfaatnya baik oleh tim pemakaman yang mulai kewalahan, maupun oleh masyarakat. Jika memang ada dan dirasakan manfaatnya. Itu saja,” tambahnya.

Baru 15 menit obrolan berlangsung, sirine ambulans terdengar dari kejauhan. Dia memberi kode menunda obrolan untuk melanjutkan tugas. Dua jenazah datang beriringan dalam dua mobil ambulans. Tak ada jeda lagi untuk beristirahat.

Dia bergegas menuju dua liang lahat yang sudah dipersiapkan. Dalam tim, Fauzi memiliki tugas yang sama dengan yang lain. Dia mencangkul, mengangkat dan menurunkan peti jenazah ke dalam lubang, hingga sesekali memimpin doa maupun memimpin salat jenazah di lokasi.

Baca Juga: Golkar Kukar Kurban 20 Ekor Sapi, Disebar Ke-18 Kecamatan

Kehadiranya juga sedikit menambah kekuatan tim dalam posisi negosiasi dengan masyarakat. Karena masih sering terjadi konflik karena perbedaan persepsi baik dengan keluarga maupun dengan masyarakat sekitar pemakaman yang seringkali dihadapi Tim Pemakaman BPBD.

Selesai pemakaman, dia kembali ke tempat semula usai seluruh badanya disemprot disinfektan. Setelah sejenak meluruskan kakinya, dia langsung menyambung obrolan yang sempat tertunda. Kali ini dia duduk di tanah dan sedikit menyandarkan tubuhnya kijing makam. Dia menatap kosong ke depan sebelum kemudian melanjutkan cerita bagaimana inisiatifnya itu muncul.

Diawali ketika membaca berita tentang kondisi Covid-19 di Kudus yang saat itu semakin memprihatinkan. Ketakutanya terjadi. Kota Pekalongan juga mengalami kondisi peningkatan yang cukup signifikan.

 

Baca Juga: Airlangga Minta Kyai, Habaib dan Ulama Dukung PPKM Darurat Dan Doakan Pandemi Segera Berakhir

Beberapa kali membaca perjuangan tim pemakaman, dia akhirnya memutuskan menyumbangkan tenaganya untuk membantu mereka. “Saya tak bisa membayangkan bagaimana teman-teman ini kelelehan kalau setiap hari jumlah kasus kematianya meningkat,” kata politisi Golkar itu.

Fauzi mengaku setiap hari selalu menyempatkan diri ikut membantu pemakaman. Dia memilih waktu pemakaman siang hingga malam hari demi membagi waktu dengan tugasnya sebagai anggota DPRD.

“Biasanya siang jumlah (pemakaman) juga lebih banyak. Pagi saya ngantor dulu. Saya tetap tak meninggalkan tugas utama sebagai wakil masyarakat. Seluruh agenda sebagai anggota DPRD dan ketua Komisi A saya pastikan untuk tuntas semuanya dulu.

Saya juga sampaikan ke teman-teman bahwa saya siap untuk jadwal pemakaman siang, sehingga teman-teman juga sudah tahu dan mengantisipasi kondisi. Tapi kalau keadaannya darurat dan memungkinkan saya ikut pagi, saya pasti datang,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah dan Penerapan Pancasila Di Era Orde Baru Di Bawah Soeharto

Dia juga selalu berkoordinasi dengan tim. Fauzi meminta selalu diberikan update informasi dan jadwal pemakaman setiap harinya. Sehingga dia bisa tahu jika sewaktu-waktu harus bergerak di luar jadwal.

Lantas, kenapa Fauzi memilih menjadi relawan pemakaman? Dia mengaku memiliki ikatan kuat dengan relawan BPBD. Dalam setiap bencana, dia selalu terjun bersama para relawan untuk membantu.

“Saya pribadi dengan teman-teman BPBD terbiasa kolaborasi. Mulai dari membantu penanganan banjir, rob, maupun saat awal-awal Covid-19 ini. Jadi saat awal tingkat kematian kasus Covid-19 meningkat di Kota Pekalongan, saya melihat teman-teman kewalahan.

Akan seperti apa di sini karena hanya ada satu tim pemakaman saja. Di situ saya tergerak untuk membantu mereka,” kata Fauzi sambil sesekali mengibaskan tangan, mengurangi gerah yang dirasakanya.

Baca Juga: Firman Soebagyo Minta Pemerintah Tegas Hadapi Kampanya LSM Asing Ganggu Kepentingan Nasional

Dia memang tak bergabung sebagai relawan tim pemakaman sejak awal. Karena menurut Fauzi, saat gelombang pertama Covid-19 di Kota Pekalongan masih terkendali. Jumlah kematian saat itu sekitar dua atau tiga kasus per hari, dan masih dapat ditangani oleh tim. Namun saat gelombang kedua, jumlah kasus kematian meningkat dan itu membuatnya ingin ikut bergerak.

Selain itu, bergerak sebagai relawan juga dikatakan Fauzi sudah menjadi passionya sejak muda. Sehingga dia tak bisa hanya duduk maupun bertindak dari balik layar saja.

“Kalau ada yang ngomong, kan bisa bantu sembako, bisa mengkoordinir bantuan, atau membantu masyarakat yang membutuhkan dengan bentuk lain, itu bagi saya sudah kewajiban dan alhamdulillah sudah saya lakukan tanpa ada komando atau gerakan khusus.

Tapi untuk yang satu ini, saya memang tergerak untuk ikut bergabung karena ini passion saya sejak muda. Bergerak di lapangan, membantu relawan lain yang kewalahan,” ujar aktifis HMI tersebut.

Baca Juga: Dapat Bantuan Modal UMKM Dari Taufan Pawe, Puluhan Emak-Emak Di Galesong Takalar Terharu

Tekadnya semakin kuat karena dia sudah merasakan sendiri bagaimana kehilangan anggota keluarga karena Covid-19. Pamannya, Profesor Abu Bakar Lahji, guru besar di Universitas Mulawarman Samarinda, meninggal karena Covid-19. Dari sana, dia merasa harus ikut menjadi bagian dari upaya bersama dalam penanganan pandemi ini.

Ditanya terkait teknis pemakaman, Fauzi mengaku tak masalah. Memang, seluruh tim sudah dibekali pelatihan khusus karena pemakaman jenazah pasien Covid-19 berbeda dengan jenazah biasa. Saat bergabung, Fauzi mengaku langsung meminta arahan dari koordinator tim bagaimana teknis pemakaman.

“Tidak masalah. Apa yang harus dilakukan saya lakukan. Yang penting bagaimana protokolnya saya ikuti. Saya memang tidak terlatih, tapi setidaknya kehadiran saya bisa meringankan teman-teman. Ibaratnya, kalau dalam satu kali pemakaman ada 100 hingga 150 kali cangkulan, saya bisa membantu meringankan 10 atau 20 kali cangkulan,” tuturnya.

Baca Juga: Terpilih Aklamasi Pimpin Golkar Takalar, Zulkarnain Arief Targetkan 7 Kursi DPRD

Selama bergabung, dia mendapatkan banyak pengalaman. Dia turut merasakan bagaimana tim pemakaman berjuang setiap harinya karena kasus kematian yang terus meningkat. Dia juga melihat dari dekat bagaimana Covid-19 ini nyata dan berbahaya.

“Paling banyak saya ikut memakamkan tujuh jenazah dalam satu hari. Baru istirahat, sudah bersiap lagi. Baru melepas hazmat, sudah berangkat lagi. Ini yang dialami teman-teman setiap harinya. Bekerja menggunakan baju hazmat juga bukan hal yang mudah. Saya merasakan sendiri. Dari sini saya semakin sadar bahwa pandemi ini harus diakhiri dengan upaya bersama,” tegasnya serius.

Dari jalur politik, Fauzi ikut merumuskan dan menyampaikan berbagai masukan terkait penanganan Covid-19 di Kota Pekalongan bersama wali kota dan jajaran eksekutif. Di lapangan, dia menyumbangkan tenaga untuk meringankan beban tim pemakaman Covid-19.

Baca Juga: Bupati Buton La Bakry Izinkan Sholat Idul Adha di Masjid dan Lapangan Terbuka Dengan Prokes

 

Fauzi mengaku, apa yang diperbuatnya tak seberapa. Bahkan teramat kecil untuk memberi pengaruh besar dalam penanganan Covid-19. Namun dia memastikan akan terus berada dalam bagian dan upaya bersama menangani Covid-19.

Sampai kapan dia akan menjadi relawan tim pemakaman? Fauzi menegaskan akan terus membantu selama dibutuhkan. Setidaknya, sampai kasus kematian kembali berkurang dan Covid-19 mulai terkendali di Kota Pekalongan.

Di kejauhan, seluruh anggota tim pemakaman sudah bersiap meninggalkan lekasi pemakaman. Dia mengacungkan jempol sebagai tanda siap menyusul. Setelah ucapan terima kasih, dia bergegas menuju mobil yang mengangkut tim. {radarpekalongan}

fokus berita : #Fauzi