19 Agustus 2021

Ingat Meutya Hafid? Dulu Jurnalis Perang Pernah Disandera Di Irak, Kini Pimpinan Komisi I DPR RI

Berita Golkar - Masih ingat Meutya Hafid ? Jurnalis perang pernah disandera di Irak, kini Anggota DPR RI dan jadi pimpinan. Meutya Hafid kini menjadi salah satu pimpinan di DPR RI, tepatnya Ketua Komisi I DPR RI bidang pertahanan, luar negeri, komunikasi dan informatika, dan intelijen.

Sosok Meutya Hafid adalah jurnalis perang dari Indonesia, dulu heboh tahun 2005 saat disandera ketika meliput Perang Irak di masa Presiden SBY. Mantan jurnalis Metro TV ini terjun ke dunia politik praktis dengan latar belakangnya sebagai pewarta berita.

Meutya Hafid dikenal sebagai salah news anchor cerdas Indonesia bersama Najwa Shihab. Pengalamannya sejak kecil mengikuti pertukaran pelajar dan pengalaman internasional membuat wawasannya luas.

Baca Juga: Dave Laksono Minta Pemerintah Segera Evakuasi WNI Di Afghanistan dan Pastikan KBRI Kabul Aman

Selain Anggota DPR RI, mantan wartawan Metro TV ini juga pernah dipercaya sebagai Juru Bicara Jokowi dan KH Maruf Amin pada 2018-2019. Ia memilih berkarier di Partai Golkar dan kini jadi salah satu pucuk pimpinan komisi di Senayan.

Sebelum di Golkar, ia pernah berkiprah di Ormas Partai Nasional Nasdem. Sosok Meutya Hafid kemudian meninggalkan Nasdem setelah berubah menjadi partai politik pada 2010 lalu. Pilihannya di partai beringin tepat.

Kini mengantarnya jadi salah satu wanita berpengaruh di Senayan setelah terpilih melalui Pemilu 2019 lalu. Politisi Partai Golkar ini satu-satunya perempuan yang dipercaya memimpin Komisi di DPR RI. Yang mengejutkan, Meutya memimpin Komisi I DPR RI.

Baca Juga: Bamsoet: UUD 1945 Bukan Kitab Suci, Perlu Disempurnakan Sesuai Kebutuhan Masyarakat

Komisi di Dewan yang pimpinannya kerap diidentikkan dengan laki-laki. Hal ini karena Komisi I membawahi urusan kemiliteran, pertahanan, dan intelijen.

Di bawah kepemimpinannya, mitra kerja Meutya Hafid mulai dari Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berserta kepala staf, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Kepada Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan, Menteri Komunikasi dan Informasi Johni G Plate.

Tak hanya itu, mitra kerja Komisi I juga adalah Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas); Badan Keamanan Laut (Bakamla), Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas), Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI).

 

Baca Juga: Dorong Modernisasi Koperasi, Gde Sumarjaya Linggih: Agar Adaptif Dan Berdaya Saing Tinggi

Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI), Dewan Pers, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Komisi Informasi Pusat (KI Pusat), Lembaga Sensor Film (LSF) dan Perum LKBN Antara.

Meutya Hafid memimpin 47 anggota Komisi I dari berbagai partai politik serta 4 wakil ketua Komisi I. Sebenarnya Meutya Hafid bukan nama yang asing lagi bagi dunia pers tanah air. Kiprahnya saat menjadi wartawan terbilang sangat mengagumkan.

Utamanya dia ditugaskan meliput langsung sejumlah perang di berbagai dunia. Pada 18 Februari 2005, Meutya diculik dan disandera oleh sekelompok pria bersenjata ketika sedang bertugas di perang Irak. Dia akhirnya dibebaskan pada 21 Februari 2005.

Baca Juga: Bamsoet: HUT RI Ke-76 Momentum Optimalkan Bonus Demografi Songsong 2045

Pada tanggal 28 September 2007, Meutya melaunching buku yang ia tulis sendiri yaitu "168 Jam dalam Sandera: Memoar Seorang Jurnalis yang Disandera di Irak". Presiden SBY kala itu menghadiri langsung peluncuran bukunya.

Tak hanya itu, Meutya juga pernah ditugaskan sebagai jurnalis pada konflik Palestina (2007), Meliput Pemilu Australia/ pergantian kepemimpinan di Australia (2007), Kudeta Militer Thailand (2006), Konflik Thailand Selatan (2006), Pemilu Irak (2005), Dialog Pemimpin Muslim dunia di Rusia tahun 2005.

Serta berbagai liputan dan pelaporan langsung didalam negeri diantaranya darurat militer di Aceh (2003), Tsunami Aceh (2005), Perjanjian Damai Aceh (2005), Pemusnahan senjata di Aceh (2005).

Sebelum tidak lagi aktif dalam dunia jurnalistik, Meutya melaporkan dan menjadi host berbagai program election/ Pilkada di berbagai provinsi diantaranya Jawa Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung.

Baca Juga: Soal Pertemuan Airlangga-Gibran di Loji Gandrung, Ketua Golkar Cianjur: Terjalin Chemistry Baik

Meutya juga mewawancarai banyak tokoh Nasional dan pemimpin bangsa maupun tokoh/ pemimpin mancanegara, di antaranya menjadi moderator dialog Presiden Iran Ahmadinejad, wawancara Wakil Presiden Iran, dan banyak pemimpin negara lainnya.

Selain itu, Meutya juga menjadi host dalam berbagai program andalan Metro TV, seperti Todays Dialogue dan berita sore Metro hari ini. Berkat kiprahnya tersebut, dia mendapatkan kepercayaan sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan Sumatera Utara selama dua periode hingga sekarang.

Untuk lebih lengkapnya berikut profil singkat Meutya Hafid :

Nama Lengkap : Meutya Viada Hafid

Nama panggilan : Meutya

Lahir : Bandung, 3 Mei 1978

Baca Juga: Dedi Mulyadi Murka Jalan Warga di Purwakarta Hancur Karena Sering Dilewati Truk-Truk Berat

Pendidikan

S2 : Ilmu Politik (Cum Laude), Universitas Indonesia

S1 : Bachelor of Manufacturing Engineering, University of New South Wales, Sidney, Australia

SMU : Crescent Girls School Singapore

SMP : SMPN 1 Cikini Jakarta

Penghargaan

2013 : Press Card No. 1 – Penghargaan Tokoh pers nasional kaliber internasional (PWI Pusat)
2008 : Australian Alumnae Awards untuk bidang jurnalistik
2008 : Young Inspiring People (Hard Rock FM)
2007 : Elizabeth O’ Neill Journalism Award (Penghargaan bagi Jurnalis dari Pemerintah Australia)
2006 : Mewakili Indonesia dalam Asia 21st Young Leaders Meeting di Seoul, Korea Selatan
2006 : Penghargaan Kartini bidang Jurnalis (Lions Club Jakarta)

Baca Juga: Golkar Bali Berduka Atas Wafatnya Made Perasu, Wandhira: Amor Ring Acintya

2006 : Wanita Pemberani (Samsung Award)
2005 : Women of courage (Kaukus perempuan Singapura)
2005 : Penghargaan dedikasi di bidang jurnalistik (UMM Malang)
1996 : National Youth Achievement Award (Kelas Perunggu dari Pemerintah Singapura)

Beasiswa dan Pertukaran Pelajar :

1996 – 1998 : Beasiswa S1 dari Kementerian Riset dan Teknologi RI
1994 – 1996 : ASEAN Scholarship (dari Ministry of Education Singapore)
1992 : Pertukaran Pelajar Indonesia Jepang
1989 : ASEAN Pasific Children Convention, Fukuoka, Jepang

Baca Juga: Dubes Tantowi Yahya Ungkap 4 Trik Selandia Baru Berhasil Keluar Dari Krisis COVID-19

Pengalaman Kerja :

2019-sekarang : Ketua Komisi I DPR RI
2018-2019 : Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin
2018-2019 : Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI bidang Politik Hukum dan Keamanan
2016-2018 : Wakil Ketua Komisi I DPR RI
2016-2019 : Ketua DPP Partai Golkar Bidang Hubungan Luar Negeri
2016-2021 : Koordinator Bidang Hukum, HAM, Kebijakan Publik dan Kerjasama Luar Negeri PP Kesatuan Perempuan Partai Golkar (KPPG)
2015-2020 : Ketua Bidang Strategi Opini dan Propaganda DPP Ormas MKGR
2015-2016 : Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI
2012-2014 : Anggota Komisi I DPR RI

Baca Juga: Ferry Wawan Cahyono: Jangan Pernah Berhenti Berjuang Hadapi Pandemi COVID-19

2010-2014 : Anggota Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI
2010-2012 : Anggota Komisi XI DPR RI
2010-sekarang : Anggota DPR RI (Periode 2009-2014, 2014-2019, 2019-2024)
2008 : Politisi muda partai Golkar
2001-2008 : Jurnalis Metro TV
1998-2001 : PR announcer Radio Suara Indonesia, Sydney Australia
1998-2001 : Sales Assistant, Grace Brothers Australia. {manado.tribunnews}

fokus berita : #Meutya Hafid