27 Oktober 2021

Kishore Mahbubani Dorong RI Aplikasikan Musyawarah-Mufakat Sebagai Presidensi G20

Berita Golkar - Akademisi dari Singapura, Profesor Kishore Mahbubani meyakini Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mampu membawa perubahan baik dalam peran Presidensi G20. Khisore mengusulkan Indonesia membawa prinsip musyawarah dan mufakat yang termaktub dalam pelaksanaan demokrasi Pancasila untuk diaplikasikan di G20.

Semua poin pemikiran itu disampaikan oleh Kishore dalam kuliah umum Golkar Institute bertema “Kepemimpinan Indonesia dalam G20: Tantangan Pascapandemi dan Harapan Negara Berkembang”, Rabu (27/10/2021).

Kishore mengatakan Presiden Jokowi merupakan presiden dengan elektabilitas terkuat di dunia yang mampu mempertahankan demokrasi dengan baik di negara sebesar Indonesia. “Jika kita lihat bagaimana negara-negara di dunia kesulitan, seperti Amerika Serikat dan Brasil, dalam mempertahankan demokrasinya, maka tidak demikian dengan Indonesia,” kata Kishore.

Baca Juga: Adrianus Asia Sidot Serahkan Peralatan Olahraga, Kepala SMA Karya Sekadau: Terima Kasih

Akademisi yang tenar dengan menyatakan Jokowi sebagai presiden jenius itu meyakini Indonesia merupakan negara yang bisa membawa G20 ke level yang lebih tinggi. “Sebab saya tahu, Indonesia mempunyai budaya musyawarah mufakat yang dibutuhkan G20,” ungkap Kishore.

Lebih lanjut Kishore menyebut G20 adalah salah satu badan yang penting di dunia dan ada peran yang bisa dimainkan Indonesia ketika menjadi Presidensi G20.

Kishore mengakui pada awalnya G20 dibentuk terkait kerjasama membahas ekonomi, dan akan ada satu sistem ekonomi yang terbentuk. Namun pada kenyataannya, tidak ada formula khusus dalam memilih negara anggota. Jika anggota G20 dipilih berdasarkan kekuatan ekonomi, maka harus ada kalkulasi tentang Gross National Product (GNP).

Baca Juga: KPPG Gandeng AMPG Gelar Pendidikan Politik Untuk Generasi Milenial di Kabupaten Gowa

Tapi G20 adalah badan yang sangat penting di dunia saat ini. Sebab kita bisa membayangkan hubungan antar manusia dengan manusia sekarang sudah tidak ada lagi sekat perbedaan. Tidak ada lagi manusia dalam perahu yang berbeda. “Maka negara-negara harus bekerjasama lewat institusi global seperti G20,” ungkapnya.

Dalam kuliah umum ini, Kishore menuturkan sejarah awalnya G20 dibentuk Amerika Serikat setelah krisis finansial tahun 2008. Kemudian Inggris mengajak sejumlah negara untuk bekerjasama dan bangkit dari krisis tersebut.

Setelah London Meeting itu berhasil, maka ekspektasinya meluas bahwa G20 dapat menyelesaiakan masalah global lainnya. Ada pertanyaan, mengapa tahun lalu saat pandemi mulai merebak G20 tidak mengajak negara-negara untuk bekerjasama dalam mengatasinya? Kenapa G20 tidak melakukan pertemuan?

Baca Juga: Tes PCR Menjamur Dan Mencekik Rakyat, Melki Laka Lena Minta Aparat Tindak Tegas Kecurangan Harga

“Ini terjadi karena ada konflik geopolitik antara Amerika dan Tiongkok, yakni dalam perang dagang. Perang antara Tiongkok dan Amerika ini bukan soal personel dari masing-masing presidennya, tapi terkait tekanan struktural,” jelasnya.

Kishore menyebut ada tiga hal dalam tekanan struktural yang dimaksud. Pertama terkait bangkitnya kekuatan ekonomi Tiongkok dan Amerika mencoba mencegah bangkitnya Tiongkok menjadi kekuatan global, hal ini wajar terjadi dalam geopolitik.

Kedua terkait perebutan pengaruh di Asia atau pear of the yellow peril. Ketiga adalah terkait konsensus bipartisan dari Amerika Serikat untuk kerjasama global. Amerika Serikat kecewa Tiongkok tidak menjadi negara demokrasi.

Baca Juga: Mukhtarudin Desak Pemerintah Genjot Vaksinasi COVID-19 Di Luar Jawa-Bali

Kishore menegaskan Indonesia perlu membawa budaya musyawarah mufakat yang menjadi ciri khasnya dan mengajak negara-negara untuk mencapai konsensus bersama.

“Jika kita bisa mendamaikan dua negara yang berseteru, maka itu menjadi pencapaian yang sangat besar. Seperti halnya saat Indonesia membawa isu musyawarah mufakat di ASEAN pada isu Malaysia dan Filipina,” kata Kishore. {beritasatu}

fokus berita : #Kishore Mahbubani