24 Juli 2021

Rentan Tertular COVID-19, Christina Aryani Minta Upaya Ekstra Lindungi Anak Di Masa Pandemi

Berita Golkar - Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar, Christina Aryani, berharap upaya melindungi anak pada masa pandemi Covid-19 dilakukan lebih ekstra. Bukan saja karena tren angka kasus eksploitasi anak di Indonesia makin meningkat tetapi juga karena posisi anak yang rentan tertular virus Corona.

Christina menyinggung jumlah kasus eksploitasi anak di Indonesia selama masa pandemi yang mengalami kenaikan. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) mencatat sebelum pandemi kasus kekerasan anak berjumlah 2.851 kasus, namun saat pandemi meningkat drastis menjadi 7.190 kasus.

"Tentunya masih banyak yang luput dari pemantauan sehingga diperkirakan angkanya jauh lebih tinggi. Situasinya tidak bisa kita bilang biasa, kita perlu memberi perhatian lebih agar perlindungan anak di masa pandemi lebih ekstra lagi kita lakukan,” ungkap Christina dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat (23/7/2021).

Baca Juga: AMPI Kalbar Gelar Vaksinasi Untuk 200 Generasi Milenial di Cafe Tumbuh Pontianak

Christina mengingatkan anak seringkali mengalami eksploitasi seksual dan ekonomi. Bentuk bujukan kepada anak untuk terlibat dalam aktivitas pornografi, perdagangan anak dan prostitusi menjadi ancaman besar di Indonesia. Anak-anak juga sering dipekerjakan oleh orang dewasa untuk mendapat keuntungan ekonomi.

:"Bentuk-bentuk eksploitasi anak seperti ini sangat marak terjadi. Kondisi himpitan ekonomi pada ujungnya mengorbankan anak-anak. Ini sangat terbuka kita lihat di jalan-jalan. Termasuk di media sosial banyak sekali anak dimanfaatkan untuk aktivitas seksual. Jadi isu ini terjadi di sekitar kita, dekat dengan keseharian kita dan membutuhkan perhatian agar kasus-kasus kekerasan anak bisa kita tekan," jelasnya.

Selain itu, Christina juga melihat saat pandemi Covid-19 banyak anak Indonesia yang menjadi yatim piatu karena orangtuanya meninggal akibat terpapar virus tersebut. Situasi ini membuat kondisi anak sangat rentan eksploitasi dan karenanya perlu penanganan khusus.

Baca Juga: Mohan Roliskana Ajak Kader Golkar NTB Serentak Bantu Warga Terdampak COVID-19

“Pihak Rumah Sakit misalnya bisa melakukan pemilahan angka-angka kematian orangtua akibat Covid yang menjadikan anak mereka yatim piatu. Juga pihak RT/RW atau pemerintah bisa membuka aduan khusus agar anak-anak ini mendapat perhatian. Baru-baru ini KPAI juga mengingatkan ini dan kami mendukung agar ada perhatian,” katanya.

Dia berharap pandemi Covid-19 cepat usai dan meminta masyarakat disiplin menjalankan protokol kesehatan. Kemudian, Christina mendorong agar edukasi perlindungan anak selama masa pandemi dilakukan lebih gencar.

“Situasi krisis banyak melahirkan krisis baru jika kita tidak waspada. Demikian halnya Covid-19 yang telah melahirkan banyak krisis baru yang salah satunya berupa eksploitasi yang tengah mengancam anak Indonesia," tukasnya.

Baca Juga: Walikota Samarinda Andi Harun Minta Rudy Mas’ud Segera Kosongkan Sekretariat Golkar Kaltim

Sebagai tambahan, tanggal 23 Juli hari ini diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Peringatan Hari Anak Nasional ditetapkan berdasarkan amanat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 yang dilaksanakan di tingkat pusat dan daerah, serta perwakilan RI di luar negeri.

Banyak tokoh dan elit baik di legislatif, parlemen maupun pegiat sosial, menyoroti isu anak dalam momentum peringatan Hari Anak Nasional.

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia misalnya memberikan remisi pada 1.020 anak yang berhadapan dengan hukum. Remisi diberikan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasioal Tahun 2021.

"Bagaimanapun mereka adalah masa depan bangsa yang harus dilindungi," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kemenkumham Reynhard Silitonga seperti dilansir dari Antara, Jumat (23/7/2021).

Baca Juga: SOKSI Sumut Sembelih 2 Ekor Sapi, Sangkot Sirait: Pengabdian Kepada Allah dan Masyarakat

Reynhard mengatakan, dari jumlah tersebut, sebanyak 1.001 anak mendapatkan remisi anak nasional kategori I dan 19 anak mendapatkan remisi anak nasional II atau langsung bebas.

Kemudian, dari 1.001 anak penerima remisi I, sebanyak 751 anak mendapatkan remisi 1 bulan, 129 anak mendapat remisi dua bulan. Lalu 116 anak menerima remisi tiga bulan, dan lima anak memperoleh remisi lima bulan.

Sementara dari 19 anak penerima remisi anak nasional II, 16 anak di antaranya mendapatkan remisi satu bulan dan tiga anak mendapat remisi tiga bulan. {akurat}

fokus berita : #Christina Aryani