26 Agustus 2021

Survei Voxpopuli: Elektabilitas Golkar Di Posisi Ke-4 Di Bawah Demokrat Dengan 8,8 Persen

Berita Golkar - Perkembangan situasi politik menuju gelaran Pemilu 2024 mulai bergerak dinamis. Elektabilitas Demokrat terus terkerek naik, dan kini menduduki peringkat tiga besar sebesar 11,2 persen. Demokrat hanya kalah dari PDIP dan Gerindra yang masih menguasai posisi pertama dan kedua.

Pada papan tengah, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memantapkan diri dengan meraih elektabilitas 5,0 persen. Kejutan lainnya datang dari dua partai politik baru, yaitu Partai Ummat (1,5 persen) dan Gelora (1,0 persen), mulai mewarnai perpolitikan nasional.

“Demokrat melesat ke peringkat tiga besar, sedangkan di papan tengah PSI menembus 5 persen, dan partai-partai baru mulai menggeliat,” ungkap Direktur Komunikasi Voxpopuli Research Center Achmad Subadja dalam keterangan tertulis kepada pers, Kamis (26/8).

Baca Juga: Yahya Zaini Apresiasi Langkah Kemnaker Kembangkan Kesempatan Kerja Berbasis Kawasan di 5 Provinsi

Menurutnya, kenaikan signifikan elektabilitas Demokrat menjadi ancaman bagi dua partai utama koalisi pemerintah. PDIP masih unggul, tetapi elektabilitasnya kini hanya berada pada posisi 15,8 persen, disusul Gerindra 13,5 persen.

Demokrat juga menyalip Golkar yang biasanya berada pada posisi ketiga. Elektabilitas Golkar relatif stabil sebesar 8,8 persen. “Demokrat kini menjadi simbol oposisi, dan setiap kritik terhadap kinerja pemerintah cenderung menguntungkan bagi kenaikan posisi Demokrat,” jelasnya.

Partai-partai papan tengah lainnya adalah PKB (6,1 persen), PKS (4,9 persen), Nasdem (3,7 persen), dan PPP (2,0 persen). Sementara itu Partai Ummat dan Gelora merangsek naik dan menjepit posisi PAN (1,3 persen).

Baca Juga: Bantu Percepat Herd Immunity, Airlangga Minta DPD Golkar Di Semua Wilayah Gelar Vaksinasi

“Di antara partai-partai baru, hanya Partai Ummat dan Gelora yang mulai menunjukkan kekuatan, mengancam partai-partai lama khususnya PAN dan PKS,” lanjut Achmad. Partai Ummat didirikan oleh tokoh PAN Amien Rais, sedangkan PKS berisi tokoh-tokoh yang berasal dari PKS.

Pada papan bawah terdapat Perindo (0,8 persen), Hanura (0,7 persen), Berkarya (0,6 persen), PBB (0,4 persen), PKPI (0,3 persen), dan Garuda (0,1 persen). Masyumi Reborn nihil dukungan, sedangkan partai-partai lainnya 0,4 persen dan sisanya tidak tahu/tidak jawab 21,9 persen.

Survei Voxpopuli Research Center dilakukan pada 10-20 Agustus 2021, melalui telepon kepada 1.200 responden di seluruh Indonesia yang dipilih secara acak dari survei sebelumnya sejak 2019. Margin of error survei sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Baca Juga: Kesal Pemerintah Dianggap Tak Serius Tangani Pandemi, Menko Luhut: Kita Gak Bego-Bego Amat Kok!

Survei IPO: PDIP, Golkar dan Gerindra 3 Besar

Survei Indonesia Political Opinion (IPO) menunjukkan elektabilitas partai politik tiga besarnya tidak berbeda dengan hasil Pemilu 2019. Namun, terjadi perubahan di papan tengah.

Pada survei IPO yang dirilis Sabtu (14/8), PDI Perjuangan berada di urutan teratas dengan elektabilitas 19,5 persen. Diikuti Partai Golkar 13,8 persen dan Gerindra 12,6 persen.

Namun, di papan tengah terjadi perubahan. Partai Demokrat berada di urutan keempat dengan besaran 8,7 persen. Kemudian NasDem 7,8 persen ditempel PKB 7,5 persen. Partai Amanat Nasional (PAN) meningkat menjadi 5,8 persen. PKS justru turun menjadi 4,9 persen.

Baca Juga: Efek Baliho Positif Untuk Airlangga, Indikator Politik: Tingkat Kedikenalan Naik Jadi 33 Persen

"Terjadi perubahan pada tingkat keterpilihan partai politik; PKS mengalami penurunan signifikan, kondisi ini seiring dengan peningkatan perolehan angka keterpilihan pada PAN yang berhasil unggul dari PKS dan mendekati perolehan angka keterpilihan PKB. Jika kondisi ini konsisten maka PAN berpeluang kembali meningkat di Pemilu 2024," ujar Direktur Eksekutif IPO Dedi Kurnia Syah (14/8).

Dedi menduga, meningkatnya PAN dan Demokrat berkat kekecewaan terhadap partai pemerintah. Sehingga pemilih bergeser ke partai oposisi. "Artinya ini semacam keberkahan, semakin pemerintahan itu mengecewakan semakin memberikan berkah kepada oposisi," katanya.

Selain itu ada juga asumsi partai yang meningkat ini karena senyap turun ke daerah. PAN tidak banyak bicara di publik. Berbeda dengan PKS yang kerap mengeluarkan argumentasi politik. "Artinya gerakan parpol pada aspek kinerja di bawah, entah itu membantu pemerintah melakukan vaksinasi itu lebih berdampak daripada melakukan promosi," jelas Dedi.

Baca Juga: Yahya Zaini Apresiasi Langkah Kemnaker Kembangkan Kesempatan Kerja Berbasis Kawasan di 5 Provinsi

Konflik juga dinilai memiliki pengaruh. Seperti Demokrat yang setelah konflik memiliki pergerakan elektabilitas lebih baik. Kemudian, PAN yang pendirinya, Amien Rais pecah dan mendirikan partai baru.

Terkait PAN, diduga ada masyarakat yang tak mendukung Amien, setelah keluar justru mendukung PAN. "Begitu Amien Rais keluar dari PAN, kelompok yang tadinya mulai kehilangan kepercayaan mungkin kembali lagi kepada PAN dengan asumsi tidak ada lagi kelompok pak Amien," kata Dedi.

Sementara itu, elektabilitas partai lainnya setelah PKS, yaitu Perindo 2,1 persen, PPP 1,9 persen, Partai Berkarya 1,9 persen, PSI 1,8 persen, Hanura 0,9 persen, Gelora 0,7 persen, PBB 0,5 persen, Partai Garuda 0,2 persen, PKPI 0 persen dan Partai Ummat 0 persen. Tidak jawab atau rahasia 9,4 persen.

IPO menggelar survei pada 2-10 Agustus 2021. Survei menggunakan teknik multistage random sampling untuk pengambilan sampel. Jumlah representasi sampel sebanyak 1200 responden. Survei memiliki sampling error 2,5 persen dengan tingkat akurasi data 97 persen. {merdeka}

fokus berita : #Achmad Subadja