07 Oktober 2021

Cerita Melki Laka Lena Jadi Relawan Vaksin Nusantara Dan Tak Terdaftar di PeduliLindungi

Berita Golkar - Riset terapi sel dendritik untuk meningkatkan imunitas terhadap COVID-19 yang dulu disebut Vaksin Nusantara masih terus berlanjut. Terapi yang dibesut oleh eks Menkes Terawan Agus Putranto ini kini masih dalam tahap uji klinis fase II dan sedang menunggu perizinan untuk uji selanjutnya.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, yang menjadi salah satu relawan penelitian sel dendritik ini menceritakan pengalamannya bersama keluarga saat disuntik pada April lalu. "Saya termasuk beruntung, anak saya relawan, keponakan relawan, mama saya relawan," ungkap Melki dalam sebuah diskusi virtual, Rabu (7/10/2021).

Akan tetapi, terapi berbasis sel dendritik ini statusnya belum terdaftar secara resmi, sehingga siapa pun yang mendapatkannya tak akan dihitung sebagai orang yang sudah divaksin. Sehingga, Melki dan juga keluarganya --termasuk relawan lainnya-- tak mendapat sertifikat vaksin yang bisa dicek pada aplikasi PeduliLindungi.

Baca Juga: Golkar dan PKB Jajaki Potensi Koalisi di Pilkada Serentak 2024 di Karanganyar

Melki juga menyebutkan, ia menerima vaksin lainnya sesuai yang terdaftar sah oleh negara sebagai bentuk syarat untuk mempermudah dirinya bepergian. Sebab, salah satu syarat kegiatan seperti menjadi penumpang pesawat udara yaitu wajib divaksin COVID-19 minimal dosis pertama.

"Tapi karena ke mana-mana enggak bisa terbang pakai Vaksin Nusantara, saya ikuti juga vaksin yang lain agar pergerakan saya masuk di PeduliLindungi. Tapi pengobatan murni saya pakai Vaksin Nusantara yang diterima keluarga saya," jelasnya.

Untuk itu, dia memperjelas dirinya hanyalah relawan untuk penelitian saja, bukan tercatat sebagai relawan uji klinis. Sebab, yang namanya relawan dalam uji klinis akan dipantau terkait bagaimana suatu vaksin yang diuji tersebut dapat menghasilkan manfaat.

Baca Juga: Impor Menggila, Mukhtarudin Minta Kemenkeu Perpanjang Kebijakan Safeguard Ubin dan Keramik

"Kami yang pernah kena COVID ini jadi relawan, tapi bukan untuk data uji klinis. Yang dipakai itu betul-betul yang belum pernah COVID, belum pernah divaksin, jadi benar-benar ketat. Cuma kami karena kami ikut, kami relawan yang datanya tidak dimasukkan ke uji klinis tapi masuk ke penelitian Vaksin Nusantara," pungkasnya.

Vaksin Nusantara sempat menjadi kontroversi awal tahun ini. Kontroversi berakhir dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) 'Penelitian Berbasis Pelayanan Menggunakan Sel Dendritik untuk Meningkatkan Imunitas Terhadap Virus SARS-CoV-2'.

MoU diteken oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala Staf AD Jenderal TNI Andika Perkasa, dan Kepala BPOM Penny K. Lukito Nota Kesepahaman (MoU) pada 19 April 2021.

Dinas Penerangan TNI AD dalam siaran pers kala itu menekankan penelitian sel dendritik yang akan dilakukan di RSPAD Gatot Subroto itu akan mengikuti pedoman kaidah penelitian dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. {kumparan}

fokus berita : #Melki Laka Lena