10 Agustus 2021

Airlangga Hartarto Ungkap 6 Tantangan Megatrend Indonesia Songsong Tahun 2045

Berita Golkar - Menko Perekonomian yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto membeberkan 6 tantangan megatrend Indonesia dalam menyongsong tahun 2045.

“Untuk menghadapi Indonesia tahun 2045 ke depan, kita harus menghadapi berbagai tantangan atau megatrend untuk mewujudkan kesejahteraan,” ucap Airlangga saat menyampaikan pidato kebangsaan dalam acara HUT CSIS ke-50 tahun, Selasa (10/8/2021).

Enam tantangan megatrend itu yakni perubahan iklim, menipisnya sumber daya, perkembangan demografi, urbanisasi, inovasi teknologi (digital) dan revolusi industri 4.0 serta ketimpangan ekonomi dan akses.

Airlangga mengatakan, megatrend ini menjadi faktor penting yang menggerakkan perubahan masyarakat, mempengaruhi banyak hal dimana pembuat kebijakan harus melakukan respon yang tepat. “Manusia berinteraksi dengan megatrend ini dan saling mempengaruhi,” ucapnya.

Baca Juga: Sarmuji Minta Pemerintah Beri Beasiswa Bagi Anak Yatim Piatu Dampak Pandemi COVID-19

Masyarakat dapat melihat megatrend sebagai kesempatan, namun tidak jarang menjadi sumber ketimpangan bagi yang tidak bisa beradaptasi. “Tantangan perubahan iklim merupakan isu global yang harus kita hadapi,” jelas Airlangga.

Pemanasan Global pada tahun 2017 sudah mencapai 1% level di atas preindustrialisasi. Diproyeksikan oleh para ahli dengan kecepatan polusi dan emisi gas seperti sekarang, maka bisa mencapai kenaikan hingga 2.5% pada tahun 2050 dan dampak kenaikannya akan sangat berat dan menjadi tidak terkendali lagi.

“Dari aspek demografi, kita akan mengalami masalah kependudukan termasuk penuaan (aging) berasal dari penurunan tingkat fertilitas dan peningkatan usia manusia,” ujarnya.

Secara umum masyarakat yang muda dianggap memperoleh keuntungan demografi karena pekerja muda akan lebih produktif, sementara masyarakat usia lanjut dianggap menjadi beban.

Baca Juga: Jokowi Disebut Restui Airlangga Maju Di Pilpres 2024, Hubungan Dengan PDIP Makin Renggang

Namun jika pada usia lanjut masyarakat tetap sehat dan produktif, maka pintu kesempatan tetap terbuka bagi masyarakat usia lanjutpun bisa tetap produktif. Dikatakan Airlangga, urbanisasi menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi.

Pada tahun 2008, pertama kalinya lebih dari 50% penduduk tinggal di perkotaan. Diperkirakan akngka ini akan naik hingga 70% pada tahun 2050. Urbanisasi masih akan terus berlanjut.

Tantangannya adalah menyiapkan perumahan yang terjangkau, baik dan terawat untuk penduduk yang berimigrasi ke perkotaan. “Di sisi lain, kita terus mengalami transformasi teknologi, terutama teknologi berbasis digital,” jelasnya.

Transformasi teknologi ini akan mempengaruhi pergerakan struktur sosial dan ekonomi baik secara positif maupun negatif dan berdampak luas terhadap masyarakat di masa yang akan datang. Perubahan gelombang teknologi yang sedang berlangsung akan mempengaruhi pasar tenaga kerja di berbagai lini.

Baca Juga: Idris Laena Dukung Airlangga Dorong Pemda Percepat Realisasi APBD Ringankan Ekonomi Masyarakat

Transformasi teknologi ini menimbulkan dua sisi mata uang yang berbeda. Di satu sisi, perkembangan teknologi berkontribusi terhadap penghilangan lapangan pekerjaan selama dua abad terakhir. Namun, di sisi lain, perkembangan teknologi juga menciptakan lapangan pekerjaan di berbagai sektor.

Transformasi di semua sektor ekonomi akan terjadi dan difasilitasi perkembangan teknologi ini, yang megakibatkan penurunan biaya dan peningkatan efisiensi serta menciptakan lapangan pekerjaan yang baru dan menjadi peluang untuk pertumbuhan ekonomi. Perubahan teknologi jelas akan menciptakan pemenang (winner) dan yang kalah (loser).

Potensi ketimpangan kesehatan dan pendidikan yang disebabkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi yang cepat, ikut berperan menambah ketimpangan antar kelompok masyarakat.

Ketimpangan merupakan fenomena yang terjadi dari waktu ke waktu dan trendnya kadang menurun dan meningkat. Namun akibat dari pandemi ini diperkirakan ketimpangan antar negara maupun dalam satu negara mengalami peningkatan.

Baca Juga: Bupati Karanganyar, Juliyatmono: Airlangga Putra Terbaik dan Solusi Problematika Bangsa Indonesia

Visi Satu Abad Kemerdekaan RI

Airlangga menegaskan Indonesia harus optimis mampu mewujudkan kesejahteraan pada 1 abad kemerdekaan. “Tahun 2019 yang lalu, kita sudah masuk dalam kategori negara berpenghasilan menengah tinggi (upper-middle income) dengan GDP mencapai 4.050 USD,” ujarnya.

Namun, akibat pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, mengintrupsi kita untuk turun kembali menjadi negara berpenghasilan menengah rendah (lower-middle income) dengan GDP sebesar 3.870 USD.

“Seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi, kita harus kembali meningkatkan pendapatan masyarakat kita. Kita harus mendorong ke arah semakin memperbesar kelompok kelas menengah kita sehingga dapat mengurangi ketimpangan secara signifikan,” kata Airlangga.

“Dalam visi kami, kita ingin keluar dari jebakan kelas menangah (middle income trap) dengan pendapatan di atas 12.500 USD per kapita pada tahun 2036,” tambahnya.

Baca Juga: Resmi Kelola Blok Rokan, Dyah Roro Esti Minta Pertamina Kembangkan Teknologi dan Maksimalkan SDM Lokal

Diharapkan pada tahun 2045, Indonesia menjadi negara dengan pendapatan tinggi (high income) sebesar 23.199 USD per kapita. Apa yang harus dikerjakan dari mulai sekarang untuk 2045 nanti?

Menurut Airlangga, setidaknya ada tiga pilar yang harus menjadi perhatian. Pertama, pembangunan manusia dan penguasaan teknologi. Kedua, pembangunan ekonomi yang berbasis kepada global value chain, peningkatan produktivitas, pengembangan blue economy, green economy dan circular economy yang mendorong pembangunan berkelanjutan secara inklusif.

Ketiga, memperkuat ketahanan kohesi sosial dan tenun kebangsaan Indonesia. “Yang pertama kita harus memperkuat sumber daya manusia yang terampil, berkualitas, tangguh, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berprestasi,” ucapnya.

Kuncinya terletak pada pendidikan, oleh karenanya kebijakan pendidikan double track perlu diperdalam, Track pertama adalah mendorong munculnya lulusan SMA sederajat yang berkualitas dan pendidikan tinggi yang mampu berkompetisi di tingkat global. “Kita harus menjadikan perguruan tinggi Indonesia yang masuk dalam Top 100 Dunia,” tegas Airlangga.

Baca Juga: Anggota Fraksi Golkar DPRD Labura Positif Narkoba, Musa Rajekshah: Tunggu Proses Hukum Kepolisian

Track kedua adalah pengembangan vokasi baik itu SMK dan politeknik yang siap kerja yang berorientasi terhadap faktor permintaan yang dibutuhkan, termasuk peningkatan peserta didik pada sains, teknologi, aritificial engineering, robotik, crypto, bio-science, engineering, matematika dan manajemen.

Selain itu, belajar dari pandemi yang kita alami saat ini, harus memiliki perhatian serius terhadap aspek ketahanan kesehatan. “Kita harus membangun sistem dan fasilitas kesehatan publik di sektor hulu yang mengedapkan aspek pencegahan terutama menyangkut gizi, penyehatan lingkungan, perubahan perilaku sehat,” katanya.

Pada aspek penanganan kesehatan, membangun sistem dan fasilitas kesehatan di sektor hilir yaitu, pengobatan, yang menyangkut pengendalian penyakit, termasuk pengendalian pandemi dan endemi, Rumah Sakit dan fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan, serta industri obat obatan termasuk kemandirian dalam memproduksi vaksin.

Dalam hal pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, harus meningkatkan riset, pengembangan dan inovasi serta meningkatkan kerja sama secara produktif antara akademisi, pemerintah dan bisnis. Keterbukaan bekerja sama dengan para pemain global dalam rangka peningkatan kualitas para akademisi dan peneliti Indonesia.

Baca Juga: Mampu Dorong Ekonomi Tumbuh Positif, Misbakhun Puji Kepemimpinan Jokowi dan Airlangga

Yang kedua dalam menghadapi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif, harus mengambil langkah-langkah yang tepat dengan melakukan modernisasi pada semua sektor: infrastruktur, energi, industri, pertanian, industri maritim dan kelautan, industri pariwisata dan kreatif, perdagangan luar negeri dan lain-lain.

Pembangunan berbagai sektor itudengan memperhatikan lingkungan secara bertanggung jawab melalui penurunan emisi, peningkatan keanekaregaman hayati, dan ekonomi hijau serta ekonomi biru secara berkelanjutan. “Kita harus memiliki ketahanan pangan, energi dan air kebutuhan fundamental bangsa,” jelasnya.

Selain itu, pembangunan ekonomi harus berorientasi inklusif yang bertujuan mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan pendapatan dengan melakukan kebijakan afirmatif serta semakin tertatanya jaminan perlindungan sosial dengan rapi dan baik.

Baca Juga: Nusron Wahid: Ekonomi RI Tumbuh 7,07 Persen Berkat Kepiawaian Airlangga Sebagai Politisi Teknokrat

Yang ketiga, yang tak kalah pentingnya, adalah membangun ketahanan kohesi sosial dan tenun kebangsaan. “Sebagai bangsa Indonesia, kita patut bersyukur bahwa kita disatukan dalam suatu ideologi negara yaitu Pancasila,” imbuhnya.

Menurut Airlangga, Pancasila inilah yang seharusnya dijadikan sebagai perekat tenun kebangsaan kita. “Sebagai warga bangsa yang disatukan karena perbedaan dan kemajemukan, nilai-nilai dan wawasan kebangsaan merupakan prasyarat mutlak yang harus dijaga demi tetap tegak dan utuhnya NKRI, kemajemukan dan keragaman suku, budaya, bahasa, etnis, golongan dan agama, di satu sisi merupakan kekayaan yang dapat menjadi kekuatan positif dalam pembangunan bangsa,” katanya.

Di sisi lain, kemajemukan dan keberagaman juga mengandung potensi konflik yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi titik retak persatuan dan kesatuan bangsa. Melihat kondisi sumber daya manusia saat ini dari segi kuantitas cukup besar, namun dari segi kualitas masih banyak yang perlu untuk ditingkatkan dan perlu mendapat perhatian.

Baca Juga: Direncanakan Jauh Hari, Maman Abdurrahman: Kultur Baru, Baliho Airlangga Hasil Urunan Kader Golkar

Displin, budaya, etos kerja, jiwa nasionalisme dan kegigihan haruslah menjadi karakter bangsa. “Hal itu merupakan prasyarat agar di tengah kita mencapai target visi 2045, Indonesia sebagai negara tetap harus maju, di tengah kemajemukannya serta tetap punya ciri dan karakter kebangsaan yang utuh,” pungkas Airlangga. {pojoksatu}

fokus berita : #Airlangga Hartarto