18 Oktober 2021

Bagaimana Nasib Golkar Sumsel Pasca Alex Noerdin dan Dodi Reza Ditahan?

Berita Golkar - Ditahan dan ditetapkan tersangka Ketua DPD I Golkar Sumsel Dodi Reza Alex Noerdin oleh KPK, karena terlibat kasus dugaan suap terkait proyek infrastruktur di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) jelas menjadi suatu keprihatinan bagi partai Golkar di Sumsel kedepan, apalagi partainya ini akan berulang tahun ke 57 pada 20 Oktober mendatang.

Pasalnya, selain Dodi, penegak hukum di Indonesia juga telah menetapkan tersangka dan menahan tokoh Golkar Sumsel selama ini yang belum genap sebulan.

Tokoh itu tidak lain adalah ayah dari Dodi Reza, Alex Noerdin (mantan Gubernur dan mantan ketua Golkar Sumsel) atas dugaan kasus korupsi gas di PDPDE dan proyek pembangunan Masjid Raya Sriwijaya.

Baca Juga: Maman Abdurrahman: Merespons Pidato Pak Jokowi, Saya Dorong Kementerian BUMN Dibubarkan!

"Jelas, ini menjadi suatu keprihatinan dan jadi catatannya yang bersejarah, diusia partai Golkar ke 57 pada 20 Oktober nanti, akan jadi kado refleksi kepada Golkar Sumsel untuk berbenah, dalam menentukan figur ketua atau figur- figur politiknya kedepan," kata pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri) Adryan Saftawan, Senin (18/10/2021).

Dijelaskan Adryan, dengan banyaknya kepala daerah atau mantan yang terjerat korupsi, menjadikan bangsa Indonesia tertinggal dengan negara lainnya, yang dimana negara lain tidak memikirkan lagu materi tetapi lebih cara membangun bangsanya lebih baik.

"Ini sudah era hati nurani pemerintah, kita itu dalam arti ilmu sudah tertinggal, orang sudah berbicara hati nurani dan membangun bangsa, tapi kita masih berbicara pada sasaran materi. Ini menunjukkan peradaban bangsa kita ini masih tertinggal dari bangsa lainnya dan itu faktanya," tuturnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno Berpeluang Dampingi Airlangga Hartarto di Pilpres 2024, Ini Alasannya

Dimana dari catatannya, sejak awal Februari hingga Oktober 2021 ini, sudah ada sekitar 5 hingga 6 kepala daerah di Indonesia yang ditangkat penegak hukum, mulai dari Bupati Probolinggo, Kutai Timur hingga Muba. Dimana, ini sangat berkaitan dengan Pilkada.

"Sesuai fakta, ada hitungannya kepala daerah dimana cost politik berhubungan langsung dengan kepala daerah, jadi tidak bisa dibohongi lagi, perhitungan bahwa money politik sangat berkaitan dengan sistem pelaksanaan Pilkada di Indonesia, dengan kata lain sudah melekat," bebernya.

Selain itu diungkapkan Adryan, diperlukan juga refleksi sitem pemilu Indonesia saat ini, karena orang- orang yang ditangkap baik OTT atau tidak oleh penegak hukum merupakan kepala daerah, yang dari sisi ekonomi sudah berkecukapan dalam hal materi.

Baca Juga: Golkar Bangli Turun Ke Lokasi Longsor Desa Trunyan, Sediakan Konsumsi Bagi Para Relawan

"Jadi mereka bukan tidak beruang, tapi tetap terlibat dalam transaksi uang, sehingga berhubungan dengan moral dan integritas kepemimpinan," tuturnya.

Hal kedua ditambahkan Adryan, orang yang ditangkap sangat terkait sekali dengan profil dinasti, baik Kabupaten Probolinggo (suami dan istri), Sulawesi (anak dan ayah) serta Sumsel (ayah dan bapak). Artinya, pernyataan ahli jika orang menguasai kekuasaan maka cenderung menguasai sumber ekonomi "membeli". Sebab, jika sudah menguasai ekonomi, ia bisa memaksakan membeli kekuasaan.

"Jadi, sebaiknya Golkar untuk merumuskan ciri- ciri pemimpin masyarakat yang baik kedepan, siapa saja jadi kader baik di dewan dan kepala daerah kriteria perlu dipertimbangkan lagi permasalahan moralnya. Jangan terukang lagi, dan partai Golkar harus menggodok lagi khususnya dalam hal moral. Kalau parpol tidak punya sumber keungan besar, maka saat ini akan terukang lagi," tandasnya.

Baca Juga: 11 Siswa MTS Ciamis Meninggal Saat Susur Sungai, Hetifah: Utamakan Keselamatan Saat Kegiatan Luar Sekolah

Mengenai sosok pengganti kedua tokoh Golkar Sumsel itu, ia menyakinkan pasti ada sosok yang tepat, dan ia pun tak menampik jika hampir semua parpol yang ada saat ini sudah terkontaminasi dengan uang, baik anggota dewan dan kepala daerah untuk mahar.

"Sebenarnya secara materi itu tidak bisa dihindari juga, karena parpol tidak punya mesin uang melainkan dari iuran anggotanya, sehingga terkadang terkena jebakan batman karena cost politik tinggi. Dari mana ia dapat sumber uang kalau tidak seperti itu (korupsi). Dan apa yang dilakukan anggota parpol dengan kerja ekstra yang dilakukan diluar batas- batas normal," pungkasnya.

Beberapa nama Figur kepemimpinan kedepan, beberapa trah seperti Ridho Yahya (Mawardi) dan Kahar Muzakir akan berusaha menjadi pemimpin partai berlambang pohon beringin tersebut. Meski begitu Adryan berharap ketua DPD Golkar Sumsel nanti tidak harus mereka yang saat ini memimpin atau jadi kepala daerah.

Baca Juga: Azyumardi Azra: Golkar Tingkatkan Political Marketing Di Era Medsos, Pakai Influencer Bukan Buzzer

"Soal sosok seperti Ridho Yahya (Walikota Prabumulih) bisa- bisa saja, tapi saya melihat banyak sosok Golkar berpotensial. Namun untuk ketua parpol menurut saya tidak hanya fokus ke kepala daerah saja tapi sosok yang bersih, karena citra kepala daerah itu sudah kurang baik, dan sulit melepaskan diri dengan kaitan uang- uang tadi, jadi kalau bisa jangan dari kepala daerah, tapi masyarakat yang mumpuni," tandasnya.

Apalagi dilanjutkan Adryan, Ketua parpol juga tidak selalu harus dicalonkada, meski Ridho punya kans justru sebaliknya dengan situasi saat ini jangan lebih baik jangan jadi ketua partai untuk konsen sebagai Walikota.

Sebab kalau tidak, citra partai untuk kepercayaan kepada masyarakat menurun tapi kalau pribadi tidak masalah. Coba lihat dari sosok Dodi itu merupakan Bupati paling menonjok di Sumsel karena banyak prestasi yang ditorehkan, termasuk kesejahreraan masyarakat Muba meningkat.

Baca Juga: Fraksi Golkar DPRD DKI Ajak Warga Jakarta Sambut Gembira Gelaran Formula E Tahun 2022

"Jadi perlu orang yang bermoral, karena ada saja tokoh masyarakat yang bagus tanpa mengeyampingkan tokoh lain, dimana saat ini ketua partai Golkar dan pemimpin Sumsel yang menonjol tertangkap penegak hukum, dan Golkar Sumsel perlu cari figur yang bersih dari masalah untuk memimpin. Jadi perlu figur bersih dan bagus sehingga partai dihormati maayarakat, jika tidak maka citra Golkar akan terus buruk," pungkasnya {palembang.tribunnews}

fokus berita : #Dodi Reza #Alex Noerdin