15 Oktober 2021

Ridwan Bae Takkan Berhenti Perjuangkan Bandara Kolaka Utara di Kodeoha

Berita Golkar - Wakil Ketua Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI), Ridwan Bae bersama Perwakilan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara RI, Sigit Widodo meninjau progres pembangunan Bandara Kolaka Utara (Kolut) yang dibangun di Desa Lametuna, Kecamatan Kodeoha, Kamis (14/10/2021).

Pembangunan Bandara diharapkan dapat mendorong peningkatan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Ridwan Bae, bandara merupakan pembangunan yang dapat dinikmati dalam jangka waktu panjang namun membutuhkan anggaran besar dan kerja keras untuk mewujudkannya. Karena itu, maka seorang pemimpin harus berkomitmen mempunyai visi dan misi ke depan.

Baca Juga: HUT Ke-57, Golkar Jawa Barat Gelar Bedah Rumah Hingga Festival Shalawat

“Saya tidak akan berhenti memperjuangkan sampai adanya bandara di Kolaka Utara. Semoga pembangunannya dapat segera terwujud,” katanya.

Selain itu, Sigit Widodo yang merupakan Kepala Otoritas Bandara Wilayah V Makassar menjelaskan bahwa tahapan pembangunan bandara telah berjalan dalam rencana strategi.

“Bandara Kolaka Utara sudah masuk dalam tahapan perencanaan atau renstra, dan saya yakin pembangunan ini akan memberi manfaat bagi masyarakat. Adapun kunjungan ini akan dikoordinasikan dengan dirjen,” jelas Sigit.

Sedangkan Bupati Kolut, Nur Rahman Umar menuturkan, pembangunan bandara di Kolaka Utara diharapkan dapat meningkatkan perekonomian daerah, mendorong kesejahteraan masyarakat, serta menarik investor masuk ke wilayah tersebut.

Baca Juga: Cen Sui Lan Realisasikan Dana Aspirasi Rp.26 Miliar Lewat Aneka Program Padat Karya di Kepri

“Kebutuhan bandara ini sangat dibutuhkan guna menarik investasi masuk ke Kolaka Utara. Selain alasan ekonomi, juga sosial di mana masyarakat butuh pelayanan kesehatan yang cepat,” tuturnya.

Dia menggambarkan bahwa potensi penggunaan bandara bisa dilihat perkembanganya terhadap pertumbuhan ekonomi, serta data penurunan tingkat kemiskinan. Di mana pada tahun 2017 hanya sekitar 17 persen, dan meningkat pada 2020 di angka 12 persen.

“Menurut data BPS, hal tersebut dikarenakan keberhasilan perekonomian masyarakat dan peningkatan daya beli. Peningkatan tersebut akan semakin bertambah dengan adanya program prioritas revitalisasi kakao, dan potensi tambang serta sumber daya lainnya,” pungkasnya. {teropongsenayan}

fokus berita : #Ridwan Bae