01 Oktober 2021

Surabaya, Kota Bandar Kota Kelahiran Airlangga Hartarto

Berita Golkar - Hari ini, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Airlangga Hartarto, berulang tahun. Tepat lima puluh sembilan tahun lalu, 1 Oktober 1962. Airlangga lahir di Surabaya, kota terbesar kedua di Indonesia. Ibukota Jawa Timur.

Kota yang melahirkan Sukarno, Proklamator, Presiden dan Negarawan Indonesia. Kota tempat menempa nalar dan ilmu di kalangan perintis kemerdekaan.

Surabaya didirikan oleh Maharaja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan yang memerintah pada awal abad ke-11.[1] Ayah Maharaja Airlangga bernama Prabu Udayana asal Bali dengan permaisuri Ratnawarman[2], putri asal Kerajaan Kutai Kartanegara.

Baca Juga: Terungkap! Ini 2 Alasan Airlangga Pilih Lodewijk Paulus Gantikan Azis Jadi Wakil Ketua DPR RI

Tak heran kultur Surabaya campuran antara Jawa, Bali, dan Kutai. Era Maharaja Airlangga dikenal sebagai puncak kegemilangan ilmu bangunan, ilmu ukir, aksara, hingga irigasi.

Disamping mampu mempersatukan Jawa, Bali, dan Sumatera, dalam era Airlangga berdiri banyak candi, buku karangan empu, hingga bendungan. Wilayah kekuasaan Maharaja Airlangga membentang dari Pasuruan hingga Madiun, termasuk Tuban.

Dalam era Maharaja Airlangga, pusat kerajaan berpindah dari Kahuripan (Surabaya) ke Doha (Kediri). Sejumlah peninggalan Airlangga adalah Sriwijaya Asrama (1036), bendungan Waringin Sapta (1037), Pelabuhan Hujung Galuh di muara Kali Brantas, hingga jalan-jalan dari pesisir ke arah pusat kerajaan.

Baca Juga: Yellow Day Golkar Kutim Peduli Vaksin, 2.700 Warga Sangatta Antusias Divaksin Gratis

Kakawin Arjuna Wiwaha yang digubah oleh Mpu Kanwa, lahir atas perintah Maharaja Airlangga, sekitar tahun 1030. Kakawin ini menceritakan ketika Arjuna bertapa di Gunung Mahameru. Tujuh bidadari dikirimkan oleh para dewa untuk mengganggu tapabrata Arjuna, antara lain Dewi Supraba dan Tillotama.

Ketujuh bidadari gagal, lalu datanglah Batara Indra yang menyamar sebagai brahmana tua. Arjuna dan brahmana itu berdiskusi tentang agama, sampai Batara Indra menghilang setelah menyebutkan jati dirinya.

Kota Surabaya pun menjadi alas tikar sosok penting yang menjadi bingkai ideologis para pendiri Republik Indonesia, yakni Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, Pemimpin Sarekat Islam yang bergelar "Raja Jawa Tanpa Mahkota". Di Gang Paneleh VII Nomor 29-31, tepi Sungai Kalimas, terletak rumah Tjokroaminoto yang disewakan.

Baca Juga: Terungkap! Ini 2 Alasan Airlangga Pilih Lodewijk Paulus Gantikan Azis Jadi Wakil Ketua DPR RI

Di rumah itu sejumlah tokoh berguru dan berdebat kala muda: Sukarno, Semaoen, Alimin, Darsono, Musso, dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwirdjo. Kartosuwirdjo adalah keponakan Mas Marco Kartodikromo, seorang tokoh pers yang menjadi inspirasi utama Pramoedya Ananta Toer dalam menulis tetralogi Pulau Buru.

Di rumah itu juga KH Ahmad Dahlan, dan KH Mas Mansyur sering bertukar pikiran, pun bersama Tan Malaka, Ernest Douwes Dekker, hingga Haji Agus Salim.

Rumah yang mempertemukan beragam aliran pemikiran dalam pergerakan politik. Rumah yang mempersatukan anak-anak belasan tahun, lalu mereka juga yang saling berhadapan ketika kemerdekaan bangsa berhasil diraih.

Baca Juga: Dave Laksono Tegaskan Komisi ! DPR Belum Terima Surpres Jokowi Terkait Calon Panglima TNI

Semula mereka saling mengasuh, mengasihi, dan terjebak dalam kemelut sejarah sebagai tokoh yang saling menyingkirkan.

Surabaya juga dikenal sebagai Kota Pahlawan dalam Perang Kemerdekaan, 10 November 1945. Masyarakat dengan kultur terbuka. Sukarno meresmikan Universitas Airlangga Sembilan tahun kemudian, yakni tanggal 10 November 1954.

Dibandingkan dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung dan Universitas Gajah Mada, kiprah alumnus Universitas Airlangga masih belum banyak mewarnai panggung kenegaraan...

*) Serial tulisan pembuka bertajuk "KRONIK AIRLANGGA HARTARTO: Jurnal Kehidupan Sang Nahkoda Armada Panca Bakti" buah pena Indra J Piliang. {kompasiana}

fokus berita : #Airlangga Hartarto #Indra Piliang